Astagfirullah, Nginap Hotel Dekat Masjidil Haram Tapi Selalu Tunda Tawaf, Ini Akibatnya



Sering kita mendengar kisah jika pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji atau umroh, segala perbuatan tidak baik akan dibayar 'cash' atau mendapat teguran langsung dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Astagfirullah, Nginap Hotel Dekat Masjidil Haram Tapi Selalu Tunda Tawaf, Ini Akibatnya


Itulah salah satu cara Allah SWT menunjukkan kasih sayangnya kepada manusia, supaya mereka bertaubat dan menyadari dengan semua dosa serta kesalahan yang pernah dilakukan.

Seperti kisah nyata yang dibagi oleh seorang netizen bernama Abdul Wahid ini tentang perbuatannya yang ditegur langsung oleh Allah selama berada di Tanah Suci.

Semoga kisah ini bisa diambil hikmahnya dan menjadi pelajaran untuk kita semua agar tidak menunda niat yang baik terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan ibadah.

Pelajaran dan Pengalaman Ini Hanya Permulaan

Ini kisah saya sendiri di mana Allah membayar 'tunai' atas perbuatan saya. Balasan langsung dari Allah itu sekaligus untuk menyadarkan kesalahan yang saya perbuat.

Sesungguhnya Allah senantiasa menunjukkan hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dengan berbagai cara.

Pertama kali saya ke Makkah pada bulan Ramadhan tahun 2013 untuk menunaikan ibadah umroh. Tujuannya untuk belajar beribadah sekaligus mengalami sendiri bagaimana proses ibadah haji kecil itu.

Macam-macam hotel di Makkah telah saya coba, mulai dari yang paling murah hingga yang paling mahal. Termasuk pengalaman tidur di dalam Masjidil Haram, di mana badan tiba-tiba demam dan panas.

Sudah makan obat pereda panas serta membasahi kain ihrom dengan air zam-zam untuk menyejukkan diri dari demam panas. Namun pelajaran dan pengalaman tersebut tidak hanya berhenti di situ.

Pelajaran dan pengalaman yang paling berat adalah saat umrah pada akhir tahun 2016.

Saat akhir tahun 2016 lalu, saya berniat umroh dengan menginap di hotel bintang lima yang dekat sekali dengan masjidil Haram.

Mungkin karena nyaman berada di hotel tersebut, Akibatnya saya jarang shalat di Masjidil Haram. Kadang-kadang sempat shalat berjamaah di masjid, itupun hanya di halamannya saja. Padahal pintu utama masjid hanya berjarak 25 meter dari hotel tempat menginap di Makkah.

Setiap kali sampai di lobi hotel untuk niat tawaf sunnah, pasti lihat layar monitor yang ada di lobi hotel. Tujuannya untuk melihat apakah di sekitar Ka'bah sedang ramai atau tidak. Setiap kali lihat layar, Masya Allah ramainya jemaah yang sedang tawaf.

Akibatnya niat untuk tawaf sunnah selalu ditunda di lain waktu. Begitulah niat baik selalu saja ditunda setiap kali melihat layar monitor di lobi hotel. Dengan harapan ada waktu saat sekitar Ka'bah sepi sehingga bisa tawaf dengan 'nyaman' dan keinginan mencium Hajar Aswad bisa tercapai.

Akhirnya tibalah saat hari itu ketika jamaah yang tawaf sudah tidak terlalu ramai. `Peringatan` dari Allah itu pun Datang

Pada putaran pertama tawaf, hati ini tiba-tiba sangat gembira karena kawasan Ka'bah tidak terlalu ramai dan Hajar Aswad hanya beberapa langkah di depan mata. Perasaan hati gembir karena bisa tawaf sambil melihat Hajar Aswad.

Namun pada putaran keempat perasaan dalam hati ini tiba-tiba mulai berubah, dari gembira menjadi sedih. Sebab, walaupun Hajar Aswad hanya 2-3 langkah di depan mata untuk dicium, tetapi diri ini tak kuasa untuk mendekatinya.

Masuk ke putaran kelima, perasaan sedih berubah menjadi ketakutan. Kaki dan tangan mulai dingin bahkan sampai menggigil, sementara air mata bercucuran. Di telinga terasa ada yang berbisik menyadarkan kesalahan selama ini.

"Selama ini kamu mencari waktu senggang untuk tawaf demi Hajar Aswad. Sekarang, walaupun Hajar Aswad ada di depan mata, tapi kamu tak bisa berbuat apa-apa. Jangan lupa, segala yang terjadi bukan karena kehendakmu, tapi kehendak Allah SWT. Apa yang akan terjadi selalu atas izin Allah, bukan karena rencanamu."

Dengan air mata berderai dalam ketakutan, saya semakin jauh dari Hajar Aswad karena ribuan jamaah semakibn bertambah dan memenuhi tempat tawaf di sekitar Ka'bah. Saya pun akhirnya keluar dari Masjidil Haram dengan penuh keinsafan setelah mendapat balasan langsung dari Allah itu.

Dalam keadaan senantiasa beristigfar, saya teruskan perjalanan ke Madinah untuk memohon ampun dari Allah di masjidnya Rasulullah.

Jadi, hotel bintang lima yang dekat dengan Masjidil Haram jangan hanya dianggap sebagai tempat untuk tidur dan shopping di dalam hotel. Tetapi gunakan untuk menguatkan dan semakin mempersiapkan diri untuk fokus beribadah di dalam Masjidil Haram.

Kasihan kepada mereka yang penginapannya jauh dari Masjidil Haram. Mereka berjalan jauh-jauh agar bisa masuk ke dalam masjid suci itu demi mendapatkan pahala dan nikmat beribadah.

Baca Juga:




Jangan jadikan 'kenyamanan' hotel bintang 5 di Makkah sebagai alasan untuk tak mau beribadah ke Masjidil Haram. Semoga apa yang saya bagikan ini menjadi pelajaran kepada semua yang ingin beribadah di Tanah Suci.


loading...