Kisah Sahabat Nabi Yang Paling Banyak Meriwayatkan Hadits, Menangis Tersedu-sedu Karena Hal Ini

Diposting pada

Di antara sekian sahabat Nabi, Abu Hurairah lah satu-satunya sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadits. Padahal, ia hanya hidup bersama Nabi hanya sekitar empat tahun.

Kisah Sahabat Nabi Yang Paling Banyak Meriwayatkan Hadits, Menangis Tersedu-sedu Karena Hal Ini

Abu Hurairah yang bernama asli Abdurrahman bin Shakhr adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Baqi bin Mikhlad mentahrijkan hadis Abu Hurairah sebanyak 5374 Hadis. Di antara jumlah tersebut 352 hadis disepakati oleh Bukhori Muslim, 93 hadis diriwayatkan oleh Bukhori sendiri dan 189 hadis diriwayatkan oleh Muslim sendiri. Menurut keterangan Ibn Jauzi dalam Talqih Fuhumi al Atsar bahwa hadis yang diriwayatkannya sebanyak 5374, tapi menurut al Kirmani berjumlah 5364 dan barada dalam Musnad Ahmad terdapat 3848 buah hadis.

Nabi sendirilah yang menjulukinya Abu Hurairah, ketika beliau melihatnya membawa seekor kucing kecil. Julukan dari Nabi itu semata karena kecintaan beliau kepadanya sehingga jarang ada orang memanggilnya dengan nama sebenarnya yaitu Abdurrahman bin Sakhir yang berasal dari bani Daus bin Adnan. Abu Hurairah memeluk islam pada tahun tujuh hijriyah yaitu pada tahun terjadinya perang Khoibar dan meninggal di Aqiq pada tahun 57 H. demikian menurut pendapat yang kuat.

Ia adalah sahabat Nabi yang sangat zuhud sehingga rela  menggunakan seluruh waktunya untuk beribadah di masjid. Tiap hari ia selalu bermunajat kepada Allah sehingga Nabi tak lupa untuk mendoakannya secara khusus,

Allah ternyata mengabulkan doa Nabi agar Abu Hurairah dianugerahi hafalan yang kuat. Ia memang paling banyak hafalannya di antara para sahabat. Imam Bukhori, Muslim dan at Tirmidzi mentakhrijkan sebuah hadis darinya bahwa ia pernah berkata “aku pernah mengadu kepada Rasulullah, wahai utusan Allah aku pernah mendengar banyak darimu tetapi aku tidak hafal. Rasulullah bersabda, bentangkanlah selendangmu, akupun membentangkannya lalu Rasulullah menceritakan banyak hadis kepadaku dan aku tidak melupakan sedikitpun apa yang beliau ceritakan kepadaku.”

Fakta ini membuktikan betapa dekatnya sahabat Abu Hurairah dengan Nabi. Dari ketekunannya mengikuti kajian di berbagai majelis Rasulullah, ia tak hanya mendengar dan bertanya, namun juga mencatat serta menghafal semua yang ia dapat dari Rasulullah. Iniah yang menyebabkan Abu Hurairah termasuk dalam jajaran sahabat yang utama, dan namanya terus disebut hingga sekarang karena banyaknya hadits yang diriwayatkannya.

Dengan kadalaman wawasan mengenai perilaku, ucapan dan kepribadian Rasulullah, rasanya sangat mustahil membayangkan Abu Hurairah sebagai sahabat dengan kualitas ibadah dan amal kebaikan hanya di level rata-rata. Apalagi, Abu Hurairah bukan hanya menjadi pendengar dan penghafal yang baik namun juga peneladan Rasulullah yang ketat.

Kendati demikian, seperti karakter para sahabat Nabi yang lain, prestasi ibadah dan kualitas diri tak membuat Abu Hurairah menjadi angkuh dan lalai. Ibarat tanaman padi, makin berisi makin merunduk, demikian pula yang ada dalam diri Abu Hurairah. Semakin tinggi dan luas keilmuannya, semakin tampak baginya kekurangan dalam dirinya.

Seperti yang diceritakan Salim ibn Bisyr ibn Jahal. Suatu ketika sahabat Abu Hurairah yang sedang sakit menangis. Apa yang membuat ia menangis hingga tersedu-sedu? Penyakit yang ia deritakah? Kehilangan benda yang ia milikikah?

“Aku tidak sedang menangisi dunia ini,” jawabnya seperti dikisahkan dalam kitab Raudlah Azzaahidin karya Abdul Malik Ali al-Kalib  ketika menjelaskan bab taqwa.

Abu Hurairah menjelaskan bahwa ia tengah menangisi nasib perjalananya di akhirat kelak. Ia merasa perbekalan hidupnya masih sedikit. Dengan kenyataan begini, Abu Hurairah membayangkan bakal naik turun antara surga dan neraka. “Aku tidak tahu, manakah tempat yang saya singgahi nanti?”

Jika Abu Hurairah yang “lengket” dengan Nabi saja merasa tidak merasa memiliki kepastian nasib di akhirat kelak, lantas bagaimana dengan orang-orang yang levelnya jauh dibawah beliau?

Di sinilah kita bisa menyerap pelajaran bahwa tak seorang pun bisa mengklaim sudah berada di zona nyaman kehidupan akhirat, sebagaimana tak bisa juga orang menuduh orang lain berada dalam masa depan buruk di hari kemudian. Bagaimana mungkin kita bisa memberi jaminan nasib akhirat sementara kekuasaan itu hanya Allah yang memiliki? Yang bisa dilakukan manusia sebatas ikhtiar menjadi sebaik mungkin, sembari terus mengoreksi kekurangan diri sendiri lalu berusaha memperbaikinya. Wallahu A’lam (Mahbib/NU)

Loading...