Kisah Muslimah Amerika Yang Menjadi Penasihat Keamanan Presiden Obama




Rumana Ahmed, Adalah seorang muslimah berhijab yang bekerja di Gedung Putih untuk Presiden Barack Obama. Dilansir dari Al-Arabiya, Senin (14/3), Rumana lahir di Gaithersburg, pinggiran Kota Washington, dari orangtua berdarah Bangladesh.

Kisah Muslimah Amerika Yang Menjadi Penasihat Keamanan Presiden Obama
Rumana, Muslimah Amerika yang pernah bekerja di Gedung Putih / Al Arabiya


Pengalamannya bekerja sangat dekat dengan sang presiden Amerika, sebelumnya tak pernah ada dalam benak Rumana. Wanita kelahiran Washington tersebut sama sekali tak pernah memimpikan untuk berkarir di bidang pemerintahan.

Namun, jalan pikiran Rumana berubah setelah melihat kampanye Obama pada tahun 2008 silam. Ia tergerak mendengar suara Obama tentang harapan dan perubahan. Pesan tersebut membawa Rumana untuk mendedikasikan hidupnya sebagai pembantu masyarakat.

Di tempat kerjanya ini, Rumana terlibat dalam program "Champions of Change" yang menurutnya terkait dengan kehidupan sehari-hari warga AS.

"Tujuannya adalah mengangkat warga biasa Amerika, misalnya membantu kampanye untuk mencegah kekerasan senjata api atau masalah layanan kesehatan," ujar Rumana.

"Program ini juga ingin membawa masyarakat secara bersama-sama saling berbagi sumber daya dan kemampuan," lanjut dia.

Selama bekerja di Gedung Putih, Rumana bertemu banyak orang yang terlibat dalam banyak hal. Kemampuan yang diperolehnya di Gedung Putih sangat membantu Rumana dalam hubungannya dengan komunitas Muslim Amerika.

"Semua sangat menyenangkan. Sebab tujuannya adalah untuk mengangkat dan mempersatukan warga. Misalnya dalam acara buka puasa dengan presiden tahun lalu," ujar Rumana.

Saat ditanya apakah sebagai Muslimah, Rumana pernah mendapatkan diskriminasi di Amerika, dia menjelaskan pernah mengalami pelecehan tak lama setelah tragedi 11 September.

"Saat itu saya baru mulai mengenakan jilbab dan saya berhasil melalui semua pelecehan dan diskriminasi. Sejujurnya, saya tak mempermasalahkan itu semua," lanjut dia.

Rumana melanjutkan, dia malah bangga mengenakan jilbab dalam kesehariannya, terutama saat bekerja di Gedung Putih.

"Saya justru merasa sangat berdaya dengan mengenakan jilbab. Sebab, banyak orang datang dan bertanya soal pandangan saya akan sesuatu karena mereka tahu saya memiliki pandangan yang berbeda," tambah dia.

Meski demikian, Rumana sempat tak percaya bahwa dia bisa bekerja di Gedung Putih, tempat orang nomor satu di AS berada.

"Awalnya, saya tak percaya saya berada di dalam Gedung Putih. Saya merasa semua orang mengawasi saya," kenangnya.

Namun, dalam perjalanannya, Rumana menyadari semua orang yang bekerja di Gedung Putih tidak mempermasalahkan cara dia berpakaian.

"Mereka menganggap saya sama dengan orang lainnya. Ben (Rhodes), atasan saya, memberi saya kesempatan berbicara di depan presiden," katanya lagi.

Rumana menambahkan, pekerjaannya di Gedung Putih adalah simbol bahwa pemerintah Amerika mendukung keberagaman di negeri itu, termasuk di dalamnya keberadaan umat Muslim.

Kisah Muslimah Amerika Yang Menjadi Penasihat Keamanan Presiden Obama


Sementara itu Ben Rhodes mengatakan, sosok Rumana Ahmed adalah salah satu contoh kisah sukses khas Amerika.

Dia menambahkan, Rumana adalah contoh sempurna yang mewakili nilai-nilai yang dianut Amerika Serikat.

"Saya sangat mengandalkannya setiap hari dan dia sangat mendukung pekerjaan kami setiap hari. Mulai dari dukungan untuk kewirausahaan global hingga keterlibatan kami dengan komunitas Muslim, dari menyeimbangkan Asia hingga normalisasi hubungan dengan Kuba," papar Rhodes.

Rumana, lanjut Rhodes, adalah sosok yang sangat menghargai negara dan kepercayaannya serta menunjukkan bahwa mencintai keduanya, negara dan kepercayaan, bisa berjalan beriringan.

"Selain itu, dia juga sangat peduli untuk memberi contoh bagi orang lain, khususnya para pemuda Muslim yang masih mempertanyakan posisi mereka di Amerika," pungkas Rhodes.