Tinggal Di Bekas Kandang Kambing, Kondisi Keluarga Ini Sungguh Memprihatinkan



Banyak orang mengeluh karena memiliki tempat tinggal yang sederhana dan tidak besar. Padahal ada orang-orang yang kehidupannya jauh lebih susah dan tidak memiliki rumah yang layak huni. Salah satunya seperti yang diunggah oleh akun Facebook Arif Witanto.

Dalam unggahannya Arif menceritakan sebuah keluarga yang miskin di Madiun dan harus tinggal di sebuah bekas kandang kambing. Diketahui bahwa yang tinggal di dalamnya adalah seorang ibu bernama Sumini (37 tahun) dan dua anaknya yang sudah menginjak bangku sekolah.

Tinggal Di Bekas Kandang Kambing, Kondisi Keluarga Ini Sungguh Memprihatinkan

Rumah yang sangat jauh dari kata layak dan hanya berukuran 2 x 8 meter tersebut berada di RT 05 RW 01 Dusun Wates Desa Kebonagung Mejayan Madiun. Dilansir dari Surya Malang, kondisi yang dialami oleh keluarga ibu tersebut dikarenakan masalah ekonomi yang menghimpit. Ia sekeluarga pun telah menempatinya selama 5 tahun belakangan.

Sementara itu tidak jauh dari sana terdapat rumah mertua Sumini. Namun Sumini enggan tinggal di rumah mertua lantaran sering terjadi konflik. Ia pun ikhlas tinggal di rumah yang beralaskan tanah dan beratapkan genteng tanpa plafon serta berdindingkan anyaman bambu yang sudah lapuk.

“Kalau malam ya cuma pakai senter,” katanya, saat ditemui, Senin (16/01/2017).

Selain itu untuk mandi dan mencuci, Sumini membuat tempat di depan rumah dengan tanpa penghalang permanen. Ia hanya menancapkan batang bambu sebagai tahanan dan menjadikan bekas potongan karung sebagai dinding penghalangnya.

“Nggak punya WC, biasanya di sana (menunjuk kamar mandi milik tetangganya), kalau nggak di tegalan,” sambungnya.

Tak ayal dengan kondisi rumah yang demikian, membuat ia dan anak-anaknya harus merasakan genangan air ketika hujan dan gigitan nyamuk di malam hari.

Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, Sumini mengandalkan usaha menjadi buruh di kebun. Selain itu ia juga berjualan keripik tempe dan sayur-sayuran dengan menggunakan sepeda.

“Jual keripik tempe, peyek, sama bothok,” katanya.

Diungkapkannya bahwa keuntungan dari jualannya tidaklah menentu mulai dari 30 ribu hingga tidak dapat apa-apa dalam hari itu.

“Kadang sehari dapat Rp 30 ribu, kadang Rp 40 ribu, kalau pas sepi yang tidak dapat apa-apa,” kata Sumini.

Meski tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah setempat. Namun Sumini setiap bulannya mendapatkan jatah lima hingga sepuluh kilogram beras raskin yang harganya lebih murah.

Sementara itu sang suami yang bernama Sarbini (38 tahun) hanya bekerja sebagai sopir truk di pelabuhan Tanjung Priok Surabaya. Sama seperti dirinya, gaji suami pun tak menentu.

Baca Juga:





loading...