Beli Dari Hasil Nabung, Tukang Ojek Ini Justru Wakafkan Tanahnya Untuk Kepentingan Sosial




Beli Dari Hasil Nabung, Tukang Ojek Ini Justru Wakafkan Tanahnya Untuk Kepentingan Sosial
Dindin Muhidin dan istrinya di sekitar tanah wakaf (act.id)
Beli Dari Hasil Nabung, Tukang Ojek Ini Justru Wakafkan Tanahnya Untuk Kepentingan Sosial

Banyak yang menyangka bahwa untuk bisa mewakafkan sebidang tanah atau bangunan haruslah mereka yang memiliki harta melimpah dan berkecukupan. Padahal kenyataannya tidaklah demikian. Banyak orang yang hidup pas-pasan mampu mewakafkan harta mereka tanpa harus menunggu kaya dahulu.

Seperti itu juga yang dilakukan oleh seorang tukang ojek bernama Dindin Muhidin yang mewakafkan tanah hasil dari tabungannya untuk kepentingan sosial.

“Kami bermaksud mewakafkan tanah kami tersebut untuk kepentingan sosial,” ucapnya sebagaimana dilansir dari ACT, Senin (1/8/2016).

Tukang ojek yang sehari-hari beroperasi di sekitar Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat tersebut mewakafkan tanahnya yang berada di Kampung Bontit, 03/02 Desa Sukamanah, Kecamatan Jambe Kabupaten Tangerang.

Warga desa Jagapita, Kecamatan Parung Panjang Kabupaten Bogor yang akrab disapa Choki ini memang cukup menempuh jarak yang jauh menuju tempatnya mengojek. Ia baru pindah setahun yang lalu ke Bogor dan sebelumnya bertempat tinggal di Tangerang.

“Saya ngojek sejak tahun 1998. Pulang pergi saja Jakarta-Tangerang,” tuturnya.

Setiap harinya ia kerap menyisihkan sebagian pendapatan untuk nantinya digunakan membeli tanah seluas 524 meter persegi.

Beli Dari Hasil Nabung, Tukang Ojek Ini Justru Wakafkan Tanahnya Untuk Kepentingan Sosial
Tanah yang diwakafkan (act.id)
“Waktu itu harganya sangat murah. Hanya 50 ribu rupiah permeter. Sekarang sudah 200 ribuan.” lanjutnya.

Ayah dari tiga anak ini pun memiliki alasan lain mengapa ia mewakafkan tanah tersebut. Ternyata selain memiliki keinginan pribadi, ia juga kerap mendapatkan amanah berupa uang dari teman-temannya agar digunakan dalam kegiatan sosial.

“Pertama saya ini suka mendapatkan amanah dari kawan-kawan yang berduit di Jakarta untuk membagi-bagikan uang untuk berbagai keperluan sosial. Tak hanya itu, saya juga diamanati uang 30 juta rupiah oleh orang kaya di Jakarta untuk membangun mushola di desa ini. Diminta membagikan uang zakat, makanan dan sebagainya. Jadi dari situ jiwa sosial saya terbentuk,” ucap Didin.

Bersama dengan sang istri, Didin juga ikut terlibat dalam kegiatan agama dan sosial seperti dalam panitia kurban ataupun penggalangan dana untuk rumah ibadah.

Berbekal pengalaman tersebut ia pun mantap mewakafkan tanahnya dan ingin aktif menjadi bagian dalam kepengurusan atas pengelolaan tanah tersebut.

“Saya berharap di atas tanah itu dibangun suatu aktivitas sosial ekonomi dan saya bersama istri ikut bergabung di dalamnya sebagai pengurus, sehingga ikut dalam aktivitas sosial dalam keseharian kami,” pungkasnya.

Baca Juga:





loading...

close ini