Hati-Hati! Cincin Kawin Pun Bisa Menjadi Sumber Kesyirikan



Salah satu bukti nyata terikatnya seseorang dalam pernikahan adalah adanya cincin di jari setiap pasangan suami istri. Sebagian masyarakat pun beranggapan bahwa cincin kawin bisa menjadi pengikat hati diantara suami istri. Padahal islam tak sedikit pun mengajarkan akan kepercayaan tersebut.

Bahkan ada orang yang merasa khawatir pernikahannya tidak akan berlangsung lama ketika mendapati cincin kawinnya telah hilang entah kemana. Mereka pun akan sibuk mencari keberadaan cincin tersebut dan tidak yakin akan kuasa Allah yang mempersatukan hati mereka.

Hati-Hati! Cincin Kawin Pun Bisa Menjadi Sumber Kesyirikan

Sangatlah percuma mereka yang berkeyakinan bahwa cincin kawin bisa melanggengkan pernikahan, sementara suami suka main perempuan dan sang istri tidak mampu menjaga kehormatannya.

Tak hanya itu saja, sejumlah ulama atau tokoh masyarakat juga sering memberikan pesan untuk menjaga cincin perkawinan jika ingin rumah tangga yang dibangun bisa langgeng. Hal ini justru termasuk keyakinan jahiliyah, sebagaimana yang disebutkan dalam Fatwa Islam.

Cincin kawin, bukan termasuk tradisi dalam islam (sejak masa silam). Cincin kawin dipakai ketika pernikahan. Jika orang yang memakai berkeyakinan bahwa cincin menjadi sebab kelestarian cinta antara suami istri, dan jika dilepas atau tidak dipakai bisa mempengaruhi keberlangsungan keluarga, maka ini termasuk kesyirikan. Dan termasuk keyakinan jahiliyah. (Fatwa Islam, no. 21441)

Dengan begitu maka tidak ada masalah ketika seorang suami atau istri menjual cincin pernikahan mereka karena cincin hanyalah sebuah cincin. Tidak akan berkurang rezeki ataupun cinta hanya karena cincin yang hilang atau dijual. Bahkan keberadaan cincin pun tidak menjamin keberlangsungan rumah tangga seseorang.

Karenanya bagi seorang muslim hendaknya tidak memiliki keyakinan tersebut karena bisa menyebabkan kemusyrikan dan ketergantungan hati.

Dari Abdullah bin Ukaim Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,"Siapa yang bergantung kepada sesuatu, dia akan dipasrahkan kepadanya." (HR. Ahmad 18781, Turmudzi 2214 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Dengan demikian pikiran suami istri tersebut akan terus tercurahkan kepada benda tersebut dan merasakan kekhawatiran ketika kehilangannya. Mereka pun menjadi semakin yakin ketika rumah tangganya hancur setelah cincin tersebut hilang atau rusak.

Semoga kita semua tidak menggantungkan keyakinan kita kepada suatu barang atau benda karena dengan begitu sama saja kita telah menyekutukan Allah yang menjadi tempat bergantung semua keyakinan makhluk-Nya. Wallahu A’lam

Baca Juga:





Loading...