Kenakan Kain Ihram Ketika Meninggal Dunia, Jasad Lelaki Ini Senantiasa Sholat Di Alam Kubur




Alam barzakh atau kubur, merupakan sebuah tempat dimana jiwa – jiwa yang telah mati menjalani masa penantian. Alam itu merupakan alam ketiga yang di lalui manusia setelah alam rahim (kandungan dan alam barzakh. Di tempat itu mereka (yang telah mati) menanti tibanya hari kiamat dimana pada masa itu setiap manusia akan di bangkitkan kembali selanjutnya untuk mempertanggung jawabkan segala lelaku yang pernah di perbuatnya semasa hayat.

Kenakan Kain Ihram Ketika Meninggal Dunia, Jasad Lelaki Ini Senantiasa Sholat Di Alam Kubur
Ilustrasi


Dengan kata lain, alam barzakh adalah alamnya orang – orang yang sudah tak bernyawa/meninggal, sementara orang yang sudah meninggal sudah pasti tak akan melakukan suatu apapun disana termasuk shalat, puasa, mengaji dan sebagainya. Benarkah demikian?

Hakikatnya tidak, sebagaimana sabdanya Nabi bahwa ternyata orang – orang shaleh dan termasuk para nabi tetap bisa menjalankan shalat, mengaji dan sebagainya tatkala mereka berada di alam kubur.

“Para Nabi adalah di kuburan mereka, sedang mereka melakukan sholat.” (HR Abu Ya’la)

Hadits lain yang mempertegas akan hal ini adalah tatkala peristiwa isra’nya Rasulullah ke Baitul Maqdis, Palestine. Pada masa itu, di tampakkan kepadanya Nabi Musa yang sedang sholat di kuburnya. Rasulullah salallahu’alaihi wasallam bersabda, “Aku melewati Nabi Musa sedang shalat pada malam aku di isra’kan di sisi tumpukan kerikil merah, sedang beliau berdiri melaksanakan sholat di alam kuburnya,”(HR Muslim)

Al Imam Al Hafidz Adz Dzahabiy berkata, “Para Nabi adalah hidup di sisi Rabb mereka, seperti kehidupan para syuhada’ (orang – orang yang mati syahid) yang di sisi Rabb mereka. Kehidupan mereka tidaklah sama dengan kehidupan orang – orang nanti di akhirat. Bahkan (kehidupan mereka) adalah warna lain sebagaimana telah datang (dalam sebagian hadits) bahwa kehidupan para syuhada’ Allah jadikan Ruh mereka dalam rongga tubuh burung – burung hijau yang bebas di alam surga dan ia menuju kepada lentera – lentera yang tergantung di bawah Arsy. Jadi, mereka hidup di sisi Rabb mereka menurut tinjauan ini sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala kabarkan, sedang jasad mereka (tetap) di kuburan mereka. Perkara – perkara ini lebih besar di banding akal pikiran manusia, sedangkan beriman kepada perkara – perkara ini adalah wajib.”

Dan Allah berfirman, “Janganlah kamu mengira bahwa orang – orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki,” (QS Al Imran : 169)

Lalu, bagaimanakah kehidupan mereka disana? Kehidupan mereka jauh berbeda dengan kita yang hidup di alam dunia. Dalam kuburnya mereka memperoleh kenikmatan – kenikmatan yang di limpahkan Allah sebagaimana amal perbuatan mereka semasa di dunia. Mereka merupakan orang – orang yang di karuniai segala kegembiraan di sisi Rabbnya. Sebagaimana Ia berfirman, “Mereka dalam keadaan gembira di sebabkan karunia Allah yang di berikanNya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang – orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hatai.”(QS Al Imraan : 170)

Ada satu kisah nyata yang memperjelas dasar teologi tersebut, yakni di alami oleh orang sholeh bernama Buya Jamhur. Begini kiranya, tatkala kuburannya di gali kembali di sebabkan amanat almarhum  yang belum di tunaikan, yaitu mengenakan kain ihram ketika jasadnya di kubur, ternyata jasad Buya dalam kondisi sedang sholat.

Adakah ini kebetulan semata? Tentu tidak, pasti ada suatu aktivitas zahir yang sedang di perbuat oleh si mayit di alam kuburnya tersebut. Namun memang tak terlihat nyata oleh indra manusia yang masih hidup karena kejadian ini di luar jangkauan nalar dan logika manusia. Dalam kisah lain, ada juga tatkala di temukan, kondisi si mayit sedang membaca Al Qur’an di alam kuburnya.

Mengenai kisah Buya Jamhur, barangkali ada satu pertanyaan yang menggeliat di relung hati pembaca, bagaimana bisa Buya Jamhur bisa mendapatkan kemuliaan tersebut?

Ternyata setelah di telisik, itu terkait keinginan Buya Jamhur sendiri tatkala dirinya masih hidup. Konon ia pernah mengungkap keinginan hatinya kepada muridnya jikalau ia maut telah menjemputnya, ia tetap ingin melaksanakan sholat di alam kubur, “Aku ingin, nanti setelah mati, di alam kubur aku tetap dapat mendirikan sholat,” cerita Buya kepada murid – muridnya yang sedang antusias mengikuti ilmu yang di ajarkannya.

Jelasnya, tidak semua kehendak bisa di kabulkan oleh Allah, terkecuali hanyalah orang – orang tertentu saja, sebagaimana Buya, beliau meninggal setelah mengimami sholat Subuh dan meninggal di salah satu hari yang istimewa, yakni hari Jum’at.

Demikian, satu kisah yang menunjukkan adanya aktivitas zahir yang di lakukan oleh orang – orang shaleh dan para nabi di alam kuburnya. Namun jelasnya, bagaimanakah mereka melakukan hal itu, hakikatnya hanya Allah saja yang tahu.

Satu hal yang seyogyanya kita pahami bahwa tidaklah semua aktivitas – aktivitas mereka di alam kubur itu secara gamblang Allah tunjukkan kepada kita yang masih hidup, dalam hal ini tidak semua orang – orang sholeh dan para Nabi yang jika di gali kuburnya kita temukan sedang dalam keadaan sholat atau membaca Al Qur’an sebagaimana kisah di atas. Bisa saja mereka tetap dalam keadaan semula, dimana posisi tubuh terbaring miring atau lurus.

Baca Juga:




Namun jelasnya tak bisa di pungkiri lagi bahwa Allah tetap menunjukkan karunia dan kasih sayangNya kepada hamba – hamba yang shaleh dan berbuat kebajikan semasa hidup di dunia dengan cara memuliakan jasad – jasad mereka. Telah banyak sekali di temukan jasad para orang shaleh yang masih tetap terjaga (tidak hancur) meskipun telah di kebumikan bertahun – tahun.

Wallahu a'lam.




loading...

close ini