Pembangunan Masjid Raya Baiturrahman Jayawijaya Tetap Dilanjutkan




KabarMakkah.Com – Pembangunan Masjid Raya Baiturrahman Jayawijaya yang sempat mendapat hadangan dari surat pernyataan seluruh gereja Jayawijaya, kini akhirnya tetap akan dilanjutkan. Hasil keputusan tersebut didapat setelah terjadi pertemuan antara tokoh nasrani dengan tokoh muslim dan diketuai oleh Bupati Jayawijaya, Wempi Wetipo di Kantor Bupati Jayawijaya.

Meski di dalamnya sempat terjadi perdebatan, namun akhirnya rapat tersebut menghasilkan beberapa poin yang disepakati oleh kedua belah pihak. Beberapa keputusan tersebut diantaranya adalah menara masjid yang sebelumnya akan dibangun dengan ketinggian 20 meter, diturunkan menjadi 15 meter.

Pembangunan Masjid Raya Baiturrahman Jayawijaya Tetap Dilanjutkan
Bupati Jayawijaya dan seorang muslim Papua
Selanjutnya bangunan masjid yang tadinya akan 2 lantai, dirubah menjadi satu lantai saja. Kemudian luas bangunan yang dahulunya 40 meter persegi, berubah menjadi 25 meter persegi. Akan tetapi perubahan tersebut tidak termasuk dengan lokasi di kanan kiri masjid yang memiliki lebar masing-masing 6 meter.

Bupati Jayawijaya pada hari kamis (3/3/2016) mengatakan, “Kami telah bersepakat untuk merevisi gambar bangunan masjid dan kemudian akan diterbitkan ijin mendirikan bangunan (IMB) yang baru, sesuai dengan kesepakatan hari tersebut.”
Baca Juga: Persatuan Gereja Jayawijaya Tolak Pembangunan Masjid Baiturrahman
Adapun isu yag dahulu tersiar sehingga membuat berbagai penolakan dari pihak gereja, hal itu sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi. Ini karena pihak pemerintah dan tokoh agama sudah membuat keputusan yang sangat penting hari tersebut.

Wempi berucap, “Harapan saya agar masyarakat di Jayawijaya mengerti akan adat dan budaya setempat. Keputusan yang diambil hari ini akan diterima oleh semua pihak dan ini adalah keputusan yang terbaik.”

Dalam rapat yang membahas tentang kelanjutan Masjid Raya Baiturrahman tersebut, dihadiri oleh Ketua MUI Papua yakni H. Solehudin. Ia mengatakan bahwa besar harapannya agar masyarakat muslim yang ada di Wamena ataupun di Pengunungan Tengah Papua agar mau menerima keputusan yang ditetapkan oleh pemerintah dengan sebaik-baiknya.

Sementara ketua dari PGGJ yakni Pendeta Abraham Ungirwalu memberi sikap agar umat beragama yang ada di Wamena harus ditingkatkan kembali kerukunannya sehingga tercipta suasana yang aman serta kondusif.

Pertemuan antar umat beragama ini dihadiri juga oleh Dirjen Binmas dan kementerian agama yaitu Odita Hutabarat. Ia sangat menyambut baik dengan kesepakatan tersebut. Baginya persoalan ini harus diambil hikmahnya dikarenakan banyak pihak yang ingin agar umat muslim dan umat nasrani bertengkar. Terutama dalam kasus yang sangat krusial seperti pembuatan tempat ibadah.

Menurutnya permasalahan yang dulu sebenarnya hanya terjadi kesalahpahaman saja dan kini semuanya telah beres dan menghasilkan keputusan terbaik dari seorang Bupati yang merakyat.

Jadi konflik yang terjadi antara umat Islam dengan umat nasrani tidak harus selalu diakhiri dengan pertikaian ataupun betrokan yang justru sebenarnya merugikan pihak keduanya. Dengan saling duduk bersama dan menyelesaikan masalah dengan memandang semua sudut, maka sebuah keputusan yang tepat bisa diambil. Sebuah keputusan yang bisa saling memahami sehingga membuat daerah timur Indonesia menjadi daerah yang terjaga kerukunannya.

Sebuah contoh yang sepatutnya ditiru oleh masyarakat muslim lainnya sehingga kedamaian antar umat beragama bisa terwujud di muka bumi ini.

Wallahu A’lam

Sumber: kabarpapua.co




loading...

close ini