Jika Kefakiran Dekat Dengan Kekufuran, Mengapa Rasulullah Minta Diwafatkan Dalam Keadaan Miskin?




Terkadang secara terjemahan bebas terdapat pertentangan antara hadist yang satu dengan hadist yang lainnya sehingga membuat bingung umat muslim, terutama yang masih awam tentang ilmu agama. Salah satunya tentang kefakiran atau kemiskinan yang bisa mendekatkan kepada kekufuran. Namun dalam hadist lain disebutkan bahwa Rasulullah selalu berdoa agar diwafatkan dalam keadaan miskin dan dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang miskin. Bagaimana menyikapi kedua hadist tersebut?

Jika Kefakiran Dekat Dengan Kekufuran, Mengapa Rasulullah Minta Diwafatkan Dalam Keadaan Miskin?

Ketahuilah bahwa hadist yang menyatakan kefakiran menyebabkan kekufuran memiliki derajat hadist yang lemah atau dhaif sehingga tidak bisa digunakan sebagai hujjah. Sementara hadist yang menyatakan Rasulullah ingin mati dalam keadaan miskin ada dalam hadist dari Abu Said Al Khudri.

Rasulullah bersabda, “Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan matikanlah aku dalam keadaan miskin serta kumpulkanlah aku dalam rombongan orang-orang miskin.” (HR Ibnu Majah, Hadist Hasan)

Pengertian arti miskin yang sebenarnya dalam hadist tersebut bukanlah miskin dalam harta, melainkan memiliki makna tawadhu dan rendah hati. Hal ini telah dijelaskan oleh ulama ahli hadist maupun ahli bahasa.

Imam Baihaqi berkata, “Menurut saya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak bermaksud meminta keadaan miskin yang berarti kurang harta tetapi miskin yang berarti tawadhu dan rendah hati.” (Dinukil dan disetujui oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Al Talkhis Habir 3:1108)

Sementara Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Maksud Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah tawadhu (rendah hati) dan agar tidak termasuk orang-orang yang sombong dan angkuh.”

Wallahu A’lam

Baca Juga:







loading...