Dilema Belajar Agama Melalui Mbah Google, Haruskah Ditinggalkan?




Meskipun kita semua sepakat bahwa belajar agama harus dengan jalan berguru kepada ulama yang ahli di bidangnya, namun bukan berarti belajar melalui internet atau Google harus kita tinggalkan. Memang kita tidak memandang bahwa internet itu sebagai satu-satunya sumber ilmu agama, namun fungsi dari internet hanyalah sebagai media saja.

Dilema Belajar Agama Melalui Mbah Google, Haruskah Ditinggalkan?


Dan dalam belajar ilmu agama, selain keberadaan seorang guru yang ahli di bidangnya, tidak bisa dipungkiri bahwa kita butuh media pembelajaran. Di antaranya kita butuh kitab untuk membaca ilmu agama yang sudah ditulis oleh guru-guru kita.

Dan seorang guru pun juga wajib menuliskan semua ilmunya agar tidak hilang ditelang oleh zaman. Oleh karena itu sang guru juga butuh pena, tinta, lembaran kertas bahkan mesin cetak untuk menyebarkan ilmunya yang sangat berharga untuk umat di zamannya maupun setelahnya.

Jika di masa lalu buku atau kitab itu berbentuk lembaran kertas yang dicetak dan dijilid, maka di masa modern ini buku atau kitabnya bisa saja berbentuk buku elektronik, baik berupa website yang berisi banyak tulisan ilmu atau berformat file komputer semacam pdf dan sejenisnya.

Internet itu ibarat buku, Dan Google merupakan mesin pencari buku yang ada atau perpustakaannya. kita harus senantiasa berhati-hati karena tidak semua buku itu baik. Ada buku yang baik dan ada buku yang tidak baik. Namun tidak ada yang memungkiri bahwa buku atau kitab adalah salah satu media yang cukup bermanfaat, dimana kita bisa mendapatkan ilmu agama yang luas. Demikian juga dengan internet, ada yang isinya baik dan ada yang isinya buruk.

Namun saya sepakat bahwa media buku atau internet saja, tentu belum cukup untuk mendapatkan ilmu secara baik, apalagi sempurna. Jadi sifatnya hanya membantu, dan bukan yang utama.

Wallahu a'lam bishshawab. (Ahmad Sarwat, Lc., MA)