Tak Ada Istilah Anak Nakal, Karena Setiap Anak Dilahirkan Dalam Keadaan Fitrah




Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang musyrik.” Lalu seorang laki-laki bertanya: “Ya Rasulullah! Bagaimana pendapat engkau kalau anak itu mati sebelum itu?” Beliau menjawab: “Allah lebih tahu tentang apa yang pernah mereka kerjakan.” (HR. Muslim)
Tak Ada Istilah Anak Nakal, Karena Setiap Anak Dilahirkan Dalam Keadaan Fitrah


Para pembaca yang dirahmati Allah, di zaman yang semakin modern ini kita sebagai orang tua kita kerap mengeluh terhadap perilaku anak yang sering menyimpang; anak yang suka bolos sekolah, sibuk main game hingga lupa kewajibannya, anak yang masih usia dini tapi sudah kenal pacaran, anak yang suka membangkang dan tidak mau patuh terhadap orang tua, dan perilaku nakal lainnya.

Ketika berbagai hal itu terjadi, banyak dari orang tua yang serta merta menyalahkan mereka, langsung saja mencap mereka sebagai anak nakal yang tak bisa diatur, menyalahkan para guru di sekolah yang kurang dalam mendidik, menyalahkan pemerintah yang kurang baik dalam memberlakukan sistem pendidikan, menyalahkan internet sebagai sumber masalah, menyalahkan lingkungan yang tidak kondusif, dan mengkambinghitamkankan semua hal kecuali dirinya sendiri.

Seharusnya, ketika menemui perilaku anak yang kita anggap salah dan tidak terpuji, hal pertama yang seharusnya dilakukan orang tua adalah introspeksi diri.

Seperti pendapat Dr. Seto Mulyadi, Psi, Msi, Sebenarnya tidak ada istilah anak nakal. Anak adalah korban, karenanya sebelum menganggap anak sebagai anak nakal atau menuding berbagai pihak, para orang tua hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:

1. Sudahkah orang tua memberikan tauladan yang baik?

Banyak orang tua yang menerapkan berbagai aturan kepada anak; harus bangun pagi, shalat berjamaah tepat waktu, disiplin, jujur dan seabreg peraturan lainnya.

Namun mereka lupa memberikan suri tauladan yang baik pada mereka. Dalam istilah jawa hal ini disebut Jarkoni, iso ujar ora iso nglakoni (memrintahkan tapi dia sendiri tidak mau melaksanakan) Orang tua menyuruh anak tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Sudah barang tentu, hal ini akan membuat anak melakukan perlawanan.

Pendidikan dengan memberikan suri tauladan yang baik tentunya akan lebih menancap dalam jiwa anak. Karenanya sebagai orang tua hendaknya sebelum memerintahkan anak untuk melakukan hal ini dan itu, mari kita mulai terlebih dahulu dari diri kita untuk memberikan contoh yang baik terhadap mereka.

2. Sudahkah orang tua menafkahi anak dengan rezeki yang halal?

Banyak orang tua tidak memperhatikan hal ini. Bahwa kehalalan rezeki yang kita gunakan untuk menghidupi keluarga dan anak-anak adalah perintah Allah dan Rasulullah yang harus diperhatikan setiap muslim.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ } وَقَالَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ.

Dari Abu Hurairah R.a, beliau berkata: Rasulullah saw bersabda: Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah adalah baik dan tidaklah menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kaum mukminin sebagaimana perintah-Nya kepada para Rasul:

Wahai sekalian para Rasul, makanlah yang baik-baik dan beramal salehlah. Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan. (Qs. Al-Mukminun: 51)

Wahai orang-orang yang beriman, makanlah makanan yang baik dari rezeki yang Kami berikan kepada kalian. (Qs. Al-Baqoroh: 172)

Kemudian Rasulullah menceritakan keadaan seseorang yang melakukan perjalanan panjang, rambutnya kusut, mukanya lusuh, sedang menengadahkan kedua tangannya ke langit berdoa; ya Allah, ya Allah.. sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, diberi asupan gizi yang haram, maka bagaimana bisa diterima doanya?” (HR. Muslim)

Hadits di atas memeberikan pelajaran penting pada kita agar sebagai orang tua jangan sekali-kali menyuapkan makanan yang haram ke dalam perut anak-anak kita, menegukkan minuman yang haram, memakaikan pakaian yang haram, dan memenuhi segala kebutuhannya dari rezeki yang diperolah dengan cara haram.

KarenaaApa yang mereka makan akan menjadi darah dan tumbuh menjadi daging dalam dirinya. Harta yang haram akan berpengaruh buruk terhadap anak-anak kita karena sesuatu yang buruk akan berdampak buruk pula.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tiada mendatangkan manfaat bagi daging yang tumbuh dari sumber yang haram, ‎melainkan nerakalah tempat yang sewajarnya bagi daging itu.” (HR Tirmidzi)

Maka dari itu, sebagai orang tua kita harus hati-hati dan senantiasa memperhatikan kehalalan rezeki yang kita gunakan untuk menafkahi keluarga. Rezeki yang halal adalah sumber ketentraman dan kebahagiaan dalam hidup, sedang rizki haram adalah pangkal kehancuran dunia akhirat.

3. Sudahkah orang tua mencurahkan kasih sayang kepada anak?

Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa kasih-sayang yang mereka berikan kepada anak sebenarnya belum bisa dikatakan cukup. Kesibukan dunia kerja seringkali menjadi penyebabnya. Sehari-hari bekerja mencari nafkah demi memperjuangkan anak, sampai di rumah tubuh dan pikiran lelah.

Kendati demikian, orang tua tak boleh lupa untuk memperhatikan setiap anak. Sesibuk apapun orang tua, seharusnya memiliki waktu tersendiri dengan keluarga sehingga keluarga tetap menjadi yang utama.

Hal itu akan memupuk rasa cinta kasih dan sayang antar anggota keluarga, terutama pada anak . Sehingga ketika seorang anak merasa cukup kasih sayang dalam keluarga, maka ia tak akan mencari-cari kebahagiaan di luar rumah. Kenakalan anak seringkali sebagai bentuk protes terhadap orang tua.

4. Sudahkah orang tua menjalin komunikasi yang baik dengan anak?

Komunikasi adalah hal penting dalam pola asuh anak. Pola komunikasi yang otoriter dan sewenang-wenang akan menyebabkan anak menjadi penakut di depan orang tua namun terkadang suka berontak di luar.

Sebagai orang tua hendaknya mengajari anak pola komunikasi yang cair, penuh kelembutan dan kasih sayang. Karena kata-kata kasar apalagi kekerasan fisik hanya akan menjadikan anak semakin liar. Dan kelak ketika dewasa mereka akan meniru apa yang kita contohkan.

Demikianlah beberapa hal yang harus diperhatikan para orangtua ketika menghadapi perilaku anak yang kita anggap nakal atau menyimpang.

Sebagai orang tua kita harus bijak terhadap mereka. Ajari mereka dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, maka mereka akan tumbuh menjadi insan yang lembut dan penuh kasih terhadap sesama.

Ketika pendidikan di lingkup keluarga berjalan dengan baik, sederas apapun arus gangguan luar, pola hidup glamour, pergaulan bebas, dan hal-hal buruk lain yang menimpa, anak akan kokoh, berdiri tegak pada pendiriannya sehingga tidak mudah terseret oleh gangguan buruk itu. Mereka akan mampu membeckingi diri sendiri, memilih yang baik dan meninggalkan semua hal yang buruk.

Semoga anak-anak kita terlindungi dari berbagai keburukan. Aamiin.




loading...

close ini