Ketika Dimandikan, Jenazah Ini Menyebarkan Bau Wangi Dan Tubuhnya Mengeluarkan Sinar Bercahaya




Adalah jenazah KH. Mohammad Ilyas. Yang ketika Ketika Dimandikan, Jenazah Beliau Menyebarkan Bau Wangi Dan Tubuhnya Mengeluarkan Sinar Bercahaya. Kisah nyata ini dituturkan oleh cucu beliau sendiri yakni seorang da’i yang kini berdomisili di daerah Tangerang yaitu Ustadz H. Ahmad Rifai.

Ketika Dimandikan, Jenazah Ini Menyebarkan Bau Wangi Dan Tubuhnya Mengeluarkan Sinar Bercahaya
Ilustrasi


Tatkala kakeknya wafat, ia termasuk salah satu anggota keluarga yang diamanati untuk turut memandikan jenazah kakeknya. Menurutnya pakaian kakeknya di lepas langsung merebak aroma wangi yang berasal dari tubuh kakeknya.

Tak hanya itu, beliau juga menyaksikan bagian anggota tubuh kakek yang biasa terbasuh air wudhu terlihat bersinar. Ia pun menjadi sangat terharu melihat kemuliaan yang telah Allah karuniakan kepada kakeknya itu. Ingatannya pun seketika melayang – layang pada salah satu wejangan yang pernah Baginda Nabi sabdakan, “Sesungguhnya umatku pada hari kiamat nanti akan dipanggil dalam keadaan putih cemerlang muka, tangan dan kakinya dari bekas-bekas wudhu”. Maka barangsiapa ingin memperpanjang kecermelangannya itu, hendaklah ia melakukannya.” (HR. Bukhori Muslim)

“Waktu kakek saya meninggal, saya ikut memandikannya. Sebelum beliau di mandikan sekujur tubuhnya sudah berbau wangi. Begitu pakaiannya di buka, semua anggota tubuhnya yang biasa kena air wudhu terlihat bersinar,” kenang Ustadz Rifa’i.

Beliau mengaku tidak pernah menyadari kalau kakeknya semasa hidup tak pernah putus berwudhu, atau selalu berwudhu tiap punya hadats. Ia pun baru mengetahui akan hal itu setelah diberitahu oleh seorang ulama besar, KH Damanhuri.

Ustadz  Rifa’i yang memang semenjak kecil telah tinggal dan di asuh kakeknya itu betul mengetahui akan keseharian dan kebiasaan yang di kerjakan kakek. Menurut penuturan Ustadz Rifa’i. Semasa hayat, sang kakek merupakan seorang yang senantiasa mengamalkan ajaran – ajaran tasawuf, ia merupakan pengagum berat Imam Ghazali.

“Hampir semua kitab – kitab karangan Imam al-Ghazali mulai dari Bidayatul-Hidayah hingga Ihya Ulumudin di pelajari dan di amalkan oleh kakek. Hampir semua amalan yang di kerjakan oleh KH. Ilyas di peroleh dari kitab – kitab Al-Ghazali, beliau lebih banyak diam daripada berbicara. Bahkan ketika seorang anaknya meminta pendapatnya karena ada seorang da’i yang keras bicaranya, KH Ilyas hanya diam dan tidak mau berkomentar sedikitpun. Ia takut pendapatnya salah,” ungkap Ustadz Rifa’i.

Salah satu hal yang masih begitu di kenang secara lamat oleh Ustadz Rifa’i mengenai kakeknya adalah sifat wara’ atau hati – hati dari Allahu yarham dalam memelihara peribadahannya.

“Ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar kelas lima, saya pernah di tegur oleh beliau karena memakai celana pendek di dalam rumah,”cerita Ustadz Rifa’i.

KH. Ilyas merupakan pribadi yang tidak mau di kenal semasa hayatnya. Beliau selalu menyembunyikan keulamaan dan kewaliannya dari pengetahuan orang lain.

“Kalau beliau keluar rumah, beliau akan berpakaian biasa seperti pakaian yang orang lain pakai, tidak menunjukkan pakaian seorang kyai. Tetapi kalau beliau sedang beribadah, semua perlengkapan yang merupakan sunnah Rasul di pakainya. Beliau benar – benar takzim kalau sedang beribadah.bahkan untuk beribadah shalat Jum’at, beliau sudah menyiapkan segala perlengkapannya mulai dari pakaian sampai uang infaqnya, satu hari sebelumnya. Selain itu beliau juga tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah. Seolah shalat berjamaah itu sudah merupakan satu kewajiban baginya,” ungkap Ustadz Rifa’i.

Dan sebagai cucu yang semenjak kecil tinggal bersama kakeknya sedari kecil ia mengaku acapkali menyaksikan keanehan – keanehan yang terjadi pada diri kakeknya itu. salah satu keanehan itu dalah tatkala KH Abdullah Syafi’i (seorang ulama besar dan terkenal di Jakarta) akan wafat. Beliau datang ke rumah kakeknya dengan membawa banyak makanan.

“Saya melihat mereka saling berpelukan dan bermaaf – maafan. Saya sendiri heran melihat kakek di datangi ulama sebesar KH Abdullah Syafi’i. Satu minggu setelah itu ternyata, KH Abdullah Syafi’i meninggal dunia. Rupanya kedatangan KH Abdullah Syafi’i ke rumah kakek untuk berpamitan terakhir kali,” ujar Ustadz Rifa’i.

Keseharian KH Ilyas begitu sederhana dan apa adanya. Namun beliau sanggup memberangkatkan anak – anaknya pergi haji ke Tanah Suci. Lalu darimana ongkos berhaji itu beliau peroleh?

Sebagaimana yang di ungkapkan cucunya, KH Ilyas setiap mengajarkan satu kitab kepada murid – muridnya, biasanya beliau memperoleh upah sekadarnya dari murid – muridnya itu, namun uang itu tidak beliau pergunakan untuk apa – apa terkecuali hanya ia selipkan di beberapa lembar kitab – kitabnya.

“Uang itu tidak di simpan di dompet atau di berikan kepada istrinya, tetapi di simpan saja dalam lembaran – lembaran kitab yang di ajarkannya. Setelah lama kitab itu di buka ternyata banyak uangnya, bahkan cukup untuk memberangkatkan anak – anak pergi beribadah haji. Maka uang itu di gunakan untuk memberangkatkan anak – anaknya pergi ibadah haji,”

Salah satu wejangan atau nasihat yang selalu membekas di benak Ustadz Rifai adalah tatkala kakeknya itu berkata, “Jangan suka menjadi orang yang suka meminta – minta,”

Menurut Ustadz Rifai’i, petuah itu sangat besar maknanya. Melalui petuah itu, beliau sebenarnya sedang berpesan supaya kita tidak hubbuddunya (terlalu mencintai dunia). Kita dilarang mencintai kehidupan dunia yang berlebihan. Hal itu dapat kita aplikasikan dengan cara mensyukuri segenap hal yang sudah ada dan Allah karuniakan kepada kita.

Padahal di zaman sekarang ini, sudah terlalu banyak orang yang sesungguhnya sudah berkecukupan secara materialisme namun masih memelihara sifat tamak dalam dirinya dengan terus menerus menimbun kekayaannya itu. Maka tak pelak bila mereka sampai menghalalkan segala cara untuk dapat memenuhi segala ambisi mereka.

KH Mohammad Ilyas wafat pada tahun 1991 dalam usia 90 tahun di kediamannya daerah Cikini, Jakarta Pusat. Menjelang meninggal, beliau tidak merasakan sakit tetapi hanya terpeleset di kamar mandi. Kemudian oleh anak – anaknya KH Ilyas di bopong ke pambaringan. Di tempat tidur itu, beliau meminta tasbih kemudian mengucapkan kalimat tahlil tahmid dan takbir. Hingga akhirnya beliau meninggal pada malam hari dengan sangat indahnya yaitu setelah melaksanakan shalat malam. Jenazahnya di kuburkan di Pemakaman Kawi – Kawi Keramat Sentiong, Jakarta Pusat.