Kisah Nyata: Menjual Istri Demi Materi, Ini Yang Selanjutnya Terjadi




Husein bin Ishak (809-873 M), Adalah seorang saudagar kaya, tidak sanggup lagi menahan perasaannya. Sebenarnya ia sudah lama jatuh cinta pada Fauziah binti Abdullah. Namun sayang, wanita tersebut sudah mempunyai suami bernama Salam bin Sufyan. Mereka adalah pasangan yang bahagia walaupun hidup dengan kondisi seadanya.

Kisah Nyata: Menjual Istri Demi Materi, Ini Yang Selanjutnya Terjadi


Suatu ketika Husein menceritakan kegalauannya ini kepada sahabatnya Ismail bin Shaleh.

“Dia sudah bersuami. Apakah tidak ada wanita lain di dunia ini?” Tanya Ismail yang heran mendengar curhat Husein.

Saudagar tersebut pun menjawab dengan yakin, “Aku sangat mencintai Fauziah. Aku bahkan rela menukar apapun untuk bisa mendapatkannya.” Ismail sepakat untuk membantu Husein. Keduanya pun membuat sebuah rencana.

Beberapa hari kemudian, Ismail datang mengunjungi rumah Salam dan Fauziah. Ismail berkata bahwa saudagar Husein mengundang Salam untuk datang ke rumahnya. Salam pun terkejut, namun juga merasa tersanjung. Ia pun datang ke rumah Salam, “Selamat datang, Sahabatku.”

Sapaan sahabat membuat Salam sedikit canggung. Namun sikap ramah Husein membuat suasana menjadi cair dan hangat. “Sebenarnya ada apa saudagar mengundangku? Jika engkau sedang membutuhan bantuanku, aku akan sangat senang membantumu,” kata Salam.

“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Husein. “Meski kami dalam kondisi kekurangan, kondisi aku dan istriku baik-baik saja.” Ada harapan dari nada ucapan Salam. Mungkin saja Husein akan memberikan sesuatu.

“Sebenarnya itulah alasan kenapa aku mengundangmu kemari.” Tanggapan Husein membuat Salam terkejut. Apakah harapannya akan terwujud? Apa yang akan saudagar kaya ini lakukan? “Bagaimana keadaan istrimu?” lanjut Husein.

Salam menjawab dengan antusias, “Istriku adalah perempuan yang shalihah. Ia sangat sabar dengan kondisi kami. Ia juga tidak pernah mengeluh dan tetap menjadi istri yang berbakti padaku. Kecantikannya juga tidak pernah memudar meski kesulitan melilit.

“Maaf sahabatku, Kira-kira apa yang terjadi jika kalian bercerai?” Pertanyaan Husein membuat Salam kaget bukan kepalang.

“Pertanyaanmu ada-ada saja. Aku sangat mencintai istriku. Hanya Allah lah yang akan memisahkan kami.”

“Sebenarnya” ujar Husein dengan nada suara bergetar. “Sudah lama aku mencintai istrimu. Dia benar-benar membuatku sangat gelisah, sampai-sampai aku tidak bersemangat menjalani hari-hariku. Karena itulah, aku memanggilmu. Aku ingin menyampaikan bahwa aku akan memberikan separuh harta milikku untuk mendapatkan istrimu.”

Kekagetan membuat Salam membisu. Namun pikirannya pun berkecamuk, jika ia mempertahankan Fauziah hidupnya akan tetap miskin. Jika ia melepas Fauziah, ia akan menjadi kaya raya dalam hitungan detik. Akhirnya Salam pulang dan menceritakan perbincangan tersebut kepada Fauziah.

Mendengar perkataan suaminya, Fauziah sangat terkejut sekaligus cemas. Dan benar saja. Salam kemudian memilih untuk menceraikannya. Ia benar-benar sangat sedih karena tidak menyangka suaminya rela menukar istrinya dengan materi dan harta.

Husein pun memenuhi janjinya pada Salam. Setelah masa iddah Fauziah lewat, ia segera melamar wanita tersebut. Jawaban shalat istikharah Fauziah pun berpihak padanya. Keduanya menikah dan hidup bahagia.

Di satu sisi, Salam yang hidup mewah bergelimang harta kini mulai sakit-sakitan karena terbakar oleh api cemburu. Ia tidak mampu menerima kenyataan bahwa mantan istrinya yang cantik dan shalihah sudah bukan menjadi miliknya lagi. Lambat laun hartanya pun habis untuk biaya pengobatan.

Seperti kehidupan lamanya, Salam akhirnya kembali jatuh miskin.

Cinta yang begitu mendalam terhadap harta dan kududukan dapat mengikis agama seseorang.” (HR Aththusi)




loading...

close ini