Rajin Berdoa Tapi Tak Kunjung Dikabulkan? Mungkin 10 Hal Ini Penyebabnya!




Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan permohonan kalian.” (Ghafir: 60)

Sesungguhnya Allah ta’ala malu bila seorang hamba membentangkan kedua tangannya untuk memohon kebaikan kepada-Nya, lalu Ia mengembalikan kedua tangan hamba itu dalam keadaan hampa/gagal.” (HR. Ahmad (5/438), dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1757)

Dalil di atas barangkali tidak begitu asing di perkupingan kita, ihwal janji Allah mengabulkan segala doa yang di ajukan oleh hamba – hambanya yang menampung seuntai harap dan kasih darinya. Agaknya kita tak sekali dua kali berdoa, kita telah bersungguh – sungguh, kita telah yaqin janji Allah itu akan benar adanya.

Namun tetiba barangkali ranah hatimu di rundung rasa dilematis, tatkala doa yang telah kau dzikir – dzikirkan siang malam sejak lama itu, tak kunjung memperoleh jawaban dariNya. Lantas apakah kita akan menganggap doa yang telah kita lantun – lantunkan itu sia – sia, hingga kita hendak berputus asa dari rahmatNya?

Akankah kita berfikir, bahwa wejangan yang di lontarkannya berabad silam itu hanya dusta belaka?  Saudaraku, setidaknya sebelum kita menaruh prasangka buruk terhadapnya, ada baiknya kita evaluasi diri terlebih dahulu. Agaknya gerangan apa yang menyebabkan doa – doa yang telah kita lafadzkan hari – hari ini tak kunjung di kabulkan?

Rajin Berdoa Tapi Tak Kunjung Dikabulkan? Mungkin 10 Hal Ini Penyebabnya!


Rajin Berdoa Tapi Tak Kunjung Dikabulkan? Mungkin 10 Hal Ini Penyebabnya!

Diriwayatkan bahwa Ibrahim bin Adham melewati pasar kota Bashrah, lalu banyak orang berkumpul mengelilinginya. Mereka bertanya, “Wahai Abu Ishaq, mengapa doa kami tidak dikabulkan?, Lantas, Ibrahim bin Adham menjawab, “Karena hati kamu mati disebabkan sepuluh perkara:”

Pertama, kamu mengetahui Allah tetapi enggan melaksanakan haknya.

Sebagaimana yang kita ketahui, Allah selaku Raja Semesta Alam, selaku sang empunya jiwa kita yang merapuh ini, memiliki senarai hak yang patutnya kita kerjakan. Seyogyanya kita penuhi haknya dengan menyembah hanya kepada diriNya, dalam hal ini, jangan sampai kita syirik.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu siapa yang dikehendaki-Nya . Barang siapa yang telah mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah, berbuat dosa yang besar (Q.S An-nisa 36)

Kedua, kamu nyatakan bahwa kamu mencintai Rasulullah, akan tetapi kamu meninggalkan Sunnahnya.

Agaknya kita komat – kamit melantunkan shalawat kepada Nabi, kita berkoar mencintai dan merindukannya, kita mafhum dan mengagumi akhlak dan lelakunya, lisan kita berkata ingin bertatap muka dengannya. Akan tetapi kita mengabaikan sabda - sabdanya, kita meninggalkan segenap sunnahnya. Sadarkah kita akan hal itu?

Ketiga, kamu membaca Al-Quran, akan tetapi kamu tidak mengamalkannya.

Hari – hari kita tak pernah lepas dan jauh dari sisi Al Qur’an, lidah kita gencar melantunkan lafadz – lafadznya, sebagian dari isinya bahkan telah kita hafal di luar kepala. Tiap malam menjelang, bibir basah membacanya. Namun agaknya kita lengah bahwa Al Quran sarat gizi dan kandungan yang patutnya kita pelajari, untuk kita amalkan. Akankah Allah mewahyukan kepada umat satu kitab Al Quran yang sedemikian mulia itu hanya untuk kita baca saja tiap malam? Sejatinya Allah anugerahkan kitab suci itu bukan lain untuk di jadikan pedoman dan pandangan hidup, sebagai pegangan supaya kita mengamalkan segenap ibrah dan wejangan yang termaktub di dalamnya.

Keempat, kamu makan nikmat Allah, akan tetapi kamu tidak bersyukur.

Allah anugerahi kita mata, hidung, tangan, kaki, pendengaran yang sempurna. Allah bentangkan hamparan tanah dan samudera yang menyediakan segala hal yang kita butuhkan. Allah sediakan oksigen yang kita hirup hari – hari gratis tanpa mengharap bayaran atau imbalan. Adakah kita masih mengingkari nikmat – nakmatnya itu? Adakah kita gelisah karena tergiur dengan keindahan duniawi yang melenakan? Akankah kita sudi menukar kedua tangan kita ini dengan bongkahan berlian. Akankah kita sudi menukar kedua mata kita ini dengan segunung emas. Akankah kita sudi menukar kedua kaki kita ini dengan butir – butir mutiara. Kita hidup di antara limpahan nikmatNya yang meruah, namun kita acapkali masih menuntut hal – hal lain yang sejatinya membuai sementara.

Kelima, kamu katakan bahwa setan itu musuh kamu, tapi kamu tidak menentangnya.

Tak bisa kita pungkiri, bahwa kita semua mafhum setan adalah musuh terbesar Adam hingga keturunannya. Kita mafhum ialah makhluk yang senantiasa menggoda manusia bukan lain supaya kita terpelanting dalam jurang bara apinya. Namun kita lengah bahwa kita masih mengamini segenap rayuannya. Coba bayangkan sejenak, agaknya hari ini dosa apa saja yang telah kita perbuat? Berarti sudah berapa kali agaknya hari ini setan berhasil menyesatkan kita?

Keenam, kamu katakan bahwa surga itu benar, tapi kamu tidak berusaha untuk mendapatkannya.

Tak ada yang bisa berdalih dari keindahan surga, tak ada yang mampu mengingkari senarai keagungan dan kebahagiaan yang meliputi segenap isinya. Kita semua tahu bagaimana jalan menemui surgaNya, namun barangkali kita teroleng – oleng oleh segala kemilau perhiasan melenakan yang terpampang di setiap ruas perjalanannya, agaknya perhatian kita lebih banyak teralih oleh nafsu keindahan duniawi, hingga menukiklah langkah kaki kita dari jalan yang di ridhoiNya.

Ketujuh, kamu katakan bahwa neraka itu benar, akan tetapi kamu tidak lari darinya.

Kita tahu kepedihan dan kesengsaraan yang menimpa ahli neraka. Kita pun bergidik ngeri dan takut kalau terperosok ke dalamnya. Akan tetapi kita lengah bahwasanya langkah kita begitu lemah untuk melawan arus kenikmatan duniawi dan rayuan setan. Adakah demikian?

Kedelapan, kamu katakan bahwa kematian itu benar, akan tetapi kamu tidak mempersiapkan diri untuknya.

Kita mafhum mengenai suatu keniscayaan yang akan menimpa tiap – tiap jiwa yang hidup, yakni kematian. Kita pun memahami adanya kehidupan setelahnya, yakni nikmat kubur atau siksa kubur, surga atau neraka. Namun kita tidak segera menyadari dan tergerak hatinya untuk bergegas menyiapkan bekal kafilah setelah kematian kita nanti.

Kesembilan, kamu bangun tidur, kamu sibuk dengan aib orang lain dan kamu lupa dengan aib kamu sendiri.

Begitu banyak kelemahan dan kekurangan yang menyandera jiwa kita ini, namun agaknya mata hati kita tertutup untuk menyaksikan kenyataan itu. Agaknya kita lebih sibuk mengamati kekurangan orang lain, memperbincangkannya dan membicarakannya, hingga kita tak memiliki segenap waktu untuk memperbaiki diri kita sendiri.

Kesepuluh, kamu mengubur mayat, akan tetapi kamu tidak mengambil pelajaran darinya.

Pernah kita saksikan secara kasat mata, jasad saudara kita yang telah meninggal itu di kubur dan di satukan dengan tanah. Ia akan sendirian disana, menghadap Rabb dan malaikatnya untuk menjalani masa penantian yang begitu panjang. Bagi insan yang beramal baik, tentu masa penantian itu akan menjadi masa yang begitu menggembirakan, sebaliknya bagi insan yang beramal buruk selama hayat, maka masa penantian itu akan menjadi masa yang menyengsarakan bagi dirinya. Mengenai hal itu, akankah kita memetik senarai hikmah atau pelajaran supaya tidak sampai kepada kita masa siksa kubur yang di liputi rentetan siksa dan kenelangsaan.

Kita memohon kepada Allah dalam setiap kesulitan. Kemudian kita melupakannya ketika kesulitan itu disingkirkan. Bagaimana kita mengharapkan doa akan terkabul. Kita telah menutup jalannya dengan dosa-dosa.

Astaghfirullah...




loading...