Memilih Antara Cinta Seharga Cokelat Atau Cinta Seharga Akad




KabarMakkah.Com – Sungguh memprihatikan remaja saat ini yang sangat mudah menjajakan cintanya hanya karena sebungkus cokelat. Sebagian remaja wanita akan merasa diistimewakan saat seorang pria memberinya sebungkus cokelat terutama saat hari spesial bernama Valentine. Mereka akan berkata, “Ternyata dia memang beneran suka sama aku!”

Sesungguhnya laki-laki yang benar-benar cinta bukanlah ia yang memberikan cokelat, namun seorang laki-laki yang mau mempersunting dan berani untuk menunaikan akad nikah di depan penghulu.

Memilih Antara Cinta Seharga Cokelat Atau Cinta Seharga Akad

Sungguh miris masih ada wanita yang rela menyerahkan kegadisannya hanya karena sebatang cokelat yang bisa dibeli dengan sangat murah. Sangat disayangkan pula seorang wanita tidak mau menghargai dirinya sendiri di hdapan Allah. Padahal sesungguhnya seorang laki-laki yang benar-benar cinta adalah berani meminang si wanita di depan orang tuanya.

Sementara bagi yang merasa laki-laki, janganlah merasa bangga bahwa bisa mengibuli wanita dan merampas kehormatannya. Ingatlah bahwa kita masih memiliki ibu atau adik perempuan. Bagaimana rasanya jika ibu atau adik perempuan kita dipermainkan oleh seorang laki-laki? Ingatlah sesungguhnya kelakuan yang kita lakukan akan merembet kepada keluarga kita.

Masih ingatkah tentang kisah seorang pemuda yng meminta izin kepada Rasulullah dengan maksud untuk berzina? Maka seketika itu juga Rasulullah menyampaikan bahwa sudikah ia jika ibu atau adik perempuannya dizinahi oleh orang lain? Dengan ketakutan pemuda tersebut pun menjawab tidak.

Tak ada satu pun laki-laki yang sudi melihat ibu atau adik perempuannya dizinahi oleh orang lain. Tapi kenapa kini kita mau berbuat seperti itu kepada calon ibu atau adik perempuan orang lain?

Beranilah untuk menjadi seorang laki-laki sejati yang menghargai setiap perempuan dengan tidak berlaku yang dilarang oleh agama. Beranilah untuk menjadi seorang laki-laki yang menikahi perempuan jika memang benar-benar cinta, bukan dengan memberikan sepotong cokelat lalu dengan bebas berbuat apapun.

Jadilah laki-laki yang berani menanggung nafkah rumah tangga dan hantarkan wanita yang didambakan ke gerbang akad pernikahan. Saat itulah baru kita bisa disebut sebagai laki-laki sejati.