Ingin Memiliki Pohon Di Surga? Baca Kalimat Ini




KabarMakkah.Com - Jannah dalam bahasa arab yang kita artikan sebagai surga, arti secara bahasanya adalah kebun. Sebagian besar ulama berkata tanah surga itu pada awalnya merupakan dataran yang dikaruniakan kepada seorang hamba yang beramal sholeh. Kemudian dataran itu ditumbuhi berbagai macam pohon sesuai amal-amal manusia yang menempatinya hingga berkembang menjadi kebun.

Ingin Memiliki Pohon Di Surga? Baca Kalimat Ini
Ilustrasi
Sebagian ulama lagi berkata bahwa luasnya surga yang dianugerahkan pada seseorang adalah lebih luas daripada langit dan bumi. Di dalamnya terdapat pohon-pohon yang berbunga dan berbuah, sedangkan sebagian yang lainnya kosong dan kemudian akan ditumbuhi pohon-pohon melalui amalan-amalan yang dilakukan.

Namun amalan apakah yang membuat pelakunya mendapat ganjaran berupa pohon surga?

Nah jika kita menginginkan mempunyai pohon sendiri di surga, bacalah kalimat ini.

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Aku berjumpa dengan Ibrahim ‘Alaihi Salam di malam Isra. Beliau berkata kepadaku: “Wahai Muhammad sampaikanlah salamku pada umatmu dan kabarkanlah pada mereka bahwa surga itu subur tanahnya, sedap airnya dan surga itu adalah dataran. Tanamannya adalah ‘Subhaanallaahi wal hamdulillaahi walaa ilaaha illallaah wallaahu Akbar’"(HR. Tirmidzi)

Nabi Ibrahim telah menyampaikan salam kepada umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasalam. Maka para ulama berkata, siapapun yang sampai kepadanya hadist ini hendaklah ia menjawab salam Nabi Ibrahim dengan ucapan ‘Wa’alaikum Salam Wa Rahmatulaahi Wa Barakaatuhu’.

Kemudian Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam berkata bahwa surga itu tanahnya subur dan airnya manis. Ini mengandung pengertian bahwa surga itu adalah sebaik-baik tempat. Maka jika tempat itu dijadikan tempat bercocok tanam, tentu hasilnya akan memuaskan. Di tempat seperti itu, tentu setiap orang ingin membangun tempat tinggal dan taman-taman yang dipenuhi pepohonan untuknya nanti beristirahat.

Maka dikatakan pada hadist di atas bahwa tanamannya adalah Subhaanallaahi wal hamdulillaahi walaa ilaaha illallaah wallaahu Akbar’. Hal ini bisa mengandung dua pengertian. Pertama artinya seseorang itu dapat menanam pohon-pohon itu sebanyak yang dikehendakinya. Kedua, tanaman surga itu tumbuh dari ucapan Subhaanallaahi wal hamdulillaahi walaa illaaha ilaallaah wallaahu Akbar.

Pengertian kedua ini sejalan dengan hadits dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu dimana ia meriwayatkan: “Barang siapa yang membaca ‘Subhaanallaah walhamdu lillaahi walaa ilaaha illallaah wallaahu Akbar’ maka setiap satu ucapan dari kalimat-kalimat itu akan ditanamkan untuk pembacanya satu pohon di dalam surga”. (HR. Thabrani)

Diriwayatkan pula dalam sebuah hadits, suatu ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah melewati Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu yang sedang menanam sebatang pohon. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun bertanya kepadanya: “Apakah yang sedang engkau kerjakan?”. Jawabnya: “Aku sedang menanam sebatang pohon”. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Aku kabarkan kepadamu tentang sebaik-baik pohon yang ditanam, yaitu dengan membaca salah satu dari kalimat-kalimat ini:

‘Subhaanallaah, Alhamdulillaah, laa ilaaha illallaah, Allaahu Akbar’

Maka akan tertanamlah satu pohon bagi pembacanya di dalam surga”.

Jadi itulah kalimat-kalimat yang membuat tertanamnya satu pohon bagi pembacanya di dalam surga. Maka siapakah yang menolak ganjaran pohon surga yang sekali tanam ia akan tumbuh subur, berdaun, berbunga dan berbuah lebat. Betapa tidak, benih-benih pohon itu ditanam di tempat terbaik, tempat yang didambakan setiap insan untuk bisa menginjakkan kakinya di sana.

Maka hendaklah para perindu surga itu selalu menghiasi lisannya dengan kalimat-kalimat tersebut. kalimat-kalimat yang begitu dicintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Barang siapa yang tidak berdaya menanggung penderitaan di malam hari (tidak sanggup beribadah di malam hari misalnya tidak sanggup bertahajud), tidak sanggup membelanjakan hartanya karena bakhil, atau tidak sanggup berjihad karena ia penakut, maka hendaklah ia membaca ‘Subhaanallaah wabihamdihi’ sebanyak-banyaknya karena kalimat ini dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala lebih dari membelanjakan emas sebanyak gunung di jalan-Nya”. (HR. Thabrani).

Wallahu A’lam






close ini