Kebajikan Manusia Versus Karunia Allah




KabarMakkah.Com - Setiap manusia sadar atau tidak, begitu yakin bahwa dirinya akan dimasukkan ke dalam surga dan dijauhkan dari neraka. Entah itu manusia yang selalu mengisi hari-harinya dengan amal-amal salih, maupun manusia yang selalu bergelut dengan amal-amal salah. Keduanya begitu yakin bahwa kelak ia tidak akan binasa.

Mungkin dengan mudah kita bisa menilai dan mengatakan bahwa orang-orang yang kesehariannya bergelut dengan amalan salah hanya berangan-angan kosong akan keyakinannya untuk masuk surga. Bagaimana mungkin amalan buruknya di dunia bisa menjadikannya ahli surga? Namun bagi orang-orang yang selalu menghiasi dirinya dengan kebajikan, maka kita pun akan sependapat bahwa kebajikan-kebajikan itu akan memasukkannya ke dalam surga.

Kebajikan Manusia Versus Karunia Allah

Tapi mari sejenak kita baca sebuah hadist yang di terima dari Ishaq bin Abdullah, ia berkata bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’ diwajibkan surga baginya, dan barangsiapa membaca ‘Subhaanallaah wabihamdihi’ sebanyak 100 kali maka akan diberikan kepadanya 124.000 kebaikan” Para sahabat pun berkata, “Jika demikian,seorang pun diantara kami tidak akan binasa (pada hari kiamat karena kebajikan mereka lebih banyak daripada kejahatannya)”. Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Sebagian manusia akan binasa juga, karena (walaupun) mereka akan membawa kebaikan (yang sangat banyak) yang jika diletakkan di atas sebuah gunung niscaya gunung pun akan terhimpit, akan tetapi jika dibandingkan dengan nikmat-nikmat Allah, semua kebaikan itu akan terhapus. Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menolong hamba itu dengan limpahan karunia-Nya”. (HR. Hakim).

Jadi pada hari kiamat, ketika kebaikan dan keburukan akan ditimbang, maka di sana nikmat-nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada seorang hamba juga akan diperhitungkan. Segala nikmat yang dirasakan seorang hamba adalah pemberian-Nya dan sudah menjadi hak-Nya untuk disyukuri oleh hamba tersebut.

Dalam sebuah hadist ada diterangkan bahwa pada tubuh manusia ada 360 tulang, maka seharusnya setiap manusia membayar sedekah bagi setiap tulang tersebut untuk bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dia-lah yang telah membangunkannya dalam keadaan sehat setiap pagi dari tidurnya. Sedangkan bangun setelah tidur laksana hidup kembali setelah mati.

Maka para sahabat bertanya: “Siapakah diantara kami yang dapat membayar sedekah sedemikian banyak?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi sallam menjawab: “Setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyingkirkan sesuatu dari tengah jalan yang dapat menyakiti seseorang adalah juga sedekah. Segala sesuatu yang dikerjakan semata-mata karena Allah adalah sedekah”.

Jadi mensyukuri nikmat tulang saja manusia sudah akan sangat disibukkan dengannya. Belum lagi nikmat-nikmat yang ada pada anggota tubuh yang lain seperti nikmat pendengaran dan penglihatan yang kelak akan dipertanyakan dimanakah kita mempergunakannya. Apakah dipergunakan di jalan Allah ataukah digunakan hanya untuk memenuhi hawa nafsu semata.

Itu baru kenikmatan yang ada pada anggota tubuh saja, belum lagi kenikmatan-kenikmaatan lainnya yang terkait dengan dunia dan segala perhiasannya. Maka kebajikan yang selama ini kita anggap sudah banyak dan sebagai tabungan kita untuk mendapatkan tiket surga, jika dibayarkan untuk berbagai kenikmatan yang telah Allah anugerahkan, laksana titik putih kecil yang ada di tubuh seekor sapi berbulu hitam.

Jadi bukanlah surga itu bisa kita tempati karena kebajikan kita, namun ia karena karunia Allah yang dicurahkan dengan sifat Ar Rahman dan Ar Rahiim-Nya. Namun hal ini jangan disalah artikan bahwa jika demikian tak ada guna berbuat kebajikan. Pemahaman ini sama sekali salah besar.

Berbuat kebajikan itu memang tidak cukup untuk menebus surganya Allah, namun berbuat kebajikan itu akan menjadi jalan bagi tercurahnya ridho Allah. Dan jika Allah telah ridho pada seorang hamba, tidak akan ada yang bisa menghalanginya untuk mendapat kenikmatan haqiqi. Kenikmatan yang kekal abadi, berupa surga yang luasnya seluas langit dan bumi.





loading...

close ini