Derajat Manusia Sama Di Hadapan Tuhan. Benarkah?




Derajat Manusia Sama Di Hadapan Tuhan. Benarkah? │ Terkadang perkataan manusia bisa dianggap benar oleh logika. Padahal belum tentu kenyataannya demikian. Salah satu ucapan yang sering kita dengar adalah bahwa derajat manusia sama di hadapan Tuhan. Kemudian sebagian masyarakat mempertanyakan, “Benarkah seperti itu?”

Ketahuilah bahwa setan berupaya untuk menyesatkan manusia melalui berbagai cara, yang salah satunya adalah lewat bisikan indah dan menipu. Memang bisikan setan tersebut sepintas benar, namun sebenarnya sesat. Demikian ucapan yang digembor-gemborkan oleh kaum liberal guna merusak akidah umat islam.

Derajat Manusia Sama Di Hadapan Tuhan. Benarkah?

“Demikianlah Kami jadikan musuh bagi setiap nabi, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (jenis) jin, mereka saling membisikkan kepda yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS Al An’am 112)

Ungkapan bahwa derajat manusia sama di hadapan Allah mengandung dua unsur yang salah satunya benar dan yang lainnya salah.

1. Manusia Adalah Sama-Sama Makhluk Ciptaan Tuhan

Keterangan ini sangat benar dan semua manusia mengakui bahwa mereka diciptakan oleh Tuhan yang Maha Esa. Dalil dalam Al Qur’an pun mendukung pernyataan tersebut.

“Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan.” (QS As Shaffat 96)

2. Derajat Manusia Tidak Sama Di Hadapan Tuhan

Poin yang kedua merupakan salah besar karena sesungguhnya derajat manusia di hadapan Allah tidaklah sama.

Di dalam Al Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta’ala sendiri telah membedakan antara penduduk neraka dengan penduduk surga.

“Tidaklah sama penghuni neraka dengan penghuni jannah, penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Al Hasyr 20)

Allah pun menjelaskan bahwa yang buruk dengan yang baik tidaklah sama dan sudah sangat jelas berbeda.

Katakanlah, “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu.” (QS Al Maidah 100)

Sangat jelas pula bahwa Allah memberi sebutan yang baik kepada orang mukmin dengan nama Khoirul bariyah (makhluk terbaik) dan menyebut orang kafir dengan sebutan Syarrul bariyyah (makhluk terjelek).

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka jahanam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itu dalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS Al Bayyinah 6-7)

Dari keterangan-keterangan tersebut sangat salah jika manusia memilik derajat yang sam di hadapan Tuhan. Tidaklah semua pembenaran bermaksud untuk meremehkan orang lain. Keyakinan akan ungkapan tersebut bisa saja berasal dari keilmuan yang masih perlu dipelajari lebih lanjut ataupun informasi yang salah.

Allah sendiri telah memberikan kepada kita akal untuk menimbang berbagai informasi demi mencapai kebenaran yang mutlak. Sama halnya seperti ilmu matematika dimana agama juga membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Itulah bukti dari keimanan dan hilangnya keragu-raguan.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan RasulNya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS Al Hujurat 15)

Ayat tersebut merupakan bukti bahwa Allah memuji orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya serta tidak ragu dengan keimanannya. Sementara dalam ayat yang lain Allah menyuruh agar memerangi kaum yang menyimpang dari islam.

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka sampai mereka membayar jizyah (upeti) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tertunduk.” (QS At Taubah 29)

Baca Juga:


Maka sebuah kesalahan besar jika beranggapan bahwa manusia memiliki derajat yang sama di hadapan Tuhan. Dan jika seorang mukmin ragu dengan ketetapan dalam Al Qur’an dan Assunnah serta menganggap penjelasan di dalamnya bukan sebuah kebenaran yang mutlak, maka sesungguhnya ia belum menjadi seorang mukmin.

Wallahu A’lam





loading...

close ini