Sebenarnya, Ini Hari Raya atau Hari Riya?




Hari Raya Idul Fitri telah datang. Musim mudik menjadi tradisi rutin tahunan yang wajib dilakukan. Apakah yang mudik itu ikut berpuasa atau tidak bukan menjadi sebuah pertanyaan penting. Yang terpenting adalah mudik pulang kampung untuk bersilaturrahim dengan keluarga dan sanak famili. Hari rayapun benar-benar menjadi "Raya," yang secara harfiah berarti ramai-ramai dan besar-besaran.

Sebenarnya, Ini Hari Raya atau Hari Riya?
Repro: dw.com


Jalan raya penuh sesak dijejali dengan berbagai jenis kendaraan, mulai dari roda dua, roda empat dan jenis kendaraan lainnya. Sebagian ada yang menyewa, ada pula sepeda motor dan mobil pribadi. Angka penjualan kendaraan sepeda motor dan mobil menjelang lebaran naik drastis dibandingkan dengan waktu lainnya. Pusat rental mobil pun sampai kekurangan armada untuk melayani permintaan yang tak seperti biasanya.

Tak lupa, Penampilan diri dan performa di hari raya terlihat lebih menawan, rapi dan mewah dibandingkan dengan performa di hari lainnya. Baju baru dan berbagai aksesoris kehidupan seperti smartphone dan barang elektronik lainnya akan menjadi trend dan isu utama pada hari raya. Konsumerisme menjadi pemandangan umum, baik di pasar tradisional hingga mall, plaza dan pusat perbelanjaan lainnya.

Melihat fenomena tersebut, Muncullah pertanyaan: "Sebenarnya, ini hari raya apa hari riya?"

Hari raya sejatinya adalah hari perayaan kesuksesan diri (wisuda) dalam melatih diri sendiri selama sebulan puasa Ramadhan untuk menjadi pribadi yang kembali fitrah dan suci. Karena itulah titel yang disematkan padanya adalah "al-aidin wa al-faizin" (orang-orang yang kembali suci dan yang beruntung).

Titel tersebut bukanlah sesuatu yang mudah untuk didapat karena kembali suci meniscayakan kita untuk me-restart diri demi kembali seperti asal semula, yakni tak ada kebencian, tak ada dendam, tak ada kebohongan dan yang ada adalah cita, ketulusan dan kejujuran.

Kembali suci berarti kembali seperti anak bayi yang baru dilahirkan, yakni hidup apa adanya dan menerima apa adanya yang telah menjadi bagian dirinya. Bayi yang berebut susu (payudara) mana yang akan akan ditetek (disusu). Yang ada dihadapannya adalah menjadi takdirnya. Bayipun sangat tulus dalam menangis dan tersenyum. Tangis dan senyumnya adalah jujur, jauh dari motif dan politik yang terpendam. Dan Qana'ah adalah kata yang tepat untuk menggambarkan jiwa seorang bayi.

Qana'ah adalah satu-satunya modal jika kita tidak ingin terjebak dalam kompetisi kehidupan yang tidak sehat, yang mampu mengalihkan hari raya menjadi hari riya. Para salaf masa lalu berfatwa demi kebahagiaan kita: "Hidup itu hanyalah sesaat, gunakan ia untuk taat. Nafsu itu aslinya serakah, biasakan ia untuk qana'ah."

Rasulullah bersabda: "Sungguh berbahagia orang yang menjadi Islam, kemudian diberikan rizki yang cukup, serta Allah memberikan sifat qanaah atas apa yang diberikan kepadanya."Ini adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Ada banyak hadits lain yang senada dengan hadits tersebut yang menekankan dahsyatnya kekuatan qanaah dalam menjadikan hidup tenang dan bahagia.

Anehnya, begitu sulit untuk bersifat qanaah dan menyukuri apa yang ada. Kebanyakan manusia adalah terlarut dalam ketamakan dan keinginan tanpa ujung karena memperbandingkan apa yang dialaminya dengan apa yang terjadi pada orang lain yang dirasanya lebih "bahagia."

Yang sudah menikah berkata: "Andai masih bujangan." Yang membujang berkata: "Andai aku sudah menikah." Yang kaya berkata: "Andai pikiran saya setenang orang miskin itu."Yang miskin berkata : "Andai saya kaya." Yang tua berkata: "Andai masih muda." Yang muda berkata: "Andai masih jadi anak-anak."Yang masih anak-anak berkata: " Kapan aku besar ya?"

Lalu, apa sesungguhnya pengertian dari qana'ah? Ibnus Sunni dalam kitabnya al-Qanaah mengartikannya sebagai "Ridho atas apa yang dibagikan Allah meski sedikit." Sementara al-Raghib dan al-Jahidz mendefinikasikannya sebagai "Mengambil cukup dari apa yang dibutuhkan." Ulama lain menyebut qanaah sebagai sikap tidak menginginkan apa yang dimiliki orang lain.

Jika demikian, tidak bolehkah kita memiliki keinginan atau cita-cita? Lalu, dimanakah optimisme dan harapan? Apa tidak bertentangan dengan qana'ah?

Bercita-cita dan optimisme adalah hal yang dibolehkan bahkan dianjurkan, namun ketika Allah tetapkan qadar tertentu atau kenyataan berbicara lain dari yang diinginkan, maka terimalah ketentuan itu dengan penuh ridho. Oleh karenanya dibutuhkan kecerdasan hati untuk menyeimbangkan antara keinginan dan potensi diri dengan apa yang telah ditetapkan olehNya.

Stress atau depresi yang pada akhirnya mengarah pada tindakan tidak wajar seperti penyimpangan perilaku dan bunuh diri seringkali terjadi karena value deprivation, sebuah kondisi di mana gap antara harapan dan kenyataan itu sangatlah lebar. Hanya mereka yang memiliki kualitas iman yang baik yang akan mampu menjalani tetesan takdir dengan tegar penuh senyuman.

Ibnu Mas'ud berkata: "Yang paling kuharap dari rizki adalah ketika orang berkata: Tak ada tepung di rumahku."

Imam Ahmad berkata: "Hari-hari yang paling membahagiakanku adalah saat aku tak punya apa-apa lagi."

Bagi mereka, tak memiliki apapun adalah hal biasa selama masih memiliki Allah SWT.

Sungguh dunia ini begitu menggoda. Godaan dunia sungguh melalaikan dan melenakan kita semua. Begitu banyak orang menjadi selamat karena tak dikepung oleh dunia, dan betapa banyak orang yang terdampar dalam derita karena tak tahan dengan kepungan dunia. Selamat hari raya, jangan sampai menjadi hari riya.