Ya Allah Ya Robbi, Benarkah Aku Akan Dimakamkan Hari Ini?

Ya Allah Ya Robbi, Benarkah Aku Akan Dimakamkan Hari Ini?

author photo
Ya Allah Ya Robbi, Benarkah Aku Akan Dimakamkan Hari Ini?


Perlahan, tubuhku ditutup tanah, perlahan semua pergi meninggalkanku, masih terdengar jelas langkah langkah terakhir mereka. Aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang, sendiri, menunggu keputusan.

Istri, belahan hati, belahan jiwa pun pergi. Anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga tinggal. Apalagi sekedar tangan kanan, kawan dekat, rekan bisnis, atau orang-orang lain, aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.

Istriku menangis, sangat pedih, aku pun demikian. Anakku menangis, tak kalah sedih, dan aku juga. Tangan kananku menghibur mereka, kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan, tetapi aku tetap sendiri, disini, menunggu perhitungan.

Menyesal sudah tak mungkin. Tobat tak lagi dianggap, dan maaf pun tak bakal didengar, aku benar-benar harus sendiri.

Tuhanku…(entah dari mana kekuatan itu datang, setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya). Jika kau beri aku satu lagi kesempatan, jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu, beberapa hari saja.

Aku harus berkeliling, memohon maaf pada mereka, yang selama ini telah merasakan zalimku, yang selama ini sengsara karena aku, yang tertindas dalam kuasaku, yang selama ini telah aku sakiti hati nya, yang selama ini telah aku bohongi.

Aku harus kembalikan, semua harta kotor ini, yang aku kumpulkan dengan wajah gembira. Harta  yang ku kuras dari sumber yang tak jelas, yang ku makan, bahkan yang ku telan. Aku harus tuntaskan janji-janji palsu yang sering ku umbar dulu.

Ya Allah, beri lagi aku beberapa hari milik-Mu, untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta. Teringat kata-kata kasar dan keras yang menyakitkan hati mereka, maafkan aku ayah dan ibu. Mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayangmu? Beri juga aku waktu, untuk berkumpul dengan istri dan anakku, untuk sungguh sungguh beramal soleh. Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu, bersama mereka.

Begitu sesal diri ini karena hari-hari telah berlalu tanpa makna.

Penuh kesia-siaan, kesenangan yang pernah kuraih dulu tak ada artinya sama sekali. Waktu hidup yang hanya sekali itu andai ku bisa putar ulang waktu itu.

Aku dimakamkan hari ini, dan semua menjadi tak termaafkan, dan semua menjadi terlambat, dan aku harus sendiri dalam jangka waktu yang tak terbayangkan.  [Grup Strawberry on Facebook]
Next article Next Post
Previous article Previous Post