Pesan Nabi Isa: 'Inilah Contoh Dunia, Maka Berhati-hatilah Kamu Kepadanya!'




Suatu ketika, Nabi Isa berjalan dengan seorang sahabatnya yang baru ia kenal. Keduanya menelusuri tepi sungai dan membawa tiga potong roti. Untuk Nabi Isa sepotong roti, sepotong lagi untuk sahabat barunya dan masih tersisa sepotong roti.

Pesan Nabi Isa: 'Inilah Contoh Dunia, Maka Berhati-hatilah Kamu Kepadanya!'


Setelah makan Nabi Isa pergi ke sungai untuk minum. Sekembalinya dari sungai, Nabi Isa mendapati roti yang tersisa tadi sudah tidak ada di tempatnya. Ketika beliau bertanya kepada sahabatnya, sang sahabat mengaku tidak tahu. Keduanya pun kembali melanjutkan perjalanan.

Sesampai di sebuah hutan, keduanya duduk untuk beristirahat. Nabi Isa mengambil tanah dan kerikil, kemudian beliau berkata: "Jadilah emas dengan izin Allah." Tiba-tiba kerikil itu pun berubah menjadi emas. Kemudian Nabi Isa membagi emas tersebut menjadi tiga bagian. "Untukku sepertiga, dan kamu sepertiga, sedang sepertiga ini untuk orang yang mengambil roti."

Spontan sahabat itu menjawab, "Akulah yang mengambil roti itu." Nabi Isa kemudian berkata, "Ambillah dua bagian ini untukmu." Dan keduanya pun berpisah.

Dalam perjalanan, sahabat nabi Isa dihadang oleh dua orang perampok yang ingin akan membunuhnya. Sahabat Nabi Isa menawarkan, untuk membagi emas yang dibawanya menjadi tiga asalkan ia tidak dibunuh. Kedua perampok pun setuju.

Salah seorang perampok menyuruh rekannya pergi ke pasar untuk berbelanja makanan. Ketika sampai di pasar, orang yang berbelanja itu berfikir untuk apa membagi emas itu menjadi tiga. Ia pun menaburkan racun ke dalam makanan agar temannya dan nabi Isa mati dan ia pun dapat memiliki seluruh emas tersebut.

Tinggallah sahabat nabi Isa bersama seorang perampok di hutan itu. Namun perampok yang tinggal itu ternyata berpikiran sama seperti yang sedang pergi ke pasar. Ia bersekongkol dengan sahabat Nabi Isa untuk membagi emas itu berdua saja dan membunuh rekannya yang berbelanja makanan jika ia datang.

Ketika orang yang berbelanja itu datang, ia pun dibunuh, hartanya akan dibagi dua. Karena merasa lapar keduanya pun menyantap makanan yang telah diberi racun itu hingga mereka mati.

Ketika Nabi Isa berjalan melewati hutan tersebut, beliau menemukan emas di samping tiga mayat yang terbujur kaku. Beliau kemudian berkata "Inilah contoh dunia, maka berhati-hatilah kamu kepadanya."

Begitulah gambaran manusia yang sudah diliputi iri dengki dan keserakahan, Mereka bisa saja mengorbankan siapa pun yang dianggap jadi penghalang nafsunya. Penyakit ini akan terjadi pada setiap generasi, termasuk pada umat Nabi Muhammad SAW.

Orang yang lumpuh akan berkata, "Alangkah enaknya berjalan." Orang yang berjalan justru membayangkan kenikmatan orang yang bersepeda, orang yang bersepeda pun masih menganggap lebih baik orang yang naik motor. Yang naik motor pun belum puas sehingga ingin meniru memiliki mobil.

Seperti kita ketahui, Tabiat nafsu itu akan terus dahaga. Oleh karena itu dalam sebuah hadits disebutkan,

"Perhatikanlah orang yang lebih rendah kedudukan (sosialnya) darimu, dan janganlah sekali-kali engkau melihat orang yang lebih tinggi (kaya) darimu. Demikianlah sikap yang layak agar kalian tidak melupakan nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian." (HR. muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah)

Inilah syukur nikmat. Orang yang memiliki mobil akan bersyukur ketika melihat orang lain yang masih naik motor atau sepeda. Orang yang berjalan pun akan merasa cukup dan berterima kasih manakala melihat orang lain justru terkapar di rumah sakit, demikian seterusnya.

Namun tabiat manusia memang lain. Mereka hanya mau terus-menerus ‘menggugat’ Allah terutama ketika ditimpa berbagai musibah. Terlebih merasa iri, hasud, dan dengki manakala melihat kehidupan orang lain yang terlihat lebih makmur.

Rasanya, ingin sekali jika ‘kesenangan’ dan ‘kebahagiaan’ orang lain itu diraihnya dengan berbagai cara sekalipun harus merebutnya secara paksa. Ingatlah, bahwa sikap iri dengki itu hanya akan menyia-nyiakan amal kebaikan yang pernah dilakukan pelakunya.

Sabda Rasulullah, “Jauhilah sikap iri dengki kepada orang lain (hasad)! Sesungguhnya iri dengki itu akan memakan amal kebaikan layaknya api melahap kayu bakar,” (H.R. Abu Dawud dari Abu Hurairah)

Sebaliknya, ia akan bersikap kikir dan pelit ketika suatu saat dianugerahi kenikmatan. Pendek kata, Jika ia sedang sedih, ia merasa orang paling sedih sedunia dan mengharapkan perasaan iba dari orang lain. Sementara ketika bahagia, ia akan lupa bahwa semua itu adalah karuniaNya. Sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur'an,

"Sesungguhnya manusia itu diciptakan dalam keadaan keluh kesah lagi kikir. Jika ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan jika mendapat kebaikan ia amat kikir." (Al-Ma'arij: 19-21)

Sesuai pesan Nabi Isa, berhati-hatilah dengan godaan gemerlap dunia. Ibarat fatamorgana, ia bukan menawarkan keindahan dan kebahagiaan yang hakiki. Yang ada tak lain hanyalah kesemuan dan tak jarang justru mencelakakan dan membawa wabah bagi pemiliknya.

Pantaslah jika Allah Subhaanahu wa ta'ala memperingatkan kita melalui Al Qur'an, "Bermegah-megah telah melalaikan kamu, sampai (akhirnya) kamu masuk ke liang kubur." (At-Takaatsur: 1-2).

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya salah satu yang aku takutkan atasmu semua sepeninggalku nanti ialah apa yang akan dibukakan untukmu semua itu dari keindahan harta dunia serta hiasan-hiasannya, yakni bahwa meluapnya kekayaan pada umat Muhammad inilah yang amat ditakutkan sebab dapat merusakkan agama jikalau tidak waspada mengendalikannya." (HR Bukhari-Muslim).

Kekhawatiran Rasulullah SAW justru pada rusaknya sikap beragama karena sifat rakus, terjebak pada kecintaan berlebihan pada dunia. Keserakahan biasanya identik sifat kikir. Dalam Alquran surah at-Taghobun ayat 16, Allah memuji orang yang bermurah hati, tidak kikir. "Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang yang beruntung."

Wallahu A'lam.