Umat Islam jangan Gunakan Kata 'RIP'




UCAPAN "RIP" dinilai merupakan budaya non-Muslim, yang tidak seharusnya diikuti umat Islam.

Umat Islam jangan Gunakan Kata 'RIP'


Ketua Departemen Pembangunan Agama Islam Malaysia Datuk Othman Mustapha mengimbau agar masyarakat Muslim tidak menggunakan kata "Rest in Peace" (RIP) seperti yang dilakukan Non-Muslim ketika ada yang meninggal dunia.

Alasannya, ia menilai bahwa kalimat tersebut memiliki implikasi dari sudut akidah sekiranya tidak dipahami secara jelas. Sebab, ucapan itu, lanjut Othman, merupakan budaya keagamaan umat lain, yang tidak seharusnya diikuti umat Islam.

"Dalam konteks ucapan Rest in Peace, ini merupakan bentuk ucapan doa yang biasa diucapkan dalam agama Kristen, terutama dalam mazhab Katolik sejak abad ke-18," katanya seperti dikutip dari Free Malaysia Today beberapa waktu lalu.

Kalimat itu juga biasanya diukir di batu nisan mereka yang telah meninggal dunia dalam kalangan masyarakat Kristen. "Versi ucapan tersebut berasal dari bahasa Latin, yakni May his soul and the souls of all the departed faithful by Gods mercy rest in peace. Kalimat ini juga mendoakan Non-Muslim tersebut agar mendapat rahmat dari Tuhan sebagaimana doa asal yang disebut dalam bahasa Latin," lanjutnya.

Ucapan Othman ini menindaklanjuti sebuah fatwa Malaysia yang telah dilansir dalam laman Facebooknya berkenaan munculnya isu ucapan tersebut dan menimbulkan perdebatan berbagai pihak.

Hukum dan nasihat

Othman menjelaskan, Fatwa Malaysia dalam laman FB itu merupakan penjelasan hukum dan nasihat yang diberikan Felo Fatwa berdasarkan kemudharatan dan persoalan yang dikemukakan masyarakat umum, dan bukan fatwa yang dikeluarkan Komite Fatwa Nasional.

Ia menambahkan, Islam melarang umatnya mendoakan ampunan bagi non-Muslim seperti yang dijelaskan dalam Alquran, Surah Taubah, ayat 113 dan dinyatakan juga oleh Imam an-Nawawi dalam Kitab al-Majmu.

Bagaimana pun, dalam masyarakat yang memegang teguh agama seperti Malaysia, Islam tidak melarang umatnya mengucapkan rasa simpati terhadap keluarga non-Muslim yang meninggal dunia dengan ucapan yang tidak memberi implikasi keagamaan seperti saya bersimpati terhadap apa yang menimpa Anda, katanya.

"Panduan hukum yang diberikan mengenai Rest in Peace ini bukan merupakan fatwa, tetapi perlu dijadikan panduan oleh umat Islam. Karena panduan ini berdasarkan nas-nas yang jelas selaras dengan hukum syariat," katanya.

Othman juga menasihatkan semua pihak agar tidak mempolemikkan isu itu karena pandangan hukum yang dikeluarkan adalah sebagai panduan dan nasihat khusus kepada umat Islam dan sama sekali tidak berkaitan dengan unsur-unsur penghinaan atau meniadakan hak asasi manusia, siapapun atau pihak manapun


Larangan Tasyabuh (menyerupai) Golongan Kafir

Saudaraku janganlah meniru, mengagumi dan mengikuti orang-orang kafir. Karena Allah sangat benci dan murka terhadap orang-orang kafir. Sangatlah tidak pantas jika kita ikut-ikutan orang kafir seperti ikut merayakan natal, tahun baru masehi, valentine, sistem ekonomi liberal, pluralisme, sekurilisme, dan demokrasi sebagai ideologi, atau gaya hidup yang lain. Kebanyakan dari kaum muslim mengikuti orang-orang kafir tanpa mereka sadari.

Rasulullah sudah mengingatkan dalam sabdanya, “Sungguh kamu benar-benar akan mengikuti cara hidup orang-orang sebelumnya, sejengkal demi sejengkal, sehingga seandainya mereka itu masuk ke lubang biawak, pasti kamu akan mengikuti juga. Para sahabat bertanya; “Apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani? Jawab Rasulullah saw, siapa lagi kalau bukan mereka (HR Muslim)

Allah berfirman, Wahai Muhammad, apakah belum datang saatnya bagi seorang mukmin, hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah dan mematuhi Al-Qur’an. Orang-orang mukmin jangan mengikuti jejak kaum Yahudi dan Nasrani yang diberi Taurat dan Injil sebelumnya kemudian mereka merubah isinya. Kaum Yahudi dan Nasrani telah melalui masa yang panjang mereka banyak berbuat dosa sehingga hati mereka manjadi keras. Sebagian besar dari umat Yahudi dan Nasrani menjadi orang yang menyimpang dari Taurat dan Injil (QS Hadiid [57]16)

Rasulullah shallalahu alahi wa sallam melarang hal-hal yang menyerupai urusan orang kafir. Sewaktu Rasulullah saw musyawarah dengan para sahabat tentang bagaiamana caranya, mengumpulkan manusia untuk melakukan sholat, ada yang usul dengan cara meniup terompet. Rasulullah tidak setuju sebab itu menyerupai perbuatan orang Yahudi. Kemudian ada yang usul dengan cara memukul lonceng. Rasulullah juga tidak setuju, sebab itu perbuatan orang Nasrani. Sampai akhir pertemuan masih belum sepakat. Besoknya Abdullah bin Zaid bin Abdul Rabbuh sewaktu tidur diajar seseorang kalimat adzan, setelah itu dia sampaikan kepada Rasulullah saw dan beliau menyetujuinya.

Rasulullah juga melarang, shalat di saat terbit serta terbenam matahari, sebab di saat itu orang-orang kafir sedang menyembah matahari.

Rasulullah juga melarang shalat dengan berselimut kain, sebab itu menyerupai ibadah orang Yahudi (HR Al-Baihaqi)

Rasulullah juga bersabda, Perbedaan antara puasa kita dan puasanya orang ahli kitab adalah makan sahur (HR Muslim)

Rasulullah shallalahu alai wa sallam puasa hati Asyura yakni tangal 10 Muharram, beliau juga memerintahkan para sahabat puasa di hari itu, tetapi setelah beliau mengetahui orang Yahudi dan Nasrani mengagungkan hari itu dan berpuasa juga di hari itu, maka beliau bersabda. Insya Allah tahun depan kita akan puasa tanggal 9 Muharram. Rasulullah tidak sampai tahun depan, beliau meninggal dunia

Rasulullah bersabda, “Cukurlah kumis dan peliharalah jenggot (HR Muslim)

Beliau juga bersabda, “Potonglah kumis dan lebatkan jenggot dan kami harus menyelisihi orang Majusi“ (HR Muslim)

Kamu memberi salam seperti salamnya orang Yahudi, bahwasanya salam mereka itu dengan mengangguk kepala dan tepuk tangan dan isyarat (HR Nasa’i)

Bersihkan halaman rumahmu dan janganlah kamu menyerupai orang Yahudi (HR Tirmizi)

Barangsiapa yang menyerupai kaum, maka dia adalah termasuk golongan mereka (HR Abu Dawud)

Dengan dalil-dalil di atas menunjukkan, bahwa menyelisihi orang kafir dan meninggalkan perbuatan yang menyerupai mereka adalah di antara tujuan syariat Islam. Maka hendaknya umat Islam, baik laki-laki atau perempuan supaya tetap komitmen terhadap ajaran agamanya. Termasuk tidak menggunakan kata RIP sebagai ganti dari Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun.

Orang-orang kafir ingin agar orang Muslim meninggalkan Al-Qur’an, tidak memahami Al-Qura’an tidak mau membaca terjemahan dan tafsir Al-Qur’an dan mengamalkannya sehingga tidak ada keinginan lagi untuk dakwah, amar maruf nahi munkar, jihad dan untuk menegakkan syariat Islam. Allah berfirman

“Orang-orang kafir berkata: “Janganlah kalian dengarkan Al-Qur’an ini. Hendaklah kalian buat keributan supaya kalian dapat mengalahkan suara bacaan Al-Qur’an.” Karena itu, sungguh Kami akan menimpakan adzab yang berat kepada orang-orang kafir. Di akhirat Kami akan berikan balasan yang lebih buruk daripada dosa yang mereka lakukan di dunia. Begitulah balasan neraka bagi musuh-musuh Allah. Mereka kekal di dalam neraka, sebagai hukuman atas pengingkaran mereka kepada Al-Qur’an.” (QS. Fusshilat, 41: 26-28)

Wahai orang-orang mukmin sebagian besar kaum Yahudi dan Nasrani menginginkan kalian menjadi kafir setelah kalian beriman. (QS AL-Baqarah[2]109)

Wallahu A'lam.




loading...

close ini