Kisah Rasulullah Bersama Ukasyah Sepulang Haji




Ada begitu banyak hikmah dan pesan yang ditinggalkan Rasulullah SAW ketika menunaikan ibadah haji. Pada waktu itu, turun surah At-Taubah. Menurut sahabat Hudzifah ibnul Yaman, seharusnya itu disebut surah Adzab. Dalam perspektif Hudzaifah, sifat surah ini demikian keras sehingga lebih tepat jika disebut dengan Surah Adzab. Dalam surah ini Allah dan Rasul-nya memberi ultimatum yang telah menciptakan garis demarkasi.

Kisah Rasulullah Bersama Ukasyah Sepulang Haji


Ultimatum ini ditujukan kepada semua pihak. Kepada kaum kuffar, kaum musyrikin, kaum Muslimin bahkan untuk seluruh sahabat. Memang secara eksplisit, ultimatum ini ditujukan pada kaum musyrikin.“Baroo-ah”--(inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kaum muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan mereka).”  Tapi memang, sejak itulah kita dituntut menentukan sikap tegas.

Sikap melepaskan diri dari ketergantungan kepada yang selain Allah SWT dan Rasulullah, Khususnya kepada kaum musyrikin. Kita dituntut mampu bersikap tegas, terlebih terkait hal-hal yang menyangkut dasar dan hukum ajaran Islam. “Untukmu agamamu dan untukku agamaku.” Setelah itu, mari saling hormat dan saling berkonstribusi agar kehidupan dalam berjalan dengan tertib. Untuk mencapai itu, umat Islam mesti memiliki ketegasan sikap.

Ketegasan sikap, antara lain, musti dipraktekkan dalam pelaksanaan hak dan kewajiban setiap warga masyarakat. Kehidupan akan berjalan dengan normal dan damai jika semua orang saling menghormati atas hak dan kewajiban.

Di atas bentangan Padang Arafah yang sangat gersang, Rasulullah berkhutbah terkait hak dan kewajiban. Salam perpisahan itu tak berkait dengan kayfiyat dan manasik haji. Nabi justru mendeklarasikan pentingnya menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Tak lama setelah pelaksanaan haji wada’, Rasulullah SAW mengumumkan dibukanya pintu “pembalasan” bagi siapa saja yang merasa pernah tersakiti, sengaja atau tidak, bahkan yang pernah dilakukan oleh Rasulullah sendiri. Mereka boleh membalasnya pada Haji Perpisahan itu. Begitu pulang haji, Rasulullah SAW jatuh sakit agak lama, sehingga kondisi beliau sangat lemah. Pada suatu hari Rasulullah SAW meminta sahabat Bilal memanggil semua sahabat, Baik Anshar maupun Muhajirin untuk datang ke masjid.

Karena rindu yang sangat bergemuruh, lama tidak bertemu Sang Nabi, kaum Muslimin bersegera memenuhi masjid. Beliau duduk dengan lemah, wajahnya terlihat pucat pasi, menahan sakit yang mendera.

“Sahabatku” kata Rasulullah, “Apakah telah aku sampaikan bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah?” tanya beliau.

“Benar wahai Rasulullah! Engkau telah sampaikan bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah.” jawab segenap sahabat yang hadir.

Setelah dialog yang mengharukan, sampailah pada saat di mana kata-kata tercekat di tenggorokan. “Sesungguhnya, aku akan pergi menemui Allah. Sebelum pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Adakah aku pernah berutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan utang itu. Karena aku tidak mau bertemu Allah dalam keadaan berhutang sesuatupun kepada manusia.”

Para sahabat terdiam. Ada yang saling menoleh penuh tanya.

“Mana pernah Rasulullah SAW berhutang kepada kita ? justru kamilah yang banyak berhutang kepada Rasulullah,” batin para sahabat.

Usai Rasulullah melontarkan pertanyaan tersebut suasana menjadi hening, Rasulullah SAW kemudian mengulang hingga 3 kali. Mendadak bangun seorang lelaki. Dialah sahabat Nabi bernama Ukasyah, mantan preman Quraiys sebelum masuk Islam.

“Ya Rasulullah ! Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta engkau penuhi,” kata Ukasyah.

Semua sahabat yang hadir tercengang.

“Sampaikanlah, wahai Ukasyah !” pinta Rasulullah dengan suara yang semakin lemah.

“Aku masih ingat ketika perang Uhud. Ketika engkau menunggang kuda, lengkau pukulkan cambuk ke belakang kuda. Tapi cambukkanmu mengenai dada hamba. Saat itu hamba berdiri di belakang kuda tungganganmu, wahai Rasulullah,” ujar Ukasyah. “Sungguh itu adalah hutang wahai Ukasyah.

Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yang sama.”

“Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah,” kata Ukasyah enteng. Para sahabat mulai geram. Gigi mereka gemeretak.

“Sungguh engkau tidak berperasaan Ukasyah. Bukankah Baginda sedang sakit,” teriak salah satu sahabat. Ukasyah tidak menghiraukan.

Rasulullah SAW minta Bilal mengambil cambuk di rumah Fatimah. “Untuk apa Rasulullah meminta cambuk ini wahai Bilal ?” tanya Fatimah.

“Akan dipakai Ukasyah untuk memukul Rasulullah,” jawab Bilal sedih. Fatimah terperanjat. “Kenapa Ukasyah hendak pukul ayahku ? Ayahku sedang sakit, kalau mau, pukullah aku anaknya,” ujar Fatimah sambil menangis tersedu-sedu.

Bilal menjawab : ”Ini adalah urusan antara mereka berdua.”

Ketika itu, seperti Fatimah, semua sahabat yang hadir ingin menjadi pengganti Rasulullah untuk menerima tebusan utang pukulan Ukasyah. Mereka siap didera dengan cambuk.

Rasulullah minta semua tenang, duduk dan menyilakan Ukasyah menunaikan keperluannya. Kekasih Allah itu meminta beberapa sahabat memapahnya turun mimbar. “Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju,” ujar Ukasyah. Para sahabat mulai marah. Dalam demam tinggi, Rasul membuka baju. Tampaklah tubuhnya yang sangat indah. Beberapa batu terikat di perut Rasulullah. Pertanda beliau sedang menahan lapar.

“Ya Rasulullah, ampuni aku. Maafkan aku, mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau. Sengaja aku lakukan ini agar dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu. Seumur hidupku, aku selalu berharap dapat memelukmu.

Aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka. Sungguh aku takut api neraka. Maafkan aku ya Rasulullah...” Air mata membasahi wajah Ukasyah sedang dia memeluk erat makhluk yang paling dicinta alam semesta.

“Wahai sahabat-sahabatku sekalian. Kalian ingin melihat salah seorang ahli surga, maka lihatlah Ukasyah..!” Masjid seakan runtuh karena tangisan para sahabat. Menurut riwayat, para sahabat bergantian memeluk Rasulullah. Kisah ini jadi bukti betapa Nabi sangat menjunjung tinggi hak-hak orang lain dan kewajiban beliau memenuhi hak itu. Kalau hak dan kewajiban berjalan seiring dan seimbang, insyaallah hidup akan berkah.




loading...