Cara Menjadi Kaya & Bahagia Menurut Islam




Kekayaan selalu menjadi pembahasan yang menarik untuk diperbincangkan. Sedikit sekali penghuni dunia ini yang tidak ingin kaya dalam hidupnya. Hidup kaya bisa dikatakan impian setiap orang.

Kesuksesan seseorang baru diakui jika dia sudah menjadi orang kaya yang hartanya berlimpah. Keberhasilan pendidikan juga sering dilihat dari sejauh mana hasil pendidikan itu dapat mengantarkan peserta didiknya menjadi orang kaya.

Cara Menjadi Kaya & Bahagia Menurut Islam


Lawan dari kaya adalah miskin. Seseorang disebut kaya karena memiliki banyak harta. Yang minim harta, disebut orang miskin. Dengan begitu, kekayaan selalu diidentikkan dengan segala hal yang berbau materi atau benda.

Punya rumah megah, uang banyak, mobil mewah berderet, pakaian necis, dan tanah luas adalah di antara simbol orang kaya. Orang miskin berarti kebalikan dari semua itu.

Tidak usah kita berdebat tentang definisi yang sudah sekian lama diamini secara luas itu. Sekiranya definisi itu dianggap benar, kebenarannya tentu tidak mutlak. Definisi demikian dimensinya serba fisik. Tidak ada kewajiban bagi kita untuk menerimanya.

Saya teringat penuturan Rasulullah ketika mendefinisikan siapa gerangan orang kaya itu. Menurut Rasulullah, seperti dikutip Bukhari dan Muslim, “Bukanlah yang dinamakan kaya itu karena banyak harta, tetapi yang dinamakan kaya sebenarnya adalah kayanya jiwa.”

Mencermati makna hadis di atas, kita segera mendapatkan pemahaman bahwa Rasulullah ternyata memiliki definisi berbeda dengan kebanyakan kita tentang siapa orang kaya. Barangkali hadits itu akan lebih mudah dipahami ketika kita mengaitkannya dengan daftar orang terkaya di dunia tahun 2013, sebagaimana dirilis majalah Forbes.

Keluarga Budi Hartono, pemilik BCA dan Djarum, memiliki harta 8,5 miliar dolar AS. Michael Hartono memiliki harta 8,2 miliar dolar AS. Dua orang ini jelas lebih kaya tinimbang kita. Menurut Forbes, mereka menduduki peringkat pertama dan kedua daftar orang terkaya di Indonesia. Tetapi, ternyata mereka tidak ada apa-apanya jika dibanding Carlos Slim Helu dan Bill Gates. Harta Carlos Slim Helu, CEO Telefonos de Mexico dan America Movil, mencapai 73 triliun dolar AS, sementara Bill Gates, yang mantan CEO Microsoft, memiliki harta 67 miliar dolar AS.

Banyaknya harta tidak pernah akan ada puncaknya. Di atas orang kaya, selalu ada orang yang lebih kaya. Di sini berlaku rumus relativitas. Fulan yang tergolong orang kaya di sini, belum tentu kaya di sana. Fulanah yang termasuk miskin di suatu tempat, justru dia orang paling kaya di tempat lain. Demikian pula seterusnya. Tegasnya, tidak ada orang yang paling kaya, sebagaimana juga tidak ditemukan orang yang paling miskin.

Penting pula dicatat, definisi kaya atau miskin semacam itu sesungguhnya muncul dari orang luar. Pelakunya sendiri kerap tidak merasakan apakah dia kaya atau miskin. Karena, kebanyakan orang masih saja merasa kurang. Meskipun orang bilang kita ini sudah kaya, tetapi senyatanya kita juga tidak merasa kelebihan harta. Selalu saja kita merasa miskin dan kurang.

Apalagi jika definisi kaya atau miskin itu dikaitkan dengan unsur diri yang bernama keinginan dan kebutuhan. Misalnya, petani desa yang saban hari mengantongi uang lima juta, dia boleh dibilang kaya. Berbeda halnya dengan seorang artis. Uang sejumlah itu tentu tidak dapat mendefinisikan dirinya sebagai orang kaya. Ini soal keinginan dan kebutuhan. Gaya hidup petani desa umumnya tidak menelan uang jutaan dalam sehari. Sementara, tuntutan profesi artis mengharuskan pelakunya untuk selalu tampil mewah dan mahal, sebagaimana rekan sesama artis.

Benarlah, Islam tidak mendefinisikan kaya atau miskin dengan kepemilikan benda. Definisi serba fisik itu sangat memusingkan. Karena itu, Islam sendiri menegaskan bahwa, kekayaan sejati itu ada di dada. Menjadi kaya atau miskin itu murni soal mental. Inilah definisi berdimensi batin.

Analoginya sederhana. Orang yang lapang dada selalu merasa kaya, meskipun minim harta. Sebaliknya, orang yang bermental miskin selalu merasa kurang, meskipun menggenggam emas segudang. Pikirannya mengawang di langit harapan, berusaha menjangkau segala yang belum digenggam tangan. Hidup berselimut harta tetapi tampil bagai pecundang.

Alangkah bahagia kehidupan orang yang hati, jiwa, dan pikirannya selalu merasa kaya. Mensyukuri nikmat yang ada tanpa terus mengangankan segala yang dipunyai orang. Harta sekadarnya selalu digunakan untuk memacu amal baik dan ibadah. Batinnya tenang, karena tidak diperbudak dunia, tetapi justru merajai dunia. Rasulullah memuji pribadi demikian. “Sungguh berbahagia orang yang masuk agama Islam dan diberi rezeki cukup, serta dikaruniai Allah sifat qana’ah atas segala yang diberikan kepadanya.” (HR Muslim).

Berbagai penyimpangan menyeruak di segala tempat adalah bukti ketidakmampuan orang untuk merajai dunia. Juga kebejatan moral yang berkecambah dan memperburuk sendi-sendi kehidupan. Mereka itulah orang miskin dalam makna sesungguhnya. Fisiknya mapan tetapi batinnya gersang, karena tidak pernah merasa kenyang oleh kuantitas harta. Kembali renungkan penegasan Rasulullah berikut.

“Bukanlah orang miskin itu orang yang berkeliling mendatangi rumah ke rumah lalu ditolak ketika meminta sebiji atau dua biji kurma, atau ketika meminta sesuap atau dua suap makanan. Tetapi orang miskin yang sebenarnya adalah orang yang tidak pernah memiliki kekayaan untuk mencukupi keperluannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Sungguh beruntung siapa saja yang dikaruniai Allah kelapangan harta sekaligus batin yang selalu menerima, gemar bersedekah, sehingga hidup selalu diliputi berkah dan jauh dari bencana.  (Penulis Buku ‘Menemukan Bahagia’.  Email: hus_surya06@yahoo.co.id)

Cara Menjadi Kaya & Bahagia Menurut Islam

Ada kisah pembicaraan seorang ibu dengan anaknya perihal kebiasaan ibunya yang suka memasak berlebihan.

“Mak, kita kan sekarang cuma tinggal berdua, kenapa emak tetap masak banyak tiap hari? Dulu waktu kita masih komplit berenam aja emak masaknya selalu lebih. Lebih baik dikurangi, agar bisa ngirit..” kataku dengan mulut penuh makanan.

Sambil membenahi letak kayu bakar di tungku, emak menjawab, “Biar aja to..””Mubazir, mak. Kayak kita ini orang kaya aja..” sahutku.

“apa iya mubazir? Mana buktinya?” tanya emak kalem. Kadang aku benci melihat gaya kalem emak itu. Kalo sudah begitu, ujung-ujungnya pasti aku bakal kalah argumen.

“Lha itu?, tiap hari kan emak bagi-bagikan ke tetangga-tetangga to? Orang-orang yang lewat mau ke pasar itu juga?” aku ngeyel.

“Itu namanya sedekah, bukan mubazir.. Anak sekolah kok ga bisa  bedakan  sedekah dan barang kebuang..”

“Sedekah kok setiap hari! Seperti orang kaya saja mak maaak!” nadaku mulai tinggi.

“Ukuran kaya itu apa?” Tanya emak “ukuranya lebih lebih selalu punya apa-apa kan …” “Lha aku punya makanan lebih lebih, memang aku kaya, makanya aku biasa ngasih ngasih”. Tangannya yang legam dengan kulit yang makin keriput menyeka peluh di pelipisnya.

Lalu emak menggeser kursinya, menghadap persis di depanku. Aku terdiam sambil meneruskan makanku, kehilangan selera untuk berdebat.

“Le, kita ini sudah dapat jatah rezeki masing-masing, tapi kewajiban kita kurang lebih sama: sebisa mungkin memberi buat lainnya. Kaya itu keluasan hatimu untuk memberi, bukan saoalnya kamu mengumpulkan segala macam harta. Kalau nunggu harta numpuk, pada saat mau memberi karena diliputi  rasa butuh makanya kamu tidak akan pernah ikhlas memberi.

Emakkmu ini kaya , setiap harinya punya makanan lebih lebih, jadinya bisa memberi dan memang harus memberi. Perkara emakmu ini ga punya banyak harta  itu bukanlah ukuran. Yang penting kitanya tidak kapiran, bisa makan, hidup dan ibadah. Kamu bisa sekolah jadi orang,  apa gak hebat pemberian Allah itu, mengingat emak ini orang gak punya dan tidak sekolah. emak tersenyum adem.

“Iya, iyaa..”

“Kamu mau Tanya kenapa  aku masak banyak setiap harikan?”

“He eh.”

“Begini, nak, dulu nenekmu ngajari aku begini: Mut, kalo masak itu dilebihin, paling tidak dibanyakin kuahnya apa nasinya…eh siapa tau ada tetangga kiri kanan  atau kedatangan tamu dari jauh atau anaknya yang lapar malam-malam kan paling tidak ada nasi sama kuah juga sudah cukup.

“Karena itu , emakmu ini jadi kebiasaan dari kecil nyediakan kendi didepan rumah untuk orang-orang yang liwat dan masak banyak siapa tahu ada tetatangga yang membutuhkan. Memang niatnya sudah begitu jadi tidak ada yang namanya buang buang makanan. . Paham?”

Aku diam. Kucuci tanganku di air baskom bekas emak mencuci sayuran. Aku bangkit dari kursiku di depan tungku, mengecup kening keriput emakku, terus berlalu masuk kamar.

Ah, emak. Perempuan yang tidak pernah mengenyam bangku sekolahan dan menurutku miskin itu hanya belajar dari emaknya sendiri dan dari kehidupan, dan dia bisa begitu menghayati dan menikmati cintanya kepada sesamanya dg caranya sendiri. Sementara aku, manusia modern yang bangga belajar kapitalisme dgn segala hitung2an untung rugi, selalu khawatir akan hidup kekurangan, lupa bhw ada Tuhan yang menjamin hidup setiap mahluk yang bernyawa. emakku benar: Ternyata kaya itu kemampuan hati untuk memberi dan berbagi pada yang lain, bukan soal mengumpulkan untuk diri sendiri.

Renungkan kisah hikmah diatas dan jadilah orang kaya sekarang juga agar bisa merasakan bahagia!