Kisah Pilu: Mas, Kapan Ceraikan Aku?




KabarMakkah.Com – Sebuah kisah pilu dimana seorang istri sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya atas perlakuan sang suami. Sebuah rasa yang sejatinya bisa menjadi pembelajaran untuk para muslimah agar tidak mengalami seperti apa yang telah menimpanya.

Wanita ini, dengan niat beribadah kepada Allah akhirnya menerima lamaran dari seorang laki-laki yang ia kenal sejak dulu. Meski berprofesi yang sama, mereka berdua memiliki perbedaan dari segi jabatan. Sang istri telah diangkat penjadi seorang pegawai negeri sementara si laki-laki masih dalam tahap pengabdian.

Kisah Pilu: Mas, Kapan Ceraikan Aku?

Sang istri memang tidak terlalu memikirkan perbedaan dalam strata maupun jabatan yang dimiliki keduanya. Yang ia jadikan patokan hanyalah nasehat dari kedua orang tuanya sekaligus anjuran agama yang menjadi pedomannya selama ini. Ia berkeyakinan bahwa setiap manusia semuanya sama dan yang membedakan hanyalah dari segi ketakwaannya saja. Dan itu hanya Allah dan diri pelakunya saja yang mengetahui.

Setelah mengarungi rumah tangga dan waktu kian berlalu, masalah mulai muncul. Di luaran tersebar gosip bahwa suami dari wanita tersebut telah melakukan tindakan curang demi bisa mengambil hatinya. Mereka berucap bahwa suaminya telah menggunakan ilmu hitam dan segala yang telah bertentangan dengan ketauhidan demi bisa mengambil hatinya.

Tersebarnya gosip tersebut semakin mendapat pembenaran tatkala melihat kondisi keduanya yang jauh berbeda dimana sang wanita merupakan seseorang yang cantik dan berasal dari kota, sementara si laki-laki berasal dari pedesaan dengan tampang yang pas-pasan.

Ucapan yang tidak mengenakkan itu semakin bertambah ketika sebagian keluarga menganggap bahwa suaminya hanya menjadikan ia sebagai mesin pencetak uang yang mudah untuk diatur. Memang sedih, namun ia berkeyakinan untuk tetap mengarungi samudera kehidupan dengan bahtera rumah yang telah ia naiki.

Bayang-bayang kepedihan mulai dirasakan ketika ia merenung dalam kesendirian. Rasa sakit yang menyentuh lubuk hati mulai terkuak kembali. Ia teringat bahwa sejak pernikahan, sang suami memang tidak pernah sekali pun memberikan nafkah.

Sungguh sebuah kedzaliman yang amat sangat. Meski penghasilan tidaklah seberapa, namun bukankah kewajiban suami adalah menafkahi berapapun yang ia dapatkan?

Dan ketika sakit, sang istri harus membiayai dirinya sendiri. Sang suami hanya sibuk atas nama mencari nafkah tanpa sedikit meluangkan waktu untuk berbuat kebaikan terhadap istrinya. Meski berdalih mencari nafkah, namun apa yang didapat hanya ia gunakan sendiri tanpa membaginya dengan istri.

Dilanda kepedihan yang bertubi-tubi tidak menjadikan sang istri berbuat yang sama. Ia tetap berlemah lembut. Ia kemudian menuntut haknya karena suami tidak melakukan kewajiban sebagaimana layaknya seorang suami. Namun ternyata si suami hanya berucap, “Aku masih mencintaimu dan tak ingin menceraikanmu.”

Ya Allah sungguh sebuah keadaan yang sangat sulit bagi seorang istri dengan kondisi seperti itu. Ia merasa digantung atas perilaku suaminya.

Semoga ada jalan keluar agar bisa terbebas dari sifat buruk suaminya tersebut. Aamiin





loading...

close ini