Kisah Sukses Pemilik Toko Buku Gunung Agung Hingga Menjadi Seorang Mualaf




Kisah Sukses Pemilik Toko Buku Gunung Agung Hingga Menjadi Seorang Mualaf

Kisah Sukses Pemilik Toko Buku Gunung Agung Hingga Menjadi Seorang Mualaf

Jika berbicara tentang toko buku, maka sebagian masyarakat pasti mengenal Toko Buku Gunung Agung. Memang toko buku ini sudah melegenda sejak dulu dan menyimpan kenangan di setiap para pecinta buku.

Kini pemberitaan tentang tutupnya Toko Buku Gunung Agung sontak mengagetkan publik. Namun pemberitaan tersebut ternyata tidak lengkap karena dalam akun Twitter resmi Gunung Agung dijelaskan bahwa penutupan hanya dilakukan di Bandung Indah Plaza saja.

Selain perjalanan Toko Buku Gunung Agung yang melegenda, sosok pemiliknya pun patut disimak karena di tengah usaha tersebut, ia mendapatkan hidayah untuk menjadi seorang mualaf.

Pemilik Gunung Agung bernama Wie Tay merupakan anak keempat dari lima bersaudara Tjhio Koan An yang merupakan keluarga berada. Selain itu Wie Tay merupakan anak yang mengalami masa kecil paling bahagia dibandingkan kakak-kakaknya. Meski pun begitu, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama.

Perekonomian keluarga Koan An menjadi surut setelah sang ayah meninggal dan Wie Tay pun tumbuh menjadi anak yang nakal dan sulit diatur. Sudah dua kali ia berpindah sekolah karena sering berbuat onar.

Kenakalannya pun dilakukan di dalam rumah dimana buku milik kakak-kakaknya dicuri dan dijual ke Pasar Senen demi untuk mendapatkan uang saku.

Remaja ini semakin hari semakin menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Terlebih lagi melihat kondisi ibunya yang sudah tidak mampu menghasilkan uang. Selain kebiasaan mencuri buku kakaknya, ia juga melihat peluang menjual rokok. Bermodalkan 50 sen, ia pun menjajakan rokok dan menyisihkan hasilnya untuk membeli meja lapak di Glodok. Dan tak butuh waktu lama, akhirnya Wie Tay bisa membuka kios di Pasar Senen.

Selain menjual rokok, dirinya pun mencoba menjadi agen bir cap Burung Kenari bersama dengan 2 rekan bisnisnya. Bisnisnya pun merambah ke dunia penjualan buku dan mencoba peruntungan di dalamnya. Alhasil buku-buku impor dari negara Belanda laris manis mereka jual.

Karena usaha di bidang buku begitu berkembang pesat, mereka pun memutuskan untuk fokus dan melepas bisnis lainnya serta mendirikan perusahaan bernama Firma Tay San Kongsie. Pendapatan dari penjualan buku pun mereka bagi tiga sama rata dan menunjuk Wie Tay sebagai pimpinan.

Demi memperluas jaringan, ia juga membuka cabang di Jalan Kwitang No.13 yang saat itu masih sepi. Memang dirinya sangat ingin memperluas usaha buku tersebut dengan cepat. Alhasil ia mengusulkan penambahan modal kepada 2 rekan lainnya. Namun teryata usulan tersebut ditolak satu rekannya bernama Thay San sehingga rekannya tersebut memilih mundur dan mendirikan toko buku sendiri.

Bersama dengan satu rekannya bernama Kie Hoat, Wie Tay berusaha membesarkan toko buku yang berada di Kwitang dan mengubah namanya menjadi Gunung Agung.

Tahun 1953 menjadi tahun peresmian pertama Toko Buku Gunung Agung dan di tahun 1956, mereka pun membuka cabang pertama di Yogyakarta dan diikuti di kota-kota lainnya. Sehingga di tahun 1970, Toko Buku Gunung Agung pun menjadi toko buku terbesar di Indonesia.

Selain menjual buku karya luar, ia juga bekerjasama dengan penulis lokal dan para wartawan untuk membuat buku yang berkisah tentang biografi tokoh Indonesia seperti Soekarno, Moh Hatta dan Adam malik. Dirinya pun berusaha mengembangkan sayap di bisnis yang lain seperti percetakan, distribusi dan valuta asing. Salah satu yang cukup terlihat adalah perannya menjadi seorang distributor kamera Canon dan film Kodak di Indonesia.

Setelah memeluk agama Hindu Dharma di tahun 1963 dan mengubah namanya menjadi Mas Agung, Wie Tay kemudian memeluk agama islam di tahun 1976.

Menjadi seorang mualaf merupakan keputusannya yang sudah bulat sekaligus menjadi titik awal menjalani kehidupan yang baru. Ia kemudian mendirikan berbagai lembaga amal seperti Yayasan Idayu dan Pusat Informasi Islam. Selain itu, ia juga membangun beberapa masjid dan juga panti asuhan.

Pengeluaran uang yang cukup banyak dalam keagamaan membuat seseorang bertanya kepadanya dan jawabannya sungguh sangat mengejutkan.

“Saya takut tenggelam dalam dunia yang berlimpah.” Ucapnya

Semenjak itu ia mendapat berbagai penghargaan dan di tahun 1990, Mas Agung atau Wie Tay pemilik Toko Buku Gunung Agung pun meninggal. Kepergiannya tak hanya ditangisi oleh keluarga, namun juga oleh seluruh lapisan masyarakat.

Baca Juga:


Itulah kisah sukses seorang pemilik Toko Buku Gunung Agung yang juga mendapatkan hidayah di usianya yang senja dan melakukan banyak kebaikan hingga akhir ajalnya.

Semoga bisa menginspirasi umat muslim lain untuk melakukan banyak kebaikan sebelum ajal menjemput.




loading...

close ini