Kisah Nyata: Tak Pernah Peduli Dengan Keluarga dan Orang Terdekat, Ini Yang Akhirnya Terjadi




Tanggal 31 Desember tahun 2015 silam merupakan hari meninggalnya kakak kandung mama, akibat stroke-pecah pembuluh darah. kami semua sangat kehilangan sosok seorang uwa yang lembut perangainya,santun dalam setiap perilakunya, ringan tangan membantu siapapun yang membutuhkan bantuannya. semua atas izinNya, tidak membiarkan uwa berlama-lama menderita, hanya kurang lebih 12 jam dari serangan stroke, Allah langsung memanggilnya.

Kisah Nyata: Tak Pernah Peduli Dengan Keluarga dan Orang Terdekat, Ini Yang Akhirnya Terjadi


Sangat berbeda dengan kepribadian mama sebagai adik kandung yang hanya 2 bersaudara, bisa diibaratkan seperti perangai bawang putih dan bawang merah. meski demikian adanya, saya tidak bisa memilih uwa yang baik sebagai mama kandung saya.

3 hari setelah tahlilan 40 hari mendiang uwa, saya dan keluarga di Jakarta dikejutkan dengan kabar bahwa mama kena serangan stroke. saya beserta suami dan anak bersiap pergi ke Rumah Sakit. dokter melakukan scan di kepala dan pemeriksaan. hasil diagnose dokter mama terkena stroke ringan. kelumpuhan sebagian tubuhnya masih bisa kembali normal dalam masa golden moment. 'masih ada harapan' pikirku dan adik.

Saya sedikit bingung kenapa dikategorikan stroke ringan padahal, separuh tubuhnya sebelah kiri itu lumpuh.mungkin juga karena mulutnya tidak bengkok. bicara lancar, mama masih bisa komunikasi dengan sangat baik.mama minta di photo saat lemah terbaring.dan minta agar photo tersebut dishare melalui BBM/WA untuk dikirim ke semua anaknya juga saudara sepupunya atau para tetangga dll. kami semua heran dengan perilaku mama itu, tapi kami mengikuti kemauan mama agar mama bisa tenang.

10 hari dirawat di rumah sakit, mama sering mengganggu pasien lain dengan berteriak, menendang dengan kaki kanannya, memukul dinding dengan tangan kanannya hanya agar dia diperhatikan. perilaku mama seperti sebelum sakit, dia ingin melakukan segala aktifitas orang sehat seperti minta mandi dikamar mandi, minta makan nasi goreng, dll yang dilarang oleh perawat. kami semua sedih melihat kondisi mama seperti itu, hanya bisa meminta maaf kepada dokter, para perawat juga pasien lain yang satu blok khusus sakit stroke ringan. hanya mama satu-satunya pasien stroke yang berperilaku aneh menurut perawat.

Kami berupaya selain berdoa juga mengundang para Ustadz dan Kai untuk memberikan tausiah dan pencerahan kepada mama, agar hati dan jiwanya bisa tenang, tawakal menerima kondisinya. meskipun hanya sedikit sekali perubahannya, tapi kami tetap berupaya berdoa dan membantu mama agar pasrah.

Alhamdulillah hari ke 11 mama diijinkan pulang. mama diboyong ke rumah adik lelakiku yang ke 3 untuk perawatan karena separuh bagian tubuh sebelah kirinya jadi lumpuh. dan kami semua anak mama piket bergantian merawat mama.

Tepat 1 bulan, mama dilatih untuk bisa berjalan ke kamar mandi, meskipun sepertinya mama terlihat tidak bersemangat atau lebih tepatnya tidak mau berusaha untuk mencoba. sering berteriak, melotot, marah sama pelatih bahkan pernah menjatuhkan dirinya sendiri.

Mama sering sekali marah, menanyakan kenapa selama mama sakit. si A,B,C tidak menjenguknya, bahkan mama minta disambungkan mau bicara dengan bibinya (adik mamanya) yang tidak menjenguknya. tanpa berpikir panjang kebetulan hari itu saya piket jaga mama, lalu saya sambungkan dengan bibinya.

Innalillahi ternyata mamaku tercinta malah memancing kemarahan bibinya karena berulang-ulang menanyakan mengapa tak pernah datang menjenguknya, bahkan mama menyindir apa perlu dijemput pakai pesawat, bibinya langsung menutup telepon dan tidak pernah satu kalipun datang menjenguk mama.

Kami sangat prihatin, karena selama ini mama jarang perduli dengan siapapun. kecuali kepentingan dan urusannya sendiri. sangat jarang menjenguk orang sakit, besan meninggalpun mama tidak berusaha menyempatkan waktu untuk datang berkabung bersama kami. mama hanya datang beberapa menit saja ketika kakak kandung satu-satunya terkena stroke di RS, padahal sepatutnya mama melepas kepergian kakaknya.

Yang terparah mengurus mendiang suaminya yang sakit tidak berdaya setelah operasi kelenjar prostat pun selalu berteriak memakinya. bahkan sampai sakaratul maut menjemput bapak, bukan mama yang minta maaf tetapi almarhum yang pamit mengucapkan terima kasih karena selama ini sudah merawat bapak selama sakit, bapak minta maaf karena sudah menyusahkan mama dll,sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Jumat yang insha Allah khusnul khotimah, Aamiin.

Berkat kasih sayangNya, Alhamdulilah pada bulan ke 3 mama sudah bisa berjalan meskipun kondisinya tidak seperti sebelumnya. mama jadi cacat karena tangan kirinya belum normal, berjalan diseret dan masih perlu bantuan orang lain untuk melakukan semua aktifitasnya.

Pelajaran yang bisa saya bagikan adalah, lakukakan setiap perbuatan dengan niat ibadah.berbuat baiklah selalu dengan tulus ikhlas tanpa mengharapkan imbalan kepada siapapun.karena apa yang kita tanam pasti akan tuai.

Wawlahu a’lam bisshawaab.


Konten ini adalah kiriman dari pembaca kabarmakkah.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami melalui email infomakkah@mail.com