Pemuda Makassar Ini Jadi Imam Masjid Di Amerika Serikat




Pemuda Makassar Ini Jadi Imam Masjid Di Amerika Serikat │ Banyak pemuda Indonesia yang berprestasi di kancah internasional. Namun sangat jarang yang berprestasi dalam bidang agama dan dibutuhkan oleh dunia internasional.

Salah satu pemuda Indonesia yang terpilih tersebut adalah Azizul Hakim atau yang akrab disapa Chechnya. Remaja berusia 20 tahun asal Makassar ini mendapat kesempatan untuk menjadi imam masjid di Amerika Serikat selama bulan Ramadhan.

Pemuda Makassar Ini Jadi Imam Masjid Di Amerika Serikat

Pemuda yang masih berstatus mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin tersebut merupakan salah seorang hafidz Al Qur’an alumni Tahfidzul Qur’an Ponpes Darul Istiqomah, Maros Sulawesi Selatan. Ia didaulat untuk menjadi imam masjid Al Falah di Philadelphia Amerika. Masjid itu sendiri merupakan masjid yang didirikan oleh diaspora masyarakat Indonesia yang berada di Philadelphia tahun 2008.

Keterpilihan Chechnya didasarkan atas usulan tokoh muslim Indonesia yang ada di Amerika yakni Syamsi Ali bersama dengan Ustadz Bahar yang merupakan pembimbing Chechnya dalam menghafal Al Qur’an di Ponpes. Ustadz Bahar sendiri sama juga mendapatkan kesempatan mengisi posisi imam di Masjid Al Hikmah, New York. Keduanya merupakan orang yang dipilih dari 10 hafidz yang dikandidatkan.

Sebelumnya pimpinan Ponpes Darul Istiqamah, Ustadz Muzayyin Arif memang menghadiri pertemuan internasional di Amerika mengenai perkembangan islam yang ada di Indonesia. Ternyata perkembangan tersebut ingin diterapkan juga di Amerika sehingga terjadilah sebuah kesepakatan untuk mengirimkan para penghafal Al Qur’an yang memiliki bacaan sempurna.

"Ini pengalaman luar biasa yang saya rasakan. Ini sejarah besar dalam hidup saya. Banyak yang dulu hanya sebatas mimpi dan cita-cita kini menjadi kenyataan. Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT yang memberikan kesempatan untuk merasakan nikmat ini. Imam di negeri orang tentu berbeda dengan menjadi imam di masjid indonesia. Jemaah sangat menyambut baik kehadiran saya, mereka memanggil saya Young Imam atau Young Ustad," ucap Chechnya.

Chechnya pun menjalani Ramadhan kali ini dengan suasana yang berbeda karena berada di antara mayoritas warga Amerika yang notabene bukanlah warga muslim. Selain itu ia juga tidak bisa mendengarkan adzan ketika berbuka ataupun adanya tanda imsak saat akhir sahur seperti yang ia alami di kampung halamannya.

Meski pun begitu Chechnya begitu bersemangat untuk mengamalkan apa yang ia miliki. Ia juga merasa bahwa perkembangan islam di Amerika cukup menggembirakan. Contohnya seperti di daerah Texas dimana agama islam menjadi agama kedua berdasarkan jumlah pemeluknya.

Chechnya pun harus menahan rasa rindunya untuk bertemu dengan keluarga di Indonesia karena harus menjadi imam selama sebulan penuh. Hanya komunikasi lewat ponsel yang bisa menjadi pengobat rindunya.

"Saya rindu masakan bunda dan berbagai macam kerinduan lainnya, setiap hari saya berkomunikasi lewat video call dengan bunda, keluarga dan asatidz di Indonesia, tapi sebenarnya sudah 6 tahun saya menjalankan amanah dakwah untuk umat di bulan Ramadan jauh dari keluarga, jadi sudah terbiasa," pungkasnya.
Baca Juga: Banggakan Indonesia, Pemuda Tampan Ini Rutin Jadi Imam Tarawih Di Lebanon
Semoga semakin banyak lagi para pemuda Indonesia yang bisa berprestasi dalam dunia islam seperti menjadi imam ataupun penceramah internasional. Aamiin





loading...

close ini