Diajari Kebencian Terhadap Islam Sejak Kecil, Wanita Ini Justru Menjadi Seorang Muslimah




Diajari Kebencian Terhadap Islam Sejak Kecil, Wanita Ini Justru Menjadi Seorang Muslimah

Diajari Kebencian Terhadap Islam Sejak Kecil, Wanita Ini Justru Menjadi Seorang Muslimah

Hidayah bisa datang tanpa melihat cara pandang manusia. Allah telah menunjukkan jalanNya pada siapa saja yang ia kehendaki, termasuk kepada yang menentang jalanNya sekalipun. Salah satunya adalah yang dialami oleh seorang wanita bernama Tina Styliandou. Ia merupakan anak dari keluarga Kristen Orthodoks Yunani yang silsilah keluarganya dahulu tinggal di Istanbul, Turki.

Keluarganya dahulu merupakan orang-orang yang terdidik, kaya dan penganut agama Kristen yang kuat. Namun ternyata pihak pemerintah Turki kala itu memutuskan untuk mengusir setiap warga negara Yunani dan menyita kekayaan mereka. Alhasil rumah, perusahaan dan kekayaan yang dimiliki harus rela ditinggalkan. Mereka pun pulang ke negara asalnya yaitu Yunani dengan tangan hampa.

Perlakuan pihak Turki dahulu kepada warga Yunani membuat umat Kristen Yunani begitu membenci Islam. Dan itu terus ditanamkan hingga 400 tahun lamanya. Setiap warga Yunani didoktrin bahwa sikap Turki merupakan perwujudan ajaran yang mereka anut yakni Al Islam. Sikap ini ditunjukkan dengan ditanamkannya kebencian oleh para pendeta di gereja-gereja. Tak salah jika begitu banyak Kristen yang membenci Islam.

Selain di gereja, di sekolah pun diajarkan penghinaan kepada Nabi Muhammad, istrinya dan sahabatnya dalam bentuk tulisan dan karikatur. Sudah banyak hasil penghinaan tersebut yang dimuat dalam berbagai media massa.

Namun takdir Allah ternyata masih menaungi Tina. Atas izin Allah, ia dibimbing menuju agama Islam dengan penuh kebenaran. Terlebih lagi orang tuanya bukanlah orang yang religius sehingga Tina tak pernah dibawa ke gereja selain cara pernikahan ataupun pemakaman.

Hati Tina semakin ragu dengan agamanya dahulu saat melihat korupsi yang dengan jelas dilakukan oleh pendeta. Dalam pikirannya, bagaimana bisa seorang yang menyerukan kebaikan, namun mencuri dana gereja demi kepentingan dirinya sendiri. Karena kenyataan itulah, Tina pun menjadi seorang atheis.

Keinginan untuk mencari kebenaran terus ia lakukan lewat membaca meski ia tetap menghindari Islam karena doktrin kebencian yang masih melekat pada dirinya. Namun hidayah itu perlahan mulai terlihat saat Tina mendapatkan pasangan hidup seorang muslim yang tidak mempermasalahkan keyakinan Tina.

Setelah cukup lama menikah, tepatnya 3 tahun, Tina kemudian mendapatkan kesempatan dan keinginan kuat untuk membaca kitab Al Quran dan mendalami Islam. Setelah mendapatkan penerangan, ia semakin yakin bahwa tidak da yang namanya Trinitas dan tidak ada pula sebutan Yesus untuk Tuhan.

Semua muslim sepakat bahwa hanya ada satu Tuhan yang berhak untuk disembah yakni Allah Ta’ala. Tuhan yang tidak memiliki anak dan tidak pula diperanakkan. Tuhan yang tidak ada tandingan, baik kebesaran dan kekuasaanNya.

“Katakanlah (Muhammad)! Dialah Allah yang Maha Esa, Allah tempat meminta segala sesuatu, (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS Al Ikhlas)

Karena masih tinggal di Yunani, otomatis tak ada suara indahnya adzan yang terdengar setiap waktu shalat. Tak ada pula kaum muslimah yang mengenakan hijab. Pun begitu juga tak ada masjid-masjid untuk kaum muslim berkumpul.

Maka ketika lahir anak pertama Tina dan suami, mereka pun memutuskan untuk hijrah ke negara islam. Sebuah negara yang mampu mendidik anaknya mengenal islam yang lebih baik dan bersih dari budaya barat.

Semoga perjuangan Tina bisa menginspirasi kita untuk lebih memperdalam ajaran agama yang bersumber dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menjadi fitrah bagi setiap manusia tersebut.

Wallahu A'lam




loading...