Buah Bibir Mereka Akan Jadi Saksi Atas Kebaikan dan Keburukan Kita Selama Hidup




Pujian yang disampaikan langsung di hadapan seseorang ketika masih hidup biasanya memang penuh dengan tendensi dan kepentingan. Namun pujian yang disampaikan pada seseorang ketika telah tiada, itulah pujian yang sebenarnya.

Buah Bibir Mereka Akan Jadi Saksi Atas Kebaikan dan Keburukan Kita Selama Hidup


Karena itu, diantara doa Nabi Ibrahim alaihissalam yang pernah disebutkan dalam al-Quran, beliau memohon agar menjadi buah bibir yang baik setelah beliau meninggal,

وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ

"Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian" (QS. As-Syu’ara: 84).

Makna: “Buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian”

Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah, agar dia diberi taufik untuk menjadi sumber kebaikan, sehingga semua orang memuji beliau, hingga hari kiamat.

Doa Nabi Ibrahim pun dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Di surat Ash-Shaffat, Allah SWT berfirman,

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الآَخِرِينَ * سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ * كَذَلِكَ نَجْزِي المُحْسِنِينَ

Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, ‘(Yaitu) kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.’ Demikianlah Kami beri balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Ash-Shaffat:108–110)

Di surat Maryam, Allah berfirman,

وَوَهَبْنَا لَهُمْ مِنْ رَحْمَتِنَا وَجَعَلْنَا لَهُمْ لِسَانَ صِدْقٍ عَلِيًّا

Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi.” (QS. Maryam:50)

Allah jadikan pujian untuk Ibrahim dan keluarganya, tidak hanya pujian dari penduduk langit, namun juga pujian dari penduduk bumi. Karena pujian manusia akan menjadi kesaksian atas perbuatan dan perilaku seseorang ketika hidup di dunia.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu; beliau menceritakan,

"Suatu ketika para sahabat melihat sebuah jenazah yang diangkat menuju pemakamannya. Mereka pun memuji jenazah ini. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وجبَتْ، وجبتْ، وجبت

Wajib … wajib … wajib.’

Tidak berselang lama, lewat jenazah lainnya. Kemudian para sahabat langsung mencelanya. Seketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وجبَتْ، وجبتْ، وجبت

Wajib … wajib … wajib.’

Umar pun keheranan, dan bertanya, ‘Apa yang wajib?’

Jawab Rasulullah,

هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا، فَوَجَبَتْ لَهُ الجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا، فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ

Jenazah pertama kalian puji dengan kebaikan, maka dia berhak mendapat surga. Jenazah kedua kalian cela, maka dia berhak mendapat neraka. Kalian adalah saksi Allah di muka bumi.’" (HR. Bukhari)

Baca Juga:




Oleh karenanya dalam hadits yang lain Rasulullah SAW melarang pada kita untuk mencaci maki orang yang telah meninggal. karena orang yang telah meninggal sudah berada di ranah Allah untuk menghakiminya secara langsung di alam barzakh.


لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا 

"Janganlah kalian mencela orang-orang yang telah meninggal. Karena sesungguhnya mereka telah sampai kepada apa (hasil) yang mereka lakukan" (HR. Bukhari)

Semoga kita menjadi manusia yang menyebar kebaikan dan kebenaran bagi lingkungannya. Sehingga pujian kebaikan dari orang-orang setelah kita akan menjadi saksi atas kebaikan kita.




loading...