Kisah Nyata: Belajar dari Pak Agus, Ugal-ugalan Membuatnya Kehilangan Kaki dan Tangan




Semangat Agus Murtado (38) tak pernah surut meski ia telah kehilangan sepasang kaki dan tangan kirinya. Dia tetap berjuang sekuat tenaga untuk bekerja menghidup keluarga. Semoga kisah masa lalu Pak Agus ini bisa dijadikan pelajaran dan diambil hikmahnya.

Kisah Nyata: Belajar dari Pak Agus, Ugal-ugalan Membuatnya Kehilangan Kaki dan Tangan
Agus Murtado (Foto: Ayunda W Savitri/Detik.com)


Agus menceritakan, kejadian naas itu terjadi ketika usianya menginjak 18 tahun. Masa-masa remaja itu penuh dengan kebrutalan dan tingkah ugal-ugalan.

Layaknya remaja pada umumnya, Agus muda memang suka bergaul. Namun pergaulannya kala itu bisa disebut sangat jauh dari nilai-nilai positif. Agus yang sempat mencicipi bangku sekolah di SMEA Yaspen, Petukangan Utara, Jakarta Selatan itu sering ikut tawuran antar pelajar di Jakarta bahkan juga kerap mabuk-mabukan bersama teman-temannya.

"Sebelum kecelakaan saya itu terlalu bandel, saya akuin. Bisa dibilang saya dulu rada disegani karena suka berantem. Tapi setelah kejadian ini suka mikir, orang-orang itu bisa maafin saya enggak sih," ungkap Agus ketika mengawali kisahnya seperti dilansir dari detikcom, Minggu (10/4/2016).

Tak pernah terlintas sedikitpun dalam benak Agus muda untuk kembali ke jalan yang lurus. Hingga pada suatu malam, semuanya berubah drastis.

"Ketika itu saya masih ingat, 4 September 1995 pulang dari pasar mau menyeberang perlintasan kereta tanpa palang pintu, tubuh saya jatuh dan terlindas kereta. Kejadiannya pas dini hari dan umur saya kala itu 18 tahun," kata Agus.

Melihat kecelakaan parah yang dialami Agus, warga sekitar bersama keluarga Agus langsung membawanya ke rumah sakit agar bisa mendapatkan pertolongan. Namun kondisi badannya yang sudah parah karena terlindas kereta membuat Agus sempat tak sadarkan diri.

Kedua kakinya putus di lokasi kecelakaan. Sementara tangannya hampir putus, dokter gawat darurat yang sedang menanganinya harus mengambil tindakan cepat berupa amputasi.

"Kaki langsung putus di tempat kejadian. Kalau tangan kiri masih nempel di kulit tapi harus diamputasi waktu di RSCM," terang Agus sambil menerawang mengingat kejadian masa silam.

Mendapati kenyataan hidup yang sangat pahit itu, Agus tertekan dan tak bisa menerima realita. Ia bahkan sempat marah kepada nasib atas kecelakaan parah yang mengakibatkan hilangnya kaki dan tangan.

"Sempat merasa tidak waras karena suka ngomong sendiri. Tidak bisa nerima keadaan," ungkapnya dengan lirih.

Kaki kiri agus hilang karena kecelakaan tersebut, mulai dari paha dan kaki kanan dari betis. Sementara tangan kirinya diamputasi dari bahu. Dengan kondisi fisiknya yang seperti itu, Agus muda kemudian memutuskan untuk tidak kembali lagi ke sekolahnya.

Agus merasa lebih baik melanjutkan sisa mata pelajarannya di rumah. Tak lama setelah itu, keluarganya mengantarkan Agus ke Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat untuk diberi pencerahan spiritual di penjara suci tersebut.

"Rehabnya 40 hari, selanjutnya belajar ngaji disana. Saya sudah lupa berapa lama di sana, yang jelas semenjak di sana timbul kepercayaan diri. Manusia pasti berubah, walaupun misalnya enggak kecelakaan tapi perubahan pasti ada. Alhamdulillah dari situ saya bisa menerima keadaan," kata agus dengan mata berkaca-kaca.

"Ditambah lagi support dari keluarga. Ibu saya seorang guru ngaji, kakek juga seorang kyai. Saya yang sebenarnya salah jalan," tambah Agus.

Agus memandang semua kejadian yang dialaminya sebagai sebuah hikmah sekaligus berkah. di pesantren Suryalaya dia bertemu dengan wanita yang sekarang menjadi ibu dari dua anaknya. Menimba ilmu di yayasan hingga akhirnya dia mempunyai kemampuan memperbaiki alat-alat elektronik seperti sekarang.

"Yang menginspirasi saya ada seseorang, dia itu tangannya nggak ada tapi bisa menganyam dengan tangan yang cuma ada satu jari di kiri kanan. Itu jadi semangat buat saya," ujarnya dengan penuh bangga.

Sudah tiga tahun Agus membuka usaha servis elektronik di dekat perlintasan kereta api Stasiun Kebayoran Lama. Agus menempati sebuah ruangan kecil berukuran 3x4 dengan aneka barang elektronik, seperti televisi, kipas angin dan lain sebagainya di sekitar.

Sehari-hari Agus menerima servis perkakas rumah tangga yang diminta tolong kepadanya. Untuk tarif, Agus tidak memasang terlampau tinggi dan menyesuaikan dengan jenis kerusakannya.

"Sehari-hari yang datang bisa sampai 3-5 orang atau sama sekali enggak ada kalau lagi sepi. Betulin kipas Rp 15 ribu upah. Kalau TV 14 inci upahnya Rp 40 ribu, TV 21 inci sebesar Rp 60 ribu dan TV 29 inci itu Rp 100 ribu, upah servisnya," kata Agus.

Agus sehari-hari tinggal di bengkelnya di Jl Giban RT 4 RW 1, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan sedangkan isteri dan kedua putrinya tinggal di Tigaraksa Tangerang. Agus seminggu sekali pulang untuk menengok keluarganya, dia menggunakan kereta rel listrik (KRL) sehingga benar-benar kewalahan ketika naik turun tangga di Stasiun Kebayoran Baru.

Tubuh Agus memang tak sesempurna waktu sebelum kecelakaan dulu. Namun baginya, ini lebih baik. Kehilangan anggota tubuh dijadikan sebuah momen untuk menjadi lebih baik dan terus semangat demi meraih dunia dan akhirat. (Detik)