Lakukan Proyek Akhirat, Tukang Parkir Ini Bangunkan Sekolah Islam Gratis Untuk Anak Tak Mampu




Membuat kebaikan tak hanya bisa dilakukan oleh segelintir orang saja. Bahkan mereka yang dikatakan masyarakat rendahan pun justru membuat semua orang kagum. Salah satunya adalah Undang Suryaman (39 tahun) yang bekerja sebagai seorang tukang parkir di kawasan kampus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran.

Tukang parkir yang akrab disapa Jek ini terbilang berani membangun TK dan TPA gratis, meski penghasilannya pas-pasan. Kemuliaan hati Jek memang berbeda jauh dengan pandangan sejumlah orang yang menyamakan seorang tukang parkir dengan mereka yang menghabiskan hidup di jalanan dan senang berkelahi.

Lakukan Proyek Akhirat, Tukang Parkir Ini Bangunkan Sekolah Islam Gratis Untuk Anak Tak Mampu

Ternyata Jek justru memberikan sebuah sikap layaknya mereka yang sekolah di perguruan tinggi. Bahkan ia memiliki pandangan yang luas kedepan untuk bisa mencerdaskan masyarakat.
Ide awal Jek membangun sekolah gratis tersebut bermula ketika sering melihat banyak anak-anak yang tidak bersekolah lantaran tak memiliki biaya ataupun membantu orangtuanya bekerja.

“Saya tanya mereka, bukan tidak mau sekolah tapi orangtuanya tidak punya biaya untuk menyekolahkan,” ucap Jek, sebagaimana dikutip dari Dream.

Sekolah yang sudah beroperasi selama 4 tahun dan bernama TK-TPA Al Raudatul Jannah ini berlokasi di Kampung Babakan Loak 03/12 Rancaekek Kabupaten Bandung.

Awalnya ia mulai mendidik anak-anak di masjid usai menjalani aktivitasnya sebagai tukang parkir. Karena banyaknya orangtua yang mempercayakan anaknya kepada Jek dan masjid yang sudah tidak dapat menampung mereka, Jek pun memutuskan untuk menyewa sebuah rumah yang tidak jauh dari masjid sebagai tempat anak-anak belajar.

“Tapi setelah berjalan beberapa tahun, saya khawatir tidak sanggup membayar uang sewa, jadi pindah ke rumah mertua saya,” tuturnya.

Meski berada di rumah mertuanya, Jek mengaku tak ingin apa yang dilakukannya menjadi beban mertuanya. Karenanya ia setiap tahunnya membayar uang sewa sebesar 2,5 juta dan itu keluar dari kantong pribadinya.

“Kalau saya tidak bayar ke mertua kan tidak enak, masalahnya masih ada adik-adik istri saya dan keluarga lainnya. Untuk menjaga kepercayaan dan silaturahmi, saya tetap bayar kontrakan ke mertua,” lanjutnya.

Dirinya menuturkan bahwa pemilihan rumah mertua sebagai tempat belajar anak-anak adalah agar bisa longgar dalam pembayaran dan tidak seketat dengan orang lain.

“Jadi apabila belum ada uang waktu pembayarannya kan bisa sedikit diulur,” ungkapnya.

Sementara untuk keperluan pembelajaran, dirinya hanya bisa memberikan fasilitas seadanya dan tidak mengambil sedikit pun untung dari hal tersebut. Bahkan justru semua fasilitas seperti buku iqra dan buku lainnya ia beli dari uang pribadinya.

“Semuanya mengalir begitu saja asal semua kebutuhan untuk belajar anak-anak sekolah tercukupi,” ujar Jek.

Jek sendiri merupakan ayah dari empat orang anak. Meski begitu ia selalu merasa cukup dan selalu ada jalan ketika mengalami kebutuhan yang mendesak.

“Saya tidak tahu, uangnya pasti ada. Jalannya pasti ada, pokoknya kita yakin,” kenang Jek.

Sementara itu dari penghasilannya sebagai tukang parkir, Jek hanya mendapatkan uang 50 ribu per hari. Uang itu pun ia bagi-bagi untuk keluarga dan sekolah yang ia dirikan.

Setelah cukup lama berjalan, Jek pun mendapatkan guru sukarelawan dari para alumni Unpad. Bahkan ada juga yang masih berstatus sebagai mahasiswa.

Atas kerja kerasnya, ia pun mendapatkan bantuan dari para orangtua murid yang mau membayar iuran sebesar 25 ribu perbulan. Meski demikian Jek tidak menetapkan keharusan bagi para orangtua jika memang tidak mampu.

Tak hanya dari orangtua murid, sekolah gratis yang didirikan Jek juga mendapatkan bantuan dari para alumni Unpad yang menggalang dana untuk keberlangsungan sekolah tersebut.

Baca Juga: