Mereka Tidak Mengemis, Jangan Kau Tawar Dagangannya Dengan Harga Sadis!




Mungkin kamu pernah bertemu dengan pedagang kaki lima atau pedagang asongan yang menjajakan dagangan mereka? Mungkin, ketika kamu kehausan siang bolong di tengah macet ada seorang penjual minuman keliling yang menjajakan dagangannya di bawah terik matahari. Kamu pun bermaksud membelinya untuk memenuhi rasa dahaga. Ketika harga yang ditawarkan lebih mahal beberapa perak. Kamu pun menawar, namun karena harga tak kunjung turun akhirnya tak jadi membeli.

Mereka Tidak Mengemis, Jangan Kau Tawar Dagangannya Dengan Harga Sadis!


Di waktu lain, kamu begitu sering belanja di minimarket, mengambil barang yang ingin kamu beli tanpa perlu menawar saat akan membayar ke kasir. Di sekeliling kita pun, ada banyak pedagang kecil yang mungkin sering kita dzalimi.

Mungkin, secara tak sadar kita sering mengumpat ketika pedagang kecil di sekitar kita memberikan harga yang sepertinya terlalu mahal buat kita.

“Bapaknya mau naik haji kalik nih masa kacang rebus aja lima ribu!”

Sementara kita biasa merasakan barang serupa di cafe, mall, atau restaurant dengan harga yang lebih mahal berkali-kali lipat dari harga yang diberikan pedagang tersebut.

Namun, tak sedikit pun kita merasa kemahalan dengan harga yang ditawarkan. Barangkali kita akan menjawab secara logis, ya tentu saja, karena di tempat-tempat tersebut ada pajak, sewa tempat, dan banyak hal yang dibebankan kepada pembeli.

Andai kamu tahu, pedagang kecil di sekeliling kita harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan dagangan, pulang lebih larut agar dagangannya habis dan tidak tersisa. Ada biaya ‘pungutan liar’ yang mungkin harus mereka keluarkan saat berjualan di jalanan. Mereka juga harus berani mempertaruhkan keselamatan diri mereka untuk berjualan di tengah jalan atau naik turun kendaraan dalam keadaan berjalan.

Mereka Tidak Mengemis, Jangan Kau Tawar Dagangannya Dengan Harga Sadis!


Sebenarnya mereka tak ingin dikasihani. Mereka tidak mengemis atau meminta sedekah. Yang mereka inginkan adalah kita membeli dagangan mereka jual dengan ikhlas. Kadang tak jarang kan kita menemui pedagang seperti ini yang sudah lanjut usia. Mereka selalu gigih menjajakan barang dagangannya dengan sopan. Dengan segala keterbatasannya, mereka tetap berjuang mencari rezeki dan bukan hanya berpangku tangan mengharapkan bantuan. Mereka bekerja mencari nafkah dengan cara yang halal dan diridhoi Allah subhanahu wa ta'ala.

Seharusnya, kehadiran mereka di tengah-tengah kita bisa menjadi cambuk penyemangat kaum muda. Dengan pendidikan yang lebih dan nasib yang jauh lebih beruntung dari mereka, kita harus lebih semangat dan optimis menghadapi hidup.

Jika kebetulan kamu bertemu dengan mereka di jalan, carilah alasan untuk membeli dagangan mereka, walau sebenarnya kita gak terlalu butuh.

Mereka Tidak Mengemis, Jangan Kau Tawar Dagangannya Dengan Harga Sadis!


Rasulullah mengajarkan pada kita untuk menyayangi penduduk bumi, terlebih pada orang-orang lemah, kaum fakir miskin. Sebagaimana wasiat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Kepada Abu Dzar Al-Ghifari yang juga ditujukan untuk kita berikut ini.


عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا

Dari Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu 'alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal:

(1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka,
(2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku,
(3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku,
(4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah),
(5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit,
(6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan,
(7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.

(HR. Imam Ahmad, Ibnu Hibban dan Baihaqi)


Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud)

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ

Sesungguhnya Allah hanya akan menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang.” (HR. Bukhari)

Dengan niat menolong orang-orang miskin dan lemah, kita akan memperoleh rezeki dan pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam hadits disebutkan bahwa Sa’ad menyangka bahwa ia memiliki kelebihan dari sahabat lainnya karena melimpahnya dunia pada dirinya, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ

Kalian hanyalah mendapat pertolongan dan rezeki dengan sebab adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian” (HR. Bukhari)

Dalam lafadz lain disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذَهِ اْلأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا: بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلاَتِهِمْ، وَإِخْلاَصِهِمْ

“Sesungguhnya Allah menolong ummat ini dengan sebab orang-orang lemah mereka di antara mereka, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka” (HR. An Nasai)





loading...