Belajar Agama Lewat Internet, Sesatkah?




Jika di zaman dahulu seorang guru agama mengajarkan ilmunya dengan cara didatangi oleh murid-muridnya, baik di madrasah, pondok pesantren atau bangku perkuliahan, maka di era teknologi yang serba canggih sekarang ini ada banyak cara yang lebih mudah, cepat dan lebih praktis yang bisa dilakukan.

Belajar Agama Lewat Internet, Sesatkah?


Katakanlah seorang ulama besar sekaliber Dr. Yusuf Al-Qardhawi, jika kita ingin serius belajar kepada beliau, kita harus terbang 9 jam non-stop ke Doha Qatar, negara dimana beliau bertempat tinggal. Atau jika kita mau belajar kepada mufti Negara Mesir Syeikh Ali Jum'ah, maka kita harus menghabiskan paling tidak 10-11 jam terbang ke negeri Piramid Mesir.

Disana, belum tentu beliau-beliau itu punya waktu luang, sebab mereka adalah orang-orang yang sangat sibuk, tiap hari banyak jadwal padat saling tumpang tindih. Itulah yang saya alami ketika berkesempatan terbang ke Doha, jauh-jauh pergi kesana untuk belajar pada Syaikh Yusuf Qardhawi, ternyata beliau sedang melakukan safari dakwah ke Eropa dan aktif berdakwah disana.

Maka, jika beliau berceramah secara live di depan kamera televisi Al-Jazeera misalnya, bisa dipastikan orang yang bisa belajar dari ilmu beliau akan menjadi jutaan jumlahnya. Sebab tanpa harus jauh-jauh datang ke Qatar atau ke Mesir, kita bisa menyaksikan majlis taklim yang beliau siarkan lewat layar kaca. Boleh dibilang nyaris tanpa biaya.

Dan apa yang beliau ceramahkan itu oleh pihak televisi Al-Jazeera ternyata juga diupload di laman youtube.com, sehingga kapan saja kita bisa memutar videonya, bahkan mereka yang tidak punya antena parabola di rumahnya, bisa dengan mudah mendownload filenya dan diputar lewat komputer.

Tentu kita tidak bisa mengatakan bahwa cara ini adalah sesat, sebab gurunya jelas-jelas orang yang alim 'allamah. Beliau berdua, Al-Qardhawi dan Ali Jum'ah, masing-masing adalah mufti resmi Qatar dan Mesir. Rakyat di kedua negera itu mendengarkan fatwa-fatwa mereka baik melalui layar kaca maupun melalui internet.

Wallahu a'lam bishshawab. (Ahmad Sarwat, Lc., MA)