Hidup Sukses dan Bahagia Bersama Allah




Bahagia itu kita yang ciptakan. Bagaimana kita bisa tetap bahagia meski keadaan sedang morat marit. Bagaimana kita tetap menyulam senyum meski hati sedang menahan sakit. Bagaimana kita tetap bertahan meski keadaan memaksa untuk pergi.

Hidup Sukses dan Bahagia Bersama Allah


Banyak dari kita yang terlalu tinggi harapannya. Segala keputusan dibuat sendiri. Tanpa melibatkan Allah. Segala keputusannya dibuat sendiri. Tanpa minta bantuan Allah

Alhasil, ketika Allah kasih ujian dengan sedikit harta. Sudah stres. Allah kasih ujian dengan rejeki seret. Sudah linglung. Saat Allah uji dengan kesakitan. Sudah putus asa. Saat Allah uji dengan kehilangan. Jadi gila.

Cobalah mulai saat ini sederhakan bahagia itu. Toh, Kita bisa tetap hidup meski makan hanya pakai nasi dan tempe.

Masih bisa sampai tujuan dengan selamat meski harus berpanas-panas dan mencium bau ketiak dari penumpang lain.

Tetap bisa tidur nyenyak, yang penting tidak kehujanan dan kepanasan. Keluarga berkumpul dan tetap harmonis. Itu sudah cukup.

Karena bahagia itu tergantung bagaimana kita mensyukuri takdir yang diberikan oleh-Nya.

*********

Sahabatku.. Salah satu rahmat dan karunia Allah yang diberikan pada manusia adalah tidak dijadikannya kebahagiaan kita secara mutlak terikat kecuali kepada Allah SWT.

Hubungan kita dengan orang lain dalam hal kerja dan lainnya adalah di bawah kehendak dan kekuasaan Allah, akan tersambung jika Allah menghendaki dan akan terputus jika Allah menghendaki.

Karenanya, tak boleh keterikatan kita kepada makhlukNya menjadi lebih erat ketimbang hubungan kita dengan Allah.

Coba renungkan makna yang tersirat dari doa pagi sore, doa sebelum tidur, doa bangun tidur dan doa doa lain yang diajarkan Rasulullah. Sesekali coba renungkan makna dari bacaan doa yang paling rutin kita ucapkan, yakni bacaan-bacaan dalam shalat yang kesemuanya itu adalah deklarasi diri sebagai hamba yang taat dan patuh kepada Allah. Semua itu mengajarkan kepada kita bahwa jalan sukses dan bahagia adalah jalan hidup bersama Allah.

Lalu kenapa setelah sholat kita lakukan dan doa kita panjatkan, banyak sekali di antara kita yang kemudian seakan melupakan esensi doa itu dengan merasa paling berkuasa dan merasa memiliki semuanya? Ataukah kita sebagai manusia berhak untuk mendikte Tuhan?

Marilah kita selalu bertanya sebelum berbuat apapun:

"Senangkah Allah dengan apa yang akan kita lakukan? Tersenyum banggakah Rasulullah dengan apa yang akan kita lakukan?"

Semoga hidup kita penuh hikmah dan rahmah. Yang sakit semoga disembuhkan Allah, yang gelisah ditenangkan Allah, yang memiliki beban berat diringankan Allah dan sedang mengejar harap senantiasa dikabulkan Allah. Aamiin