Benarkah Rumah Nabi Dijadikan WC Umum?




Sering kita saksikan di media sosial ada sekelompok orang yang menyebar berita bahwa Bekas Rumah Nabi Dijadikan WC Umum, Benarkah kabar yang disebar tersebut?



Saudaraku, Bersikap waspada dan hati-hati haruslah menjadi prinsip yang selalu kita kedepankan ketika menerima setiap berita. Terlebih berita miring yang bisa memicu emosi publik. Allah telah mengajarkan kita untuk bertabayyun ketika mendengar berita-berita yang diragukan kebenarannya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. al-Hujurat: 6)

Diantara berita hoax tersebut adalah terkait kabar rumah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dijadikan WC umum oleh pihak pengurus Masjidil Haram. Hembusan berita ini tentu sangat panas jika didengar setiap telinga kaum muslimin, Apalagi jika yang menghembuskan isu tersebut adalah seorang tokoh ternama bergelar 'Gus' yang cukup disegani di masyarakat.

Semoga tulisan berikut ini bisa memberikan pemahaman bagi kita untuk meluruskan kabar miring tersebut.

Antara Hijrah dan Fathu Makkah

Kita akan membuka pembahasan ini dengan membuka sejarah seputar hijrah.

Pertama, mereka yang telah hijrah, pantangan untuk balik lagi dan tinggal di Mekkah. Sekalipun kota ini telah ditaklukan.

Nabi Muhammad dan para sahabat berhijrah meninggalkan kota Makkah. Mereka berhijrah meninggalkan tanah dan rumah yang mereka miliki di Mekkah. Hingga di tahun 8 Hijriyah, beliau dan para sahabat berhasil menaklukkan kota Makkah, menjadi bagian wilayah kekuasaan kaum muslimin.

Aturan yang berlaku ketika itu, siapapun telah berhijrah meninggalkan Makkah, pantang bagi mereka untuk mengambil kembali apa yang mereka tinggalkan di Mekkah.

Sewaktu haji wada’, sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash sedang mengalami sakit parah. Sa’ad berpikir, dia akan meninggal di Mekkah, sampai beliau mewasiatkan hartanya. Ketika Nabi menjenguknya, Sa’ad mengadu kepada beliau,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أُخَلَّفُ بَعْدَ أَصْحَابِى

 “Ya Rasulullah, apakah saya akan ditinggalkan para sahabatku?”

Sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas bersedih, beliau akan ditinggal di Mekkah, sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat balik ke Madinah.

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghibur Sa’ad. Beliau mengatakan,

إِنَّكَ لَنْ تُخَلَّفَ فَتَعْمَلَ عَمَلاً صَالِحًا إِلاَّ ازْدَدْتَ بِهِ دَرَجَةً وَرِفْعَةً ، ثُمَّ لَعَلَّكَ أَنْ تُخَلَّفَ حَتَّى يَنْتَفِعَ بِكَ أَقْوَامٌ وَيُضَرَّ بِكَ آخَرُونَ ، اللَّهُمَّ أَمْضِ لأَصْحَابِى هِجْرَتَهُمْ ، وَلاَ تَرُدَّهُمْ عَلَى أَعْقَابِهِمْ

Kamu tidak akan ditinggal, kamu bisa melakukan amal soleh sehingga menambah derajatmu. Kemudian mudah-mudahan kamu diberi usia lebih panjang, sehingga kamu bisa memberi manfaat kaum muslimin, dan membuat sedih orang kafir. Ya Allah, pertahankan hijrah para sahabatku, dan janganlah Engkau mengembalikan mereka ke belakang. (HR. Bukhari 1295, Ibn Hibban 6026 dan yang lainnya).

Perhatikanlah doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diatas, beliau memohon kepada Allah, agar Allah menyempurnakan pahala hijrah para sahabat, dengan Allah mengembalikan mereka semua ke Madinah seusai haji wada’. Sehingga mereka sama sekali mereka tidak menikmati tanah Mekkah setelah Mekkah ditaklukkan.

Abu Ishaq al-Huwaini menjelaskan hadis ini,

كان من تمام هجرة المسلمين إلى المدينة: أن النبي صلى الله عليه وسلم منع المهاجر أن يظل في مكة بعد النسك أكثر من ثلاثة أيام، فقال للصحابة: ( لا يحل لرجل هاجر من مكة إلى المدينة أن يرجع فيستوطن مكة مرة أخرى )، له ثلاثة أيام بعد النسك فقط، وبعدها لا يحل له أن يبقى في مكة ؛ حتى لا يرجع في ما وهبه وفعله لله عز وجل، فهذه هي هجرة الصحابة رضي الله عنهم

Bagian dari kesempurnaan hijrah kaum muslimin ke Madinah, setelah manasik haji selesai, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kaum muhajirin untuk tinggal di Mekkah lebih dari 3 hari. Beliau berkhutbah di hadapan para sahabat,

Tidak halal bagi orang yang telah hijrah dari Mekkah ke Madinah untuk kembali ke Mekkah dan tinggal di sana.”

Mereka hanya punya kesempatan selama 3 hari saja. Selanjutnya, mereka tidak boleh menetap di Makkah, sehingga mereka tidak menarik kembali apa yang sudah mereka berikan dan mereka kerjakan untuk Allah. Seperti inilah hijrahnya para sahabat. (Durus al-Huwaeni, Abu Ishaq).

Ada banyak pahlawan islam yang terlahir di Makkah, para al-Khulafa’ ar-Rasyidin, dan sahabat senior lainnya. Termasuk Ali bin Abi Thalib dan Fatimah. Ketika mereka hijrah, mereka biarkan tanah itu dikuasai orang musyrikin. Namun pada saat haji wada’, sama sekali mereka tidak mengambil alih tanah itu, apalagi mencari-cari rumah kelahirannya, untuk dilestarikan atau dijadikan kenangan.

Kedua, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak merebut kembali rumah kelahirannya

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah bersama bani Hasyim yang masuk islam, tanah warisan bani Hasyim dikuasai oleh Aqil dan Thalib, keduanya adalah anak Abi Thalib yang masih kafir. Sementara Ali dan Ja’far yang juga putra Abu Thalib, sama sekali tidak mendapatkannya. Termasuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kita lihat penuturan Usamah ketika Fathu Mekkah,

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدِ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنْزِلُ فِى دَارِكَ بِمَكَّةَ فَقَالَ « وَهَلْ تَرَكَ لَنَا عَقِيلٌ مِنْ رِبَاعٍ أَوْ دُورٍ ». وَكَانَ عَقِيلٌ وَرِثَ أَبَا طَالِبٍ هُوَ وَطَالِبٌ وَلَمْ يَرِثْهُ جَعْفَرٌ وَلاَ عَلِىٌّ شَيْئًا لأَنَّهُمَا كَانَا مُسْلِمَيْنِ وَكَانَ عَقِيلٌ وَطَالِبٌ كَافِرَيْنِ

Dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhuma, beliau bertanya,

‘Ya Rasulullah, apakah anda akan singgah di rumahmu di Mekkah?’

Beliau bersabda,

“Apa Aqil masih meninggalkan rumah untuk kami.”

Aqil yang menjadi ahli waris Abu Thalib bersama si Thalib. Sementara Ja’far dan Ali tidak mendapatkan warisan apapun, karena keduannya muslim. Aqil dan Thalib orang kafir. (HR. Bukhari 1588, Muslim 3360, dan Ibn Majah 2834).

Ketika Fathu Makkah, tanah negeri itu menjadi kekuasaan kaum muslimin. Kendati demikian, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak mempedulikan rumah kelahiran atau tanah beliau. Beliau juga tidak mengupayakan pelestarian tempat-tempat bersejarah itu. Beliau tidak merawat rumah kelahiran beliau, atau merawat gua hira, atau gua tsur, sama sekali tidak.

Ini menunjukkan bahwa dakwah beliau dan para sahabat, tidak memiliki kepentingan dengan tempat-tempat semacam ini.

Karena itu, jika ada yang beranggapan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat menyerang kota Mekkah untuk merebut kembali tanah kelahiran mereka, ini berarti suudzon kepada beliau dan para sahabatnya.

Ketiga, jika kita menerima hasil penelitian para ahli sejarah, hasil penelusuran mereka menyimpulkan bahwa rumah kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih dijaga. Anda bisa perhatikan beberapa gambar berikut,

Benarkah Rumah Nabi Dijadikan WC Umum?


Di gambar tertulis, tempat kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.

Kemudian, saat ini, rumah tempat kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dijadikan sebagai perpustakaan “Maktabah Makkah al-Mukarramah”

Benarkah Rumah Nabi Dijadikan WC Umum?


Ketika renovasi dan perluasan masjidil haram sedang dilakukan, Rumah Nabi tetap berdiri tegak seperti di gambar berikut,

Benarkah Rumah Nabi Dijadikan WC Umum?

Sesuai dengan planning kedepannya, Bahwa Rumah Nabi yang sekarang menjadi Maktabah atau perpustakaan itu nantinya akan menjadi bagian dari masjid.

Benarkah Rumah Nabi Dijadikan WC Umum?


Semoga Allah menyelamatkan kita dari berbagai fitnah yang ingin menghantam islam dan memecah belah persatuan kaum muslimin.

Sumber: http://ilmfeed.com/this-is-where-prophet-muhammad-was-born/





close ini