Petaka di Balik Karunia

Diposting pada

Berbagai bencana akhir-akhir ini kerap terjadi, banyak yang mengatakan bahwa bencana itu akibat dosa manusia. Ada pula yang menyimpulkan, itu terjadi karena dosa pemerintah yang dipenuhi pejabat fasik dan munafik.

Petaka di Balik Karunia

Mengambil kesimpulan semacam itu tidak salah karena umat terdahulu terkena bencana juga karena dosa. Namun pertanyaannya, kalau memang bencana itu karena dosa oknum pejabat, lantas mengapa bukan mereka yang diadzab? Mengapa bencananya justru di berbagai daerah yang jaraknya sekian ratus kilo dari mereka?

Pertanyaan serupa juga akan muncul kalau kita melihat kehidupan orang-orang kafir. Jika memang dosa bisa mengundang bencana, mengapa orang-orang kafir justru tampak terlihat semakin sukses dan sejahtera?

Bukankah dengan segala kekufuran dan kemaksiatan yang mereka lakukan, mereka jauh lebih layak tertimpa bencana dibanding Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim?

Atau ketika melihat para pengusaha yang karir dan usahanya semakin meningkat, padahal sholat, puasa dan membaca al Quran tak pernah ada dalam agenda harian mereka? atau para pelopor liberalisme yang merusak Islam luar dalam, mengapa mereka justru semakin terkenal dan dikagumi dimana-mana?

Jika kita masih bingung dengan jawabannya, barangkali kita lupa atau lalai bahwa plot kehidupan manusia tidak selalunya persis seperti alur dalam kisah umat terdahulu; Kaum ‘Aad, Tsamud, Sodom, atau Ashabul Aikah. Berdosa, diperingatkan, membangkang lalu diadzab dan habis semuanya.

Sudah merupakan sunnatullah bahwa perbuatan dosa pasti akan dibalas, kecuali rahmat dan ampunan Allah telah menghapusnya. Tapi tidak semua dosa dibayar kontan seketika. Ada sebuah skenario dan makar dari Allah yang justru membiarkan para pendosa semakin tenggelam dalam dosanya. Seperti balon yang terus ditiup agar semakin menggelembung lalu pecah dengan dahsyatnya.

Itulah yang dinamakan dengan istidraj. Sebuah makar yang Allah timpakan atas hamba yang berpaling dari peringatan dengan cara membiarkannya berbuat dosa, Allah memberi kesempatan usia dan waktu untuk bertaubat, membukakan pintu-pintu kenikmatan dunia berupa kesuksesan, rezeki yang melimpah bahkan diberikan tabir penutup atas kedurhakaannya. Sebuah makar yang secara perlahan tapi pasti akan menyeret si pendosa menuju siksa yang melebihi segala rasa sakit yang ada di dunia.

Sebuah makar yang benar-benar dahsyat. Allah memberi hidayah kepada siapapun yang dikehendaki-Nya, dan membiarkan sesat siapapun yang dikehendaki-Nya.

Sedang orang-orang yang terlena dengan istidraj, seakan-akan Allah memang tidak menghendaki mereka mendapat petunjuk. Bukankah rasa sayang anda akan membuat tangan menjewer telinga jika si kecil nekat melakukan tindakan berbahaya? bukan membiarkannya hingga si kecil pun celaka?

Adakah kita termasuk di dalamnya?

Untuk mengetahuinya, mudah saja. Kita simak riwayat shahih berikut ini:

Dari Uqbah bin Amir, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,

“Jika  kamu melihat  Allah terus saja memberi seorang hamba berbagai kenikmatan dunia yang disukainya, sedang hamba itu senantiasa bermaksiat kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya semua itu adalah istidraj dari Allah. Lalu Rasulullah membaca ayat: Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka gembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS. Al An’am:44)

Ciri-ciri orang yang dibuai istdraj adalah ketika nikmat terus saja melimpah padanya, padahal setiap hari perbuatan maksiat tak pernah absen dilakoninya.

“Kami kucuri mereka dengan nikmat dan kami buat mereka lupa bersyukur.” Kata Sufyan ats Tsauri. “Setiap kali melakukan kedurhakaan, kami tambah nikmat atas mereka dan kami lupakan mereka dari istighfar.” Kata Abu Rawaq.

Nikmat yang melimpah di atas dosa yang menggunung, akan menjadikan vonis di akhirat semakin berat. Sedang tenggang umur yang diberikan hanya akan memperpanjang daftar tuntutan dan mempersempit celah pembelaan. Naudzubillah, semoga kita tidak termasuk di dalamnya.

Banyak yang terjebak

Meskipun al Quran dan sabda Rasul telah memberitahukan makar ini dengan sangat jelas, namun tetap saja banyak manusia yang terjebak. Sebab, kebanyakan manusia menganggap bahwa karunia dan nikmat duniawi adalah kemuliaan dari Allah, sedang ketiadaannya adalah petaka dan murka dari-Nya. Persis seperti yang digambarkan dalam ayat berikut:

Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Rabbku telah memuliakanku”. (QS. 89:15)

Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Rabbku menghinakanku”. (QS. 89:16)

Karenanya, meskipun bermaksiat, banyak yang menyangka Allah sangat menyayanginya dengan pertanda nikmat dan karunia yang tiada putusnya. Memang, berbaik sangka pada Allah itu harus. Tapi jika kita merasa masih jauh dari sebutan hamba bertakwa, maka terhadap limpahan nikmat, selain bersyukur kita juga harus waspada. Jangan sampai terlena karena makar istidraj datang dari arah yang tidak disangka-sangka.Ulama berkata, “Setiap nikmat yang tidak membuat kita semakin dekat dengan Allah, sejatinya adalah siksa, dan segala anugerah yang memalingkan kita dari Allah hakikatnya adalah bencana.”

Al Hasan al Bashri berkata, “Orang mukmin melakukan kebaikan sembari berharap-harap cemas, sedang pendosa melakukan kedurhakaan dan merasa dirinya aman.”

Wallahu A’lam.

Loading...