Masih Diduga Makar, 10 Orang Ini Ditangkap, Ahok Yang Sudah Tersangka Kok Bebas Berkeliaran?

Diposting pada

Pihak Polri baru-baru ini menangkap 10 orang karena dianggap melakukan makar atau penggulingan pemerintahan yang sah. Siapa saja 10 nama itu?

“Ada 10 orang yang ditangkap,” ujar Kabagpenum Mabes Polri Kombes Martinus Sitompul dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (2/12/2016).

Mereka ditangkap antara pukul 03.00 sampai pukul 06.00 WIB. Delapan orang di antaranya dikenai Pasal 107 juncto Pasal 110 juncto Pasal 87 KUHP. Sementara dua orang lain dikenai pasal dalam UU ITE.

“Saat ini mereka sudah diamankan dan dilakukan pemeriksaan terhadapnya di Mako Brimob Kelapa Dua. Penyidik Polda Metro Jaya mengamankan di sana untuk dilakukan pemeriksaan,” Martinus.

Sejak siang tadi tersebar infomasi di kalangan wartawan mengenai indentitas 10 orang yang diduga makar tersebut, yaitu:

1. Ahmad Dhani
2. Eko
3. Adityawarman
4. Kivlan Zein
5. Firza Huzein
6. Rachmawati Soekarnoputri
7. Ratna Sarumpaet
8. Sri Bintang Pamungkas
9. Jamran
10. Rizal Kobar

Ketika dikonfirmasi Martinus tak membantah. “Yang beredar itu benar,” ujar Martinus.

Sedangkan Karopenmas Mabes Polri Kombes Rikwanto juga menolak merinci identitas lengkap mereka yang ditangkap. Dia hanya menyebutkan inisial yang cocok dengan data di atas.

“Inisial saja AD, E, AD, KZ, FH, RA, RS, SB, JA, dan RK,” kata Rikwanto.

Masih Diduga Makar, 10 Orang Ini Ditangkap, Ahok Yang Sudah Tersangka Kok Bebas Berkeliaran?
Diduga Makar, Kivlan Zen Ditangkap di Rumahnya Usai Salat Subuh

Sementara itu, Rachmawati Soekarnoputri mengatakan dirinya sudah diperlakukan tidak adil oleh polisi.

Usai ditangkap karena tuduhan makar, Rachma masih menunggu di salah satu ruang di Gegana Mako Brimob Kelapadua, Depok, Jumat (2/12/2016).

Saat ini tekanan darah Rachma menurut hasil pemeriksaan tim kesehatan Mako Brimob mencapai 230/110.

Rachma ingin menghubungi dokternya namun tidak bisa karena handphone yang dimilikinya masih disita.

“Saya merasa diperlakukan tidak adil. Seolah-olah saya ini teroris,” ujar Rachma seperti disampaikan jurubicaranya, Teguh Santosa, dilansir rmol.co.

Rachma juga membandingkan perlakuan polisi terhadap dirinya dengan perlakuan polisi terhadap Basuki Tjahaja Purnama yang sudah jelas-jelas jadi tersangka.

“Sungguh memprihatinkan. Menurut dokter kepolisian keadaan Mbak Rachma sudah emergensi, dan harus dirawat,” demikian Teguh.

Rachmawati tidak sendiri. Dia ditangkap bersama sejumlah tokoh nasional dan aktivis seperti Kivlan Zen, Sri Bintang Pamungkas, Ratna Sarumpaet dan lain-lain.

Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Arief Poyuono kepada wartawan ketika dihubungi, Jumat (2/12/2016) menilai tindakan tersebut sangat berlebihan dan sangat kontraproduktif dengan era demokrasi seperti sekarang ini.

“Ya kalau tuduhannya makar harus dibuktikan dulu. Tapi ini kalau dilakukan penangkapan bisa disebut sebagai sebuah kemunduran demokrasi,” jelasnya.

Penangkapan tersebut menurutnya justru akan semakin mengakibatkan keadaan politik nasional ke depan akan semakin tidak kondusif.

“Dan ini bisa berimbas pada perlawanan mirip perlawanan terhadap Soeharto di era orde baru,” katanya.

Sebenarnya, lanjut dia, Rachmawati dkk sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk makar kepada pemerintah. Pasalnya mereka tidak memiliki senjata ataupun kekuatan politik untuk menggulingkan pemerintahan Jokowi-JK.

“Apa mereka bersenjata dan apakah mereka punya kekuatan politik untuk gulingkan Joko Widodo sebagai Presiden yang sah dan konstitusional?” tanya Arief.

Penangkapan yang dilakukan polisi terhadap 10 orang tersebut menurutnya hanyalah sebagai langkah pengamanan agar mereka tidak ikut dalam Aksi Bela Islam III “Aksi 212” hari ini.

“Saya harap polisi juga tidak perlulah memproses sebagai sebuah tindakan makar dari mereka. Dan harapan saya polisi cepat membebaskan mereka dan saya harap Aksi 212 bukan untuk aksi menurunkan Joko Widodo,” tukas Arief.

Sementara itu Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menyesalkan penangkapan Rachmawati Soekarnoputri dan sejumlah tokoh aktivis lainnya atas tuduhan makar.

“Saya prihatin. Ahok saja sudah tersangka tidak ditangkap. Ini kenapa yang belum ada bukti sudah ditangkap,” tutur Hidayat di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Jumat (2/12).

Ia menyebut ini suatu kemunduran hukum. Menurutnya, kepolisian harus segera mengklarifikasi penangkapan 10 orang yang diduga makar ini.

“Mereka tidak berniat makar untuk menggulingkan pemerintah, tapi mereka ditangkap,” kata dia.

Loading...