Bukankah Mukmin Yang Kuat Lebih Dicintai Daripada Mukmin Yang Lemah?




Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda,

نْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَاَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِي كُلِّ خَيْرًا ، احرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجَزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيءٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّ رَاللَّهُ وَمَاشَاءَ فَعَلَ ، فَإِنْ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda ‘Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada orang Mukmin yang lemah. Masing–masing ada kebaikannya. Bersemangatlah untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu, serta mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan menjadi orang lemah! Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah mengucapkan, ‘Seandainya saya berbuat begini tentu akan terjadi begini dan begitu’ tetapi katakanlah, ‘Allah telah menakdirkannya; apa yang telah dikehendaki-Nya pasti akan terjadi, karena sesungguhnya kata ‘seandainya’ itu membuka jalan bagi setan.” (HR. Muslim)

Bukankah Mukmin Yang Kuat Lebih Dicintai Daripada Muslim Yang Lemah?


Kuat dalam hadits di atas mencakup kuat fisik, jiwa, dan materi. Kemudian semua itu diikat dengan iman kepada Allah Ta'ala, ridha dan menerima qadha' dan qadar. Sehingga mukmin yang kuat dalam hadits di atas, adalah mukmin yang kuat tekad dan semangatnya –khususnya dalam urusan akhirat- lebih semangat dalam melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar, dan bersabar atas ujian di dalamnya.

Kata khair (lebih baik) berarti lebih baik daripada orang Mukmin yang lemah dan lebih dicintai Allah daripada orang Mukmin yang lemah.

Kemudian, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Masing-masing ada kebaikannya.” Artinya, baik orang Mukmin yang kuat maupun orang Mukmin yang lemah, semuanya memiliki kebaikan. Beliau bersabda seperti itu supaya orang tidak bingung bahwa orang Mukmin yang lemah tidak ada kebaikan sama sekali padanya, tetapi orang Mukmin yang lemah juga memiliki kebaikan, yaitu lebih baik daripada orang kafir.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan, “Masing-masing ada kebaikannya.” Orang Mukmin yang kuat dan orang Mukmin yang lemah, masing-masing ada kebaikannya, tetapi orang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah.

Kemudian, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melanjutkan, “Bersemangatlah untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu.” Ini adalah wasiat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada umatnya. wasiat ini bersifat universal dan preventif, “Bersemangatlah untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu.” Atau, bersemangatlah dalam mencari dan mendapatkannya, serta tentanglah sesuatu yang di dalamnya ada bahaya, tidak bermanfaat dan tidak penting untuk dilakukan.

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh menjelaskan maksud hadits di atas, "Dan maksudnya: bersemangat dalam menjalankan sebab yang bermanfaat bagi hamba dalam urusan dunia dan akhiratnya dari sebab-sebab yang wajib, sunnah, dan mubah yang telah Allah syariatkan. Lalu dalam mengerjakan sebab tersebut, hamba tadi meminta tolong kepada Allah semata, tidak kepada selain-Nya, agar sebab itu menghasilkan dan memberi manfaat. Bersandarnya hanya kepada Allah Ta'ala dalam mengerjakannya. Karena Allah lah yang menciptakan sebab dan akibatnya. Suatu sebab tidak akan berguna kecuali jika Allah mengizinkannya. Sehingga hanya kepada Allah Ta'ala semata ia bertawakkal dalam mengerjakan sebab. Karena mengerjakan sebab adalah sunnah, sementara tawakkal adalah tauhid. Jika ia menggabungkan keduanya, maka akan terwujud tujuannya dengan izin Allah." (Fath al-Majid: 560)

Usaha dan isti'anah harus terus dilakukan, tidak boleh melemah karena malas, putus harapan, perkataan orang, perasaan tidak enak, mitos atau sebab yang tak jelas lainnya. Karena ada sebagian orang yang sudah bersemangat menggapai apa yang dibutuhkannya dan disyariatkan kepadanya, lalu ia melemah dan malas sehingga meninggalkan amal tersebut. Manfaat dan maslahat yang dibutuhkannya hilang begitu saja sehingga ia menjadi manusia merugi baik dunia maupun akhirat.

Oleh karena itu sahabatku, Dalam mendidik kader-kader islami yang tangguh, Ajarilah anak-anak kita dengan ilmu pokoknya. Karena sejak jaman nenek moyang, doktrin mindset salah yang sudah ditanamkan oleh penjajah Belanda kepada rakyat Indonesia menjadi kacung/budak bangsa belanda begitu melekat dalam diri rakyat Indonesia.

Mindset yang salah ini turun temurun diwariskan ke anak cucu sehingga sekarang bangsa Indonesia berhasil menjadi pengekspor pembantu/PRT terbesar untuk bangsa lain serta MAYORITAS penduduknya hanya menjadi pekerja/karyawan bangsa lain. Bukan jadi boss/pemilik usaha sendiri.

Jika punya anak boleh saja menjadi DOKTER tapi didiklah anak agar menjadi seorang dokter yang memiliki banyak RUMAH SAKIT
Jika punya anak boleh saja menjadi ARSITEK tapi didiklah anak agar menjadi seorang arsitek yang memiliki banyak BISNIS PROPERTY
Jika punya anak boleh saja menjadi GURU tapi didiklah anak agar menjadi seorang guru yang memiliki banyak SEKOLAH/PESANTREN
Jika punya anak boleh saja menjadi KOKI tapi didiklah anak agar menjadi seorang koki yang memiliki banyak RESTORAN/RUMAH MAKAN

Bukankah Mukmin Yang Kuat (fisik/ekonomi/ilmu/amal) Lebih Dicintai Daripada Mukmin Yang Lemah?

Tulisan ini mengajak kepada pembaca untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas iman, ilmu, amal, ekonomi dan hal positif lainnya. Yakni dengan menguatkan semangat dalam menggapai kemanfaatan duniawi dan ukhrawi, disertai isti'anah kepada Allah semata. Terus semangat, konsisten dan komitmen dalam usahanya, tidak pesimis serta terlepas dari mental budak / kacung.

Wallahu A'lam.




loading...