Kuat Menahan Amarah, Lelaki Ini Akhirnya Diangkat Menjadi Nabi dan Utusan Allah




Syahdan terdapat suatu negeri bernama Rom. Negeri tersebut memiliki seorang raja yang bernama Raja Ilyasa. Ia telah beranjak tua sementara ia tak punya seorang keturunan pun sehingga ia pun tak memiliki calon pengganti yang kelak dapat meneruskan tongkat kepemimpinannya. Ia pun bimbang hati siapakah yang layak dan pantas menggantikan posisinya. Namun kendati demikian ia tak langsung kehilangan akal. Lantas ia menunjuk salah seorang yang agaknya pantas untuk menggantikan posisinya, ia tunjuk orang itu dalam masa sementara saja untuk ia amati kira – kira apa yang akan pengganti itu kerjakan tatkala menjadi penguasa.

Kuat Menahan Amarah, Lelaki Ini Akhirnya Diangkat Menjadi Nabi dan Utusan Allah


Untuk menentukan siapa penggantinya tersebut, ia membuat sayembara, segera ia perintahkan seluruh bawahannya untuk mengumpulkan rakyatnya dan menyampaikan kehendaknya, “Barangsiapa yang menerima tiga syarat dariku, maka dia akan aku angkat untuk menggantikan tempatku. Ketiga syarat itu : pertama, ia mampu berpuasa siang hari, lalu untuk syarat kedua, malam harinya dia mampu melaksanakan shalat malam , dan yang ketiga ia tidak boleh marah.”

Syarat itu agaknya terasa berat, tak pelak bila rakyat yang berkerumun menyaksikan sayembara itu merasa tak akan ada seorang pun yang mampu memenuhi ketiga syarata tersebut.

Namun dugaan Raja Ilyasa dan segenap rakyat yang berkumpul di hadapannya itu salah, rupanya ada seorang pemuda yang berani mengangkat tangan dan berkata sanggup melaksanakan ketiga syarat itu.

“Aku mampu melakukannya,”sahut pemuda itu lantang.

Merasa belum yakin dengan pemuda itu, Raja Ilyasa kemudian bertanya lagi hanya untuk sekadar memastikan, “Apakakahkamu akan sanggup berpuasa pada siang hari dan shalat pada malam harinya, serta tidak akan pernah marah,?”

Pemuda itu menegaskannya secaya yaqin sekali lagi, “Ya, aku akan melakukannya”

Namun tatkala itu, Raja Ilyasa tak serta merta langsung menunjuk pemuda tersebut menggantikan posisinya, ia masih berharap masih ada warga lain yang kiranya sudi menyanggupi ketiga syarat yang di ajukannya, akan tetapi rupanya tak ada seorang pun yang bersedia hingga sayembara tersebut hanya di sanggupi oleh satu orang saja. Raja tak mau menyerah begitu saja, keesokan harinya, ia mengumpulkan warganya kembali dan mengumumkan hal yang sama seperti sebelumnya, tidak berhasil. Hanya pemuda kemarin saja yang lagi – lagi berkata sanggup mengerjakan ketiga syarat itu.

Tak ada pilihan lagi bagi Raja Ilyasa kecuali menerima kenyataan bahwa hanya pemuda tersebut yang menyebut dirinya sanggup memenuhi tiga syarat itu. segera ia pertimbangkan sang pemuda untuk menggantikan tempatnya dan akan melantiknya sebagai pengganti bila ternyata benar – benar mampu memenuhi tiga syarat yang di ajukan.

Suatu hari, datanglah seorang lelaki renta ke rumah pemuda itu. ia mengetuk pintu tatkala sang pemuda hendak tidur siang setelah sekian lama terjaga karena harus menunaikan salah satu syarat sang raja itu. “Siapakah itu?” tanya pemuda.

Kemudian lelaki renta itu menjawab, “Aku adalah orang yang sudah tua dan terzalimi,”

Segera ia bergegas membuka pintu dan mempersilahkan lelaki renta itu masuk. Tatkala berada di dalam, ia menceritakan semua ihwal kisah hidupnya, “Sesungguhnya aku dan kaumku terdapat kesepakatan, namun aku di zalimi hingga aku seperti ini,”

Lelaki tua itu terus – menerus bercerita menerakan dirinya dan hidupnya hingga waktupun beranjak sore. Maka tatkala ia telah mengakhiri ceritanya, sudah berlalu waktu istirahat si pemuda hingga ia tak memiliki kesempatan waktu untuk beristirahat lagi. Dengan bijak, pemuda itu kemudian berpesan, “Apabila esok hari aku ada di majelisku, maka datanglah kepadaku agar aku dapat memutuskan perihal yang harus di berikan kepadamu.”

Lantas, orang tua itu pun pergi berlalu.

Keesokan harinya, ketika sang pemuda telah berada di majelisnya ia menengok ke seluruh penjuru untuk mencari keberadaan lelaki renta yang kemarin menemuinya. Namun tak ia temukan sosok lelaki itu hingga ia pun melanjutkan pekerjaannya seperti biasa. Dan keesokan harinya lagi, ia melakukan hal yang sama yakni mencari keberadaan lelaki renta itu tatkala berada di majelisnya namun lagi – lagi tak ia jumpai lelaki itu. Hingga akhirnya ketika tiba waktu pemuda itu untuk beristirahat, lelaki itu kembali datang ketika baru saja sang pemuda hendak mengambil posisi tidur. Pemuda itu membuka pintunya seraya bertanya, “Bukankah sudah ku katakan kepadamu untuk datang ketika aku berada di majelisku,?”

Lelaki itu menjawab, “Kaumku adalah kaum yang paling jahat. Apabila aku dan mereka di pertemukan pada saat kamu duduk di majelismu, tentu saja mereka akan mengatakan ‘Kami akan memberikan semua hak – hakmu.’ Namun ketika kami sudah kembali, mereka akan mengingkarinya lagi.”

Kemudian pemuda berkata, “Pergilah kamu dan bawalah kaummu untuk menghadapku.”

Lelaki renta itu pun pergi, agaknya sang pemuda berfikir kalau ia hendak membawa kaumnya kemari. Namun hingga sore hari sang pemuda menunggu, ia tak kunjung kembali hingga berlalulah waktu istirahat sang pemuda. Ia telah menunggu secara sia – sia karena lelaki itu akhirnya tak kunjung datang.

Keesokan harinya, pemuda itu hendak menyisihkan sepenggal waktunya untuk bersitirahat karena ia sudah tak kuasa lagi menahan rasa kantuknya. Sebelumnya ia berpesan kepada para kerabatnya, “jangan kamu biarkan ada seorang pun yang datang mendekati pintu ini agar aku dapat tidur karena aku sudah tidak kuat lagi untuk menahan kantuk.”

Pemuda itu pun kemudian bergegas untuk tidur, namun tak lama setelahnya lelaki tua itu datang lagi dan ketika hendak mengetuk pintu, dia di cegah seseorang, “Menjauhlah kamu dari pintu itu”

Lelaki itu pun berdalih dengan mengatakan, “Kemarin aku telah menemuinya dan memberitahukan keperluanku,”

Merasa telah di beri amanah yang harus di kerjakan, sang penjaga pintu pun menukas,

“Tidak boleh. Kami telah di perintahkan olehnya untuk tidak mengizinkan siapapun mendekati pintu ini.”

Lelaki tua itu pun kemudian menjauh, namun bukan langsung menyerah. Dari kejauhan, matanya menangkap sebuah lubang yang kiranya dapat ia masuki. Ia pun berjalan mengendap – endap tatkala sang penjaga pintu sedang lengah hingga ia berhasil memasuki rumah itu. Dari dalam ia pun mengetuk pintu kamar sang empunya rumah, hingga terbangunlah sang pemuda seraya berkata, “Wahai Fulan, bukankah aku sudah mencegah agar tidak ada seornag pun dapat memasuki rumah ini?”

Lelaki tua itu menjawab, “Bagiku tidak ada yang bisa menghalangiku untuk memasuki apapun yang aku mau. lihatlah sendiri bagaimana aku dapat memasuki rumah ini.”

Lantas sang pemuda berjalan ke arah pintu dan setelah ia periksa ternyata pintunya masih terkunci sebagimana ia menguncinya sebelum ia beranjak tidur. Lalu ia menatap lamat wajah lelaki tua itu dengan raut muka bertanya – tanya. Dan ia terkejut ketika ia dapati bahwa lelaki renta yang sedang berada di hadapannya itu merupakan jelmaah dari setan. Rupanya selama ini ia sengaja mengganggunya untuk membuatnya marah, namun selalu gagal.

Untuk memastikan dugaannya, ia pun bertanya, “Apakah kamu musuh Allah?”

Lelaki renta yang tak lain adalah jelmaan setan itu berterus terang, “Benar, kamu telah membuatku lelah sekali padahal aku telah melakukan sesuatu apapun untuk bisa membuatmu marah.”

Akan tetapi, pemuda tersebut yang beberapa riwayat di kisahkan bernama Basyiar tidak sedikitpun goyah dan sanggup memenuhi tiga syarat yang di ajukan Raja Ilyasa. Dan melalui keteguhan hatinya itu, ia kemudian di juluki dengan sebutan Dzulkifli karena ia dapat memenuhi segala apa yang di bebankan kepada dirinya. Dan dari kekokohan Dzulkifli dalam menahan diri dari amarah itu Allah kemudian mengangkatnya menjadi seorang Nabi.

Kendati demikian, ada ulama yang mengatakan bahwa Dzulkifli itu bukan nabi, melainkan seorang shaleh yang memiliki sifat arif, bijaksana dan adil. Salah satu ulama yang bependapat demikian adalah Muhammad bin Jarir al-Tabari. Dia menyebut bahwa Dzulkifli itu orang baik dan senantiasa menolong kaumnya serta gemar membela kebenaran. Namun ia bukan seorang Nabi.

Namun sebagian besar ulama menganggap bahwa Dzulkifli adalah Nabi dan Rasul. Hal ini bukan lain karena namanya disebut dalam QS. Al-anbiya’ dan Shaad:

“Dan ingatlah kisah Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang – orang yang sabar. Kami telah memasukkan mereka ke dalam Rahmat kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang – orang yang shaleh.”(QS Al-Anbiya : 85-86)

“Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa dan Dzulkifli. Semuanya termasuk orang – orang yang paling baik.”(QS Shaad : 48)

Kedua ayat di atas menyebut nama Dzulkifli dan di sejajarkan dengan nabiNya yang lain. Itulah sebabnya banyak ulama yang berpendapat bahwa Dzulkifli adalah seorang Nabi yang di utus oleh Allah. Pendapat itulah yang kemudian lebih banyak di anut oleh para ulama. Wallahu A’lam