Para Santriwati Menangis Ketika Buaya Yang Ikut Mondok Di Pesantren Mbah Misbah Dijemput Pemerintah



Proses evakuasi buaya muara (Crocodilus porosus) milik Pondok Pesantren Mbah Misbah, Desa Temu Roso, Krasak, Demak, menyisakan pemandangan dramatis. Banyak santri di Pesantren tersebut, terutama yang perempuan menangis tidak rela melihat buaya yang ikut 'mondok' dibawa pergi oleh petugas Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah.

Para Santriwati Menangis Ketika Buaya Yang Ikut Mondok Di Pesantren Mbah Misbah Dijemput Pemerintah
PENAMPAKAN Buaya Besar di dalam Pesantren Mbah Misbah Krasak Demak. Kamis (9/2) Buaya sepanjang 3,1 meter itu dievakuasi BKSDA.


"Waktu dievakuasi banyak santri-santri perempuan yang memangis kehilangan. Karena mereka para santri sering ngasih makan buaya tersebut," Kata Kepala Kantor BKSDA Jateng, Suharman, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (9/2/2017).

Bahkan, ketika mobil BKSDA Jateng beranjak pergi meninggalkan Pesantren Al-Hidayat, ratusan santri di sana berbaris berbaris di halaman seolah keberatan buaya tersebut dievakuasi. "Menurut salah satu pengasuh, Kyai Haji Ahmad Baidlowi, buaya tersebut sudah seperti anggota keluarga pesantren," ujar Suharman menambahkan.

Buaya berkelamin betina itu kata Suharman sudah mondok di pesantren Mbah Misbah sejak tahun 2000. Binatang dengan nama latin crocodylus porosus tersebut memiliki bobot 300 kilogram dan panjang kurang lebih tiga meter.

Menurut Suharman, BKSDA Jateng akhirnya mengevakuasi buaya tersebut karena sesuai UU Nomor 5 tahun 1990 tentang KSDAE dan PP No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa merupakan binatang yang dilindungi. "Evaluasi dilakukan oleh sembilan orang petugas BKSDA Jateng dibantu Keeper buaya dari Taman Satwa Mangkang Semarang dan para santri yang ada di PP Al-Hidayat," kata Suharman. (sym)



loading...