Kisah Haru Hijrahnya Additional Player 'Noah' Ihsan Nurrahman




Saat ini banyak artis atau musisi yang berhijrah untuk mendalami islam dan meninggalkan dunia hiburan. Salah satunya adalah Ihsan Nurrahman yang merupakan seorang musisi dan spesialisasi dalam gitar bass.

Kisah Haru Hijrahnya Additional Player 'Noah' Ihsan Nurrahman

Sepintas tidak banyak yang mengetahui Ihsan karena memang ia bukanlah jajaran musisi utama sebuah band, melainkan hanya seorang additional player dari band Noah. Meski hanya menjadi seorang additional player, keterlibatannya dalam band Noah memang tidak bisa dianggap sebelah mata. Pasalnya ia ikut andil dalam pembuatan lagu Separuh Aku dan Tak Lagi Sama dalam album Noah yang berjudul Seperti Seharusnya.

Sebelumnya drummer Noah, Reza telah terlebih dahulu hijrah dan meninggalkan profesinya di dunia hiburan setelah mengalami sejumlah kejadian yang membuatnya fokus mendalami agama. Lantas bagaimanakah kisah dari Ihsan Nurrahman terkait hijrahnya tersebut?

Dituturkannya dalam sebuah tayangan televisi bahwa sejak kecil dirinya sangat ingin menjadi seorang artis terkenal dan memilih menjadi seorang musisi. Tak heran jika sejak usia Sekolah Menengah Pertama, ia rajin mempelajari alat musik bass. Ia pun sudah mengisi di berbagai kafe dan sempat menjadi additional player di band Laluna, Numata hingga akhirnya berlabuh di Noah.

Kesempatan bermain dengan band yang memiliki nama besar tersebut tentu menjadi sebuah kebanggaan sekaligus menjadi jalan baginya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan selama ini.

Namun kian hari hatinya menjadi kian kosong, meski sudah sedikitnya merasakan sebuah ketenaran. Saat itu ia tak sempat berpikiran untuk mendalami agama karena sibuk dengan dunianya.

Dirinya kemudian berpikir tentang kehidupan yang akan ia jalani, tentang karyanya dan posisinya saat ini. Merasakan sebuah kegalauan yang amat sangat, membuat Ihsan pun berinisiatif untuk mengikuti rombongan jamaah drummer Noah yaitu Reza di salah satu masjid di Bandung. Harapannya tentu saja agar bisa memiliki ketenangan hati dan tujuan hidup yang jelas.

Setelah dipaksakan untuk diam atau beritikaf di masjid selama 24 jam, hati Ihsan pun mulai menjadi lebih peka. Setiap kali mendengar adzan, hatinya langsung bergetar. Bahkan sholat pun kini tidak pernah ia tinggalkan.

Yang lebih mengharukan adalah ketika bersilaturahmi dengan para tetangga dekat masjid di tempat tinggalnya. Nampak Ihsan tak kuasa untuk membendung rasa harunya ketika bertamu ke setiap rumah dan bertemu dengan para tetangganya. Ia pun langsung merasakan sebuah dosa yang amat besar terhadap diri pribadi dan lingkungan sekitarnya.

“Berapa banyak orang yang saya lalaikan terhadap Allah gara-gara musik? Berapa orang yang meninggalkan sholat karena ingin menonton saya 1,5 jam?” ucapnya.

Kini Ihsan pun mulai belajar mendalami agama dan menerapkannya. Dirinya pun tak lagi bermain musik dan memilih untuk berwirausaha di bidang pakaian muslim.

Ihsan kemudian mengakui bahwa musik yang selama ini ia impikan untuk mencapai ketenangan, justru tidak pernah ia dapatkan.

“Yang salah ternyata bukan lingkungan saya, tapi ternyata ada pada diri saya. Hati ternyata bukan tempatnya untuk dunia. dunia itu untuk digenggam, bukan dimasukkan ke hati. Ketika saya memasukkan agama, saya memasukkan Allah, saya merasakan ketenangan,” pungkasnya.

Baca Juga: