Cara Menghadirkan Hati dalam Shalat, Kiat Agar Bisa Shalat Dengan Khusyu'




Menjelang meletusnya peperangan Dzatir Riqa' sebagaimana biasa Rasulullah selalu memberi tugas kepada beberapa sahabat untuk menjaga perbatasan. Kali ini yang bertugas dua orang, satu orang Muhajirrin dan satu lagi Anshar.

Cara Menghadirkan Hati dalam Shalat, Kiat Agar Bisa Shalat Dengan Khusyu'


Kedua petugas ini sepakat untuk berjaga bergantian. Orang Anshar menawari temannya untuk memilih berjaga pada setengah malam pertama atau yang terakhir. "Cukuplah saya yang berjaga pada setengah malam pertama." jawab si Muhajirrin. Tanpa dikomando lagi si Anshar segera tidur, sedang di Muhajirin berjaga sambil melaksanakan shalat malam.

Ditengah asyiknya menjalankan shalat, tiba-tiba musuh melemparkan tombak tepat mengenai sasaran disalah satu anggota tubuhnya. Tombak yang menembus dikulit daging itu dicabutnya kemudian ia tetap melanjutkan shalatnya. Tak lama kemudian sepucuk mata tombak lagi-lagi menembus badannya. Pada kali kedua ini juga ia melepaskan tombaknya dan terus melanjutkan shalatnya. Setelah selesai shalat, ia membangunkan temannya dalam kondisi darah mengucur dari badannya. "Subhanallah, kenapa engkau tidak membangunkan aku ?" tanya temannya keheranan. Ia menjawab: "Aku tengah membaca surat dan tidak ingin memutuskannya sehingga menyelesaikannya sampai akhir."

Cerita ini bukan karangan penulis juga bukan karangan ulama, tapi merupakan kisah nyata yang terjadi pada zaman Nabi, yang menggambarkan betapa seriusnya sahabat pada waktu itu dalam mendirikan shalat. Betapa mereka telah sampai pada maqam tertentu dalam mengingat kepada-Nya, sampai-sampai mereka tidak lagi merasa sakit, walaupun badannya tercabik-cabik oleh tombak.

Betul, mereka sudah tidak merasakan apa yang terjadi dan apa yang telah menimpa badannya, karena jiwanya telah menang atas jasadnya, sehingga mampu menguasainya dan melemahkan rasa sakit atas tubuhnya.

Kalangan ulam salaf yang telah sampai pada maqam ini sering tak ingat apa-apa lagi ketika menjalankan shalat. Amir bin Abdillah, misalnya meskipun anak putrinya sedang memukul-mukulkan rebana di sampingnya, ia tetap tak mendengarnya. Walaupun kaum wanita bercakap-cakap sekehendak hati, iapun tetap tak medengarnya.

Suatu ketika ada orang bertanya kepadanya, apakah hatinya membisikkan sesuatu ketika dalam shalat ataukah tidak. "Ya aku diingatkan bahwa aku kini berdiri berhadapa dengan Allah swt, dan aku kelak bakal menuju akhirat." Mereka bertanya lagi, apakah terlintas dalam hatinya urusan dunia. Kali ini ia menjawab tegas, "Seandainya tubuhku dicabik-cabik sejumlah tombak, itu lebih aku sukai daripada mengalami seperti yang kalian rasakan."

Bila kita sudah sampai pada tingkat konsentrasi yang sedemikian rupa, bisa jadi hal itu kita rasakan. Tapi karena tidak mampu mengalahkan jasad kita. Seekor nyamuk yang menggigit saja sudah membuyarkan konsentrasi, bahkan menggerak-gerakan kaki dan tangan untuk mengusir atau membunuhnya. Apalagi jika tertembus tombak, panah, dan pedang. Mungkin tidak hanya meringis kesakitan, bahkan berteriak-teriak minta pertolongan.

Bagi kita untuk sampai pada tingkatan konsentrasi penuh saja sudah memerlukan prakondisi sedemikian rupa, apalagi sampai khusyu'. Untuk itu kita harus menjaga tempat-tempat shalat dari berbagai gangguan. Tak mungkin kita bisa khusyu' dalam shalat ketika di dalam rumah, sementara radio atau televisi sedang dalam posisi hidup. Sulit kita bisa khusyu' bila situasi sedang gaduh.

Itulah sebabnya Nabi membantu kita dengan cara membuatkan seperangkat aturan adab dan tata tertib selama di masjid. Pertama, hendaknya jangan membuat gaduh. Jika terlambat tak usah lari, jika sudah berada di masjid tak boleh bicara. Bahkan jika ada yang shalat sebaiknya yang membaca al-Qur'an tidak mengeraskan suaranya. Lebih baik dibatin saja.

Kedua, soal pakaian juga ada ketentuannya, jangan berpakaian menyolok, baik warnanya, motifnya, gambar dan tulisannya. demikian juga bau pakaian dan bau badan, sebaiknya pakai harum-haruman. Minimal tidak membawa bau tak sedap ke dalam masjid. Yang demikian itu juga berlaku untuk bau mulut. Itulah sebabnya pelru dihindari makanan yang menimbulkan bau tak sedap. Dianjurkan memakai siwak atau gosok gigi sebelum berangkat ke masjid.

Ketiga, jangan membicarakan urusan dunia di masjid. Jangan mencari barang yang hilang di masjid. Jangan pula bicara bisnis di sini. Hal ini akan menjadikan kita tetap dalam keadaan mabuk dunia, lalai terhadap akhirat. Dalam kaitan ini salah seorang ulama berkata, "Shalat adalah bagian dari akhirat. Jika aku sudah di dalamnya berarti aku keluar dari dunia."

Keluar dari dunia bagaimana mungkin? Jasad kita tetap di dunia tapi ruh kita yang keluar darinya. Itulah yang digambarkan oleh Nabi dalam sebuah haditsnya, RShalat adalah miUrajnya orang beriman.S Jika Nabi pernah melakukan mirajnya sampai ke Sidratul Muntaha, maka lewat shalat kita bisa mencapainya juga. Bedanya Nabi mirajnya dengan jasad sekaligus ruh.

Memang tidak banyak orang sampai pada tingkatan ini. Untung pada waktu takbiratul ihram sempat ingat bahwa hendak melakukan shalat. Malah lebih banyak yang tidak ingat apa-apa, kecuali sekadar gerakan badan yang secar otomatis saja. Tak ada bedanya dengan robot yang sudah batal gerakannya.

Dalam hal ini Rasulullah bersabda; "Adakalanya orang-orang bershalat, namun tidak diterima darinya setengahnya atau sepertiganya atau seperlimanya atau seperenamnya atau sepersepuluhnya. Sesungguhnya shalat yang diperhitungkan bagi seseorang hanyalah sekadar yang dikerjakannya dengan sadar." (HR Ahmad)

Shalat yang dikerjakan setengah sadar atau tanpa kesadaran tidak diterima pahalanya di sisi Allah. Tidak ada pengaruhnya terhadap tingkah laku dan perbuatannya. Itulah sebabnya ketika hendak shalat kita harus sadarkan diri dulu, jangan mendekati shalat dalam keadaan mabuk.

Dalam hal ini salah seorang ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud mabuk dalam konteks ayat ini bisa mabuk karena minuman keras, atau mabuk karena cinta kepada dunia. Tidak sedikit orang yang sedang mengerjakan shalat tapi sambil membuat program setelah selesai shalat. Mereka membuat rencana ke sana atau ke sini bahkan mengkalkulasi untuk ruginya. Itu dikerjakan ditengahtengah melaksanakan shalat. Itulah diantara yang disebut mabuk.

Sebaiknya kita kejakan shalat pada saat betul-betul sudah siap mental untuk meninggalkan segala urusan duniawi. Jika sudah disuguhi makan, maka makanlah terlebih dahulu. Lebih baik makan sambil ingat shalat, daripada shalat sambil mengingat makan.

Rasulullah pernah bersabda: "Bila kamu shalat, jadikanlah itu seolah-seolah shalatnya orang yang mengucapkan selamat tinggal." (HR Ibnu Majah, Hakim dan Baihaqy)

Begitu takbiratul ihram seolah-olah kita katakan selamat tinggal diriku, selamat tinggal hawa nafsuku, selamat tinggal keluargaku, selamat tinggal duniaku. Kini aku sedang menuju kepada jalan Allah. Aku sedang akan menemui-Nya.

Hati kita, jiwa kita sepenuhnya kita hadapkan kepada Allah. Kini seakan-akan kita telah memenuhi panggilan Allah: RHai manusia sesungguhnya kamu bekerja keras menuju Tuhanmu dan kamu pasti menjumpai-Nya (84:6)

Ketika shalat hendaklah disadari bahwa sesungguhnya kita sedang berhadapan dengan Allah, berbincang-bincang dengan-Nya. Surat atau ayat yang kita baca, demikian juga doa yang kita lantumkan adalah perkataan kita kepada-Nya. Alangkah bodohnya bila kita membaca surat sedang kita tak mengerti maksudnya, tak juga menghayatinya.

Nabi pernah mengerjakan shalat dan didalamnya beliau melewatkan satu ayat. Ketika mengakhiri shalatnya beliau bertanya: Apa yang kubaca tadi? Para jamaah diam semua kecuali Ubay bin Ka'ab yang berkata: "Anda tadi membaca surat anu dan meninggalkan ayat anu. Kami tidak tahu apakah ayat tersebut telah dinashakhkan atau di tarik kembali." Beliau bersabda: "Engkaulah yang benar wahai Ubay." Kemudian beliau ucapannya kepada para sahabat lainnya: "Mengapa ada orang yang menghadiri shalat dan memenuhi barisan, sedangkan Nabi mereka ada diantara mereka, sementara mereka tidak memperhatikan ayat-ayat kitab Allah yang dibacakan kepada mereka ? Ketahuilah, Bani Israel telah berbuat seperi kalian, maka Allah mewahyukan kepada Nabi mereka agar mengatakan: "Kalian hadirkan untuk-Ku ucapan-ucapan kalian, tetapi jiwa-jiwa kalian jauh dari-Ku. Sungguh sia-sia perbuatan kalian." (HR.Nasa'i)

Wallahu A'lam.




loading...