Pasar Dunia vs Pasar Akhirat




Dalam sebuah majelis, Syekh Yahya bin Hamzah al-Yamani pernah memberikan nasehat tentang beberapa hal yang menjadikan kerja dan usaha menjadi barokah, penuh hikmah dan tak mengantarkan pada resah dan gelisah serta susah.

Pasar Dunia vs Pasar Akhirat


Pembahasan seperti ini selalu saja menarik. Bukan hanya jamaah yang tertarik, sayapun selalu senang menyampaikannya.

Salah satu nasehatnya adalah: "Jangan sampai sibukmu bekerja di pasar melenakan dan menghalangimu dari sibuk di pasar akhirat." nasehat pendek ini sungguh "nendang banget" alias "nusuk sekali."

Pasar akhirat yang dimaksud adalah masjid, majelis pengajian, madrasah, mushalla dan semua tempat yang lazim mengingatkan kita pada urusan akhirat. Tak begitu ramai pasar akhirat ini walau sudah berulangkali disampaikan dalil bahwa kehidupan akhirat adalah kekal sementara kehidupan dunia hanya sementara saja.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kekhusyukan kita di tempat kerja tidaklah sebanding dengan keseriusan kita di tempat ibadah. Banyak orang begitu menikmati keliling pasar, mall atau pertokoan namun begitu berat ketika berjalan menuju tempat-tempat ibadah. Alasan pembenar selalu saja bisa dibuat secara rasional, namun sepi dari pertimbangan rasa atau hati.

Bukan hanya satu nasehat sang Syekh, ada banyak nasehat lainnya yang ulasannya membutuhkan banyak perenungan. Semua nasehatnya begitu mengagumkan. Majelis pengajian adalah pasar akhirat. Biasanya tidak begitu ramai kecuali oleh orang-orang yang ingin bahagia di dalam kehidupan akhirat.