Berghibah di Depan Ka’bah, Purnawirawan Ini Menjadi Linglung di Makkah




Sebut saja namanya Hasan (nama samaran), Ia seorang purnawirawan, ia memiliki roman menawan riwayat karirnya tersebut, tentulah ia memiliki kedudukan sosial cukup tinggi di lingkungan masyarakatnya, ia pun disegani dan dihormati, seorang yang mapan dan mumpuni secara ekonomi.

Berghibah di Depan Ka’bah, Purnawirawan Ini Menjadi Linglung di Makkah


Melalui profesinya sebagai seorang purnawirawan, banyak sekali lahan bisnis yang diperolehnya, sebuah jabatan yang pernah disandangnya memuluskan penghasilannya setelah tidak aktif lagi di korps tersebut. Namun demikian meskipun tak lagi aktif, para purnawirawan sekarang umumnya bisa hidup dalam kondisi ketercukupan.

Identitas ekonomi Hasan agaknya tampak dengan sebuah gelar haji yang mengawali namanya, sebuah gelar prestisius dimana kiranya hanya orang – orang berduit saja yang memilikinya. Meskipun tidak selalu begitu. Namun sayangnya, ia tak bisa menjadi seorang haji seperti yang di pikirkan banyak orang.

Sepulangnya dari ibadah haji, ia justru terserang penyakit jiwa atau stres. Penyakit yang membelenggu raganya itu tak kunjung sembuh. Agaknya sejak enam tahun silam ia terkulai tak berdaya, sebuah kondisi yang kontras jika dibandingkan dengan kondisinya ketika ia masih aktif di angkatan bersenjata.

Agaknya mungkin pembaca berfikir – fikir, mengapa bisa demikian? Mengapa kondisi menyedihkan itu bisa menimpanya tatkala sepulang dari berhaji? Menurut penuturan salah seorang ustadz yang di sinyalir sebagai pembimbing hajinya, ketika melaksanakan ibadah haji, ada satu atau lebih perbuatan tidak baik yang ia lakukan.

Usai menunaikan shalat di depan Ka’bah, ia terus – menerus Ghibah atau menggunjing orang, hal ini dituturkan oleh salah satu jamaah lain yang kala itu turut bersamanya.

“Saya sendiri tidak mendengarnya langsung, ada jamaah yang melapor ke saya.” Ujar sang Ustadz.

Pada mulanya, tidak terjadi suatu apapun pada Hasan, semuanya berjalan lancar sebagaimana perjalanannya dari Bandara Juanda ke Jeddah. Tak ada suatu perkara apapun yang merintangi perjalanan dan proses ibadah hajinya, namun tatkala sampai di Mina, suatu kejanggalan terjadi pada lelaki ini, ia mulai bicara ngelantur.

Seperti yang kita tahu, orang yang berbicara ngelantur akan melontarkan kata – kata yang tidak sejalan dengan apa yang sedang orang – orang sekitarnya bicarakan. Bahkan cenderung akan berbicara sendiri, demikian setiap kali ia bertemu orang selalu berkata, “Siap pulang!”

Kata” siap” mungkin agaknya ia mengulang salah satu kebiasaannya tatkala masih aktif di angkatan bersenjata, sedangkan kata “pulang”, barangkali ini mengungkapkan keinginan hatinya untuk segera pulang ke tanah air. Senarai suasana dan cuaca yang melanda Makkah tak mengenakkan jasmani Hasan, Iklim disana sama sekali tak membuatnya senang, apalagi setiap harinya ia harus berurusan dengan rentetan ibadah panjang, agaknya ia letih maka tak heran bila perkataan ini meluncur begitu saja dari lisan Hasan.

Hal lain yang menyedihkan adalah ketika ia keluar dari tenda atau hotelnya untuk suatu keperluan tertentu, ia tak lagi ingat arah jalan pulangnya. Hingga ketika ia kembali dari suatu tempat dimana ia pergi untuk suatu urusan tertentu, ia harus di antar oleh polisi atau laskar yang ada disana. Hal ini pun tak cukup terjadi sekali maupun dua kali saja, melainkan berkali – kali. Hal ini pun terus berlagsung hingga ketika di Madinah, “Kalau keluar dari hotel pasti tidak bisa pulang sendiri.” Ujar sang Ustadz.

Hingga ketika telah tiba waktu untuk pulang ke tanah air, keadaannya tak kunjung berubah, ia kian stress. Bahkan banyak orang dan tetangganya yang mengklaim dirinya sudah gila, suatu ketika ia bahkan kecing di pojokan kamarnya sendiri, padahal ia mafhum di rumahnya ada toilet. Ia juga kerapkali membuang kotoran di tempat yang tidak sepantasnya, sebuah lelaku yang lazimnya hanya dilakukan oleh orang – orang yang sudah tidak waras lagi. Apakah ia kini benar – benar telah sakit jiwanya?

Dapat di katakan demikian, bahkan ketika istrinya keluar rumah, ia sampai harus mengunci pintu rumahnya dari luar supaya ia tidak keluyuran sendirian. Ia merasa sangat khawatir, sedih sekaligus bingung, agaknya gerangan apakah yang telah membuat kondisi suami tercintanya itu berubah demikian.

Menurut penuturan ustadz, kondisi demikian masih saja terus menjeratnya. Ia tak kunjung sadar juga dari kelinglungannya itu. Terhitung sejak keberangkatan hajinya selama enam tahun hingga sekarang ini ia masih tak berdaya untuk mengurus dirinya sendiri. “Sebagai teman saya hanya bisa berdoa semoga keluarganya diberikan kesabaran menerima musibah yang menimpanya.” Lanjut Ustadz.

Sang ustadz sendiri mengaku ia kerapkali menemukan perlbagai kejanggalan dan peristiwa aneh yang menimpa banyak jamaahnya, hal ini bukan lain lantaran perbuatan yang dilakukannya saat sebelum berangkat haji maupun saat sudah berada di Makkah.

Oleh karena itu, sepatutnya kita mempersiapkan dulu segalanya termasuk kecusian lahir batin, kumpulkan mental dan spiritual saat suatu ketika hendak pergi haji, dan tak lupa bekal ilmu juga perlu, supaya kita bisa lebih berhati – hati dalam mengakukan suatu hal apapun tatkala disana.

Demikian satu kisah pilu yang agaknya dapat kita petik ibrah dan hikmahnya, janganlah suka kita berghibah atau membicarakan orang lain, termasuk membicarakan kejelekan dan segala aibnya. Di Tanah Suci segala perkataan buruk yang kita lontarkan kerapkali langsung ditampakkan buktinya dari Allah. Oleh karena itu berhati – hatilah, sekalipun itu hal kecil.

Namun demikian, setiap peristiwa pastilah mengandung hikmah tersendiri dibaliknya, mungkin agaknya apabila Allah sudi memberikan kesembuhan pada diri Hasan, walau entah kapan waktunya, agaknya ia akan mafhum dan menjadikan hal ini sebagai pelajaran dalam hidupnya sehingga bisa menyulutkan dirinya untuk berubah menjadi orang yang lebih baik lagi dari sebelumnya, kisah ini patutnya juga kita jadikan satu contoh supaya kita tak mengalami hal yang serupa. Semoga Allah kita semua termasuk golongan orang yang bertaqwa dan beriman kepadaNya.






close ini