Perdebatan Di Kamar Kos Hantarkan Penyanyi Ini Memeluk Islam

Diposting pada

Islam merupakan agama yang rasional sehingga sangat masuk akal bagi siapa saja yang merenungkannya. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh seorang penyanyi cantik bernama Iga Mawarni. Ia mendapatkan hidayah masuk Islam setelah berdebat dengan temannya di sebuah kamar kos di bilangan Depok Jawa Barat tahun 1993.

Mahasiswa Sastra Belanda Universitas Indonesia (UI) ini memang sering melakukan debat dan masing-masing menyampaikan pendapat mengenai keyakinannya. Perdebatan itu pun melahirkan rasa kepenasaran dalam diri Iga Mawarni dan membuatnya mengambil sebuah keputusan yang sangat penting.

Perdebatan Di Kamar Kos Hantarkan Penyanyi Ini Memeluk Islam

Penyanyi berdarah Solo yang lahir di Bogor ini tanpa dipengaruhi oleh pihak ketiga akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kepercayaannya dahulu dan memeluk Islam melalui pendekatan yang rasional serta sepenuh hati.

Keyakinan itu pun muncul bukan lantaran sesuatu seperti mendengarkan adzan sehingga membuat hatinya bergetar, melainkan murni karena sebuah perdebatan.

Setelah berikrar menjadi seorang muslim, kini yang menjadi pikirannya adalah bagaimana cara untuk menyampaikan hal tersebut kepada pihak keluarga. Pasalnya ibu dan ayahnya tidak akan rela jika seorang anak berkhianat terhadap agama mereka.

Benar saja, orangtuanya menjauhi setelah Iga menerangkan bahwa dirinya menjadi seorang mualaf. Meski demikian ia tetap bersikukuh untuk menjaga rasa hormat mengingat orangtualah yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.

Perlakuan yang sangat terasa adalah dari keluarganya di Solo yang sudah tidak lagi ramah. Bahkan hubungan komunikasi maupun biaya hidup untuk kuliah nyaris putus. Namun ternyata Allah memberikan rezeki dari jalan yang lain dan Iga memutuskan untuk bekerja part time sebagai seorang penyanyi. Sejak saat itu tawaran menyanyi pun semakin mengalir.

Selama 7 tahun ia harus saling menjaga jarak dengan keluarga. Bahkan ia pernah disebut anak tersesat. Meski dicaci, Iga tetap berusaha menikmatinya dengan terus memperdalam ilmu lewat membaca Qur’an dan buku penunjang lainnya.

Keteguhan imannya pun menghantarkan Iga bertemu dengan sang suami yang bernama Charlie R Arifin. Pria itu merupakan sosok yang shaleh, setia dan memiliki masa depan. Dengan demikian, keyakinan Iga semakin bertambah untuk memeluk islam dengan tulus.

Setelah menikah, Iga tak lagi harus sendirian melaksanakan shalat ataupun puasa. Terlebih ketika dikaruniai seorang anak yang bernama Rajasa. Maka lengkaplah sudah kehidupan Iga bersama keluarga untuk melaksanakan ibadah.

Harapan agar keluarga bisa mengikuti akhirnya muncul setelah sang adik kandung mengikuti jejaknya menjadi seorang mualaf.

Baca Juga:

Loading...