Ibu Suka Pamer Materi Dan Hobi Datangi 'Orang Pintar'. Sebagai Anak, Apa Yang Harus Saya Lakukan?

Ibu Suka Pamer Materi Dan Hobi Datangi 'Orang Pintar'. Sebagai Anak, Apa Yang Harus Saya Lakukan?

author photo
Selamat pagi rekan kabarmakkah.com sekalian, saya salah satu pembaca setia situs ini dan karena itu ada hal yang ingin saya tanyakan dengan harapan dapat dibantu diberikan pencerahan.

Apabila ibu kandung saya merupakan seorang yang selalu suudzon dan terkadang ada sedikit sifat riya dalam menceritakan hal hal materi serta mempercayai 'orang pintar', Dan saya sebagai anak juga sudah menasehati beliau namun tidak pernah diindahkan dan malah saya disebut durhaka karena membantah dan menasehati beliau.

Apakah kiranya yang dapat saya perbuat? Dan apakah memang benar tujuan saya mengingatkan memang durhaka sebagai anak?

Terimakasih mohon bantu pencerahannya

EP Bandung

Ibu Suka Pamer Materi Dan Hobi Datangi 'Orang Pintar'. Sebagai Anak, Apa Yang Harus Saya Lakukan?
Ilustrasi


Alhamdulillah bini'matihi tatimmushaalihaat,

Saudaraku Baarakallahu fiik, Semoga Allah memberkahi ikhtiar Anda dalam menyadarkan ibu Anda ke jalan yang yang diridhoi Allah, Aamiin.

Hidayah merupakan hak prerogratif Allah. Manusia hanya disuruh untuk mengajak dan berdakwah menuju jalan-Nya dan tidak ada paksaan bagi orang lain untuk mengikuti ajakannya. Terkadang orang tuanya baik dan beriman, namun anaknya durhaka dan kemudian kafir, sebagaimana yang terjadi pada keluarga Nabi Nuh. Terkadang pula anaknya saleh dan beriman, tetapi orang tuanya durhaka dan musyrik, seperti yang dialami oleh Nabi Ibrahim dan ayahnya Azar. Oleh karena itu, tidak heran jika fenomena seperti ini sering terjadi pada masyarakat, dari zaman dulu sampai sekarang. Permasalahannya, bagaimana sikap seorang anak yang saleh dan beriman jika menghadapi orang tua yang durhaka, musyrik, atau kafir. Apakah ia harus tetap berbakti kepada keduanya, mendoakannya, dan menuruti titahnya, atau tidak?

Islam adalah agama penyebar rahmat untuk seluruh alam (rahmatan lil alamin). Meskipun seseorang telah mengingkarinya, tetapi haknya sebagai makhluk Allah tetap ada secara proporsional. Dalam hal ini, Islam membatasi sampai di mana perintah orang tua yang musyrik itu dituruti oleh anaknya, dan kapan seorang anak dikategorikan durhaka jika ia membangkang titah orang tuanya.

Pada prinsipnya setiap titah orang tuanya harus ditaati. Tetapi jika mengarah pada kemusyrikan, baik secara langsung maupun tidak langsung, maka si anak tidak durhaka untuk menolaknya, bahkan wajib tidak menaatinya. Karena hidayah Allah sangat berharga melebihi segala-galanya. Demikian pula, para dasarnya setiap hal yang dilarang orang tua harus dijauhi oleh si anak. Kecuali jika larangan itu bertentangan dengan syariat. Misalnya orang tua melarang shalat, belajar agama, dan puasa, maka si anak tidak durhaka untuk membangkangnya, bahkan diwajibkan untuk tidak taat kepadanya.

Kendati demikian, si anak tetap harus menjaga etika pergaulan dan sopan santun dihadapan orang tuanya, sehingga hubungan dia dengan keduanya tidak berbuntut ketegangan. Allah mengingatkan hamba-hambaNya agar senantiasa berbuat baik kepada kedua orang tua meskipun keyakinan mereka berbeda, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

Artinya: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik...” (QS. Luqman,31:15)

Dalam sebuah riwayat diceritakan, Asma binti Abu Bakar as-Shiddiq ra pernah dikunjungi oleh ibunya yang musyrik. Ia saat itu bimbang, apakah harus berbuat baik kepadanya atau mengacuhkannya. Akhirnya ia memutuskan untuk menanyakan hal itu kepada Rasulullah saw. Maka ditemukan jawaban bahwa ia harus tetap memperlakukan ibunya dengan baik, meskipun ibunya itu seorang musyrik. Teks hadits tersebut lengkapnya sebagai berikut:

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَتْ قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ وَهِيَ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُ أُمِّي ؟ قَالَ: نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ

Artinya: Riwayat dari Asma` binti Abi Bakar ra menuturkan, “Ibuku yang musyrik, pada masa Rasulullah, datang mengunjungiku. Maka aku meminta fatwa kepada Rasulullah. “Ibuku adalah orang yang tidak senang dengan agama Islam. Apakah aku boleh menemuinya?” Rasul menjawab, “Temuilah ibumu!” (HR. al-Bukhari: No. 2427 dan Muslim: No. 1671)

Berbuat baik kepada orang yang berlainan keyakinan ini tidak terbatas hanya kepada orang tua. Kerabat dan tetangga pun harus diperlakukan dengan baik selagi mereka mau berdamai dan tidak menyatakan konfrontasi dengan kaum muslimin. Hal ini dijelaskan di dalam al-Qur’an:

لاَ يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Artinya: “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. al-Mumtahanah, 60:8)

Berbakti kepada orang tua merupakan salah satu dari tiga amal yang paling disukai Allah. Kedua amal yang lain sebagaimana dijelaskan hadits di bawah ini adalah shalat tepat waktunya dan jihad di jalan Allah. Selengkapnya, hadits tersebut adalah:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بنِ مَسْعُودٍ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّه؟ قَالَ الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا، قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ، قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، قُلْتُ حَدَّثَنِي بِهِنَّ وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي

Artinya: Riwayat dari Abdullah bin Mas’ud menuturkan, “Aku bertanya kepada Nabi saw. “Perbuatan apa yang paling dicintai Allah?” Rasul menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” “Kemudian apa?” tanyaku lagi. Beliau menjawab, “Berbakti kepada orang tua.” “Apa lagi?” sambungku. Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillah.” (HR. al-Bukhari: No. 496 dan Muslim: No.122)

Bahkan Allah sendiri menegaskan dalam Al Qur'an, Bahwa kewajiban berbakti kepada orangtua adalah kewajiban kedua setelah menyembah-Nya, Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat berikut,



وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا


“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya, dan ucapkanlah kepadanya ucapan yang mulia.” [Al-Isra : 23]



وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا


“Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukanNya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak…..” [An-Nisa : 36]

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا


“Dan Kami wajibkan kepada manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya..” [Al-Ankabut : 8]


Apalagi jika orang tua tersebut merupakan ibu kandung yang notabene derajatnya tiga tingkat dibanding ayah. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam,

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kupergauli dengan baik?” Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?” “Ibumu”, jawab beliau. “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”, jawab beliau. “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Kemudian ayahmu”, jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 6447)

Dan dalam keadaan apapun, Wajib bagi Anda untuk tetap berbakti dan berbuat baik kepada-Nya,

وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik”

Saudaraku, memperingatkan orangtua yang berada di jalan yang salah termasuk perbuatan shaleh, Justru hal ini harus dilakukan sebagai bentuk kasih sayang anak terhadap orang tua.

Namun perlu dicatat; Tak perlu memperingatkan mereka dengan cara kasar dan sengit -walaupun orangtua berbuat syirik-, harus dengan cara yang baik dan ucapan yang lembut sebagaimana disebut dalam ayat diatas.

Sebagai contoh adalah dakwah Nabiyullah Ibrahim ‘Alaihissalaam kepada orang tuanya. Beliau senantiasa mendakwahkan dengan kata-kata yang lemah lembut. Dakwah kepada orang tua yang musyrik (menyembah berhala) saja harus dilakukan dengan kata-kata lemah lembut, terlebih lagi jika orang tua tidak menyembah berhala tetapi masih suka melakukan amalan yang melenceng, harus didakwahkan dengan kata-kata lebih lemah lembut lagi.

Sikap Nabi Ibrahim terhadap orangtuanya yang musyrik dapat dilihat dalam surat Maryam ayat 41-48.

Ceritakanlah wahai Muhammad kisah Ibrahim di dalam kitab Al-Qur’an, sesungguh dia seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi” Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, “Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak bisa mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu sedikitpun juga” “Wahai bapakku sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu. Maka ikutilah aku niscaya aku akan menunjukkan kamu ke jalan yang lurus” “Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaithan sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah” “Wahai bapakku, sesungguh aku khawatir kamu akan ditimpa adzab dari Allah Yang Maha Pemurah maka kamu menjadi kawan bagi syaitah” Berkata bapaknya, “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku hai Ibrahim jika kamu tidak berhenti niscaya akan aku rajam dan tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama” Ibrahim berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Allah sesungguh Dia sangat baik kepadaku” “Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yg engkau seru selain Allah dan aku akan berdo’a kepada Rabb-ku mudah-mudahan aku tidak kecewa dengan berdo’a kepada Rabb-ku” (QS. Maryam ayat 41-48)

Bimbing dan tuntunlah ia ke jalan hidayah, Kewajiban anda adalah terus mendoakannya agar mendapatkan hidayah Allah. Berdoalah kepada Allah di waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa. Mintalah agar Allah melimpahkan hidayah kepadanya, melindunginya dari godaan setan, memberinya rahmat, agar ia diberi taufiq untuk menjalankan perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya.

Wajib bagi anda untuk bersabar dan memperlakukannya dengan baik serta mendoakan agar ia mendapatkan hidayah. Hendaknya anda juga mengusahakan cara-cara yang bisa menjadi sebab datangnya hidayah, misalnya dengan berbicara baik-baik kepada ibu Anda, menyarankan saudara-saudara mereka, teman dan kerabat baiknya untuk menasehatinya. atau cara-cara baik yang lain. Semoga Allah membalas kebaikan anda dan memberikan hasil yang baik bagi anda. Aamiin.


Next article Next Post
Previous article Previous Post