Dahului Imam Saat Shalat, Kepala Makmum Ini Jadi Keledai




KabarMakkah.Com – Dalam shalat, imam memiliki peranan yang penting karena menjadi panutan ketika dilakukan secara berjamaah. Setiap yang dilakukan oleh imam, maka makmum wajib mengikuti. Akan tetapi makmum juga bisa mengoreksi jika imam berbuat salah dalam shalatnya. Salah satunya adalah dengan mengucapkan “Subhanallah” saat imam salah. Atau bisa juga membenarkan bacaannya jika salah.

Apa yang dilakukan makmum tersebut diperbolehkan dalam shalat meski tidak mengikuti imam. Namun tahukah bahwa ada yang tidak boleh dilakukan dalam shalat? Salah satunya adalah dengan tidak mendahului gerakan imam. Mengapa bisa seperti itu? Apa sebabnya?

Dahului Imam Saat Shalat, Kepala Makmum Ini Jadi Keledai

Imam shalat memiliki kedudukan layaknya pemimpin. Sudah sepantasnya kita tidak membangkang atas apa yang dilakukannya. Kita juga tidak boleh melakukan sesuatu yang diluar izin darinya. Begitu pun dengan shalat, dimana kita tidak diperkenankan untuk mendahului imam. Biasanya mereka terpengaruh godaan setan agar memandang baik perbuatan tersebut seperti bukan sebuah kesalahan.

Abu Hurairah berkata, “Penyebab orang-orang yang mengangkat atau menundukkan kepala mereka lebih dulu dari imam, itu karena ubun-ubunnya di tangan setan.” (HR Malik)

Rasulullah pun bersabda mengenai makmum yang suka mendahului gerakan imam.

“Hendaklah takut salah seorang di antara kalian, apabila ia mengangkat kepalanya sebelum imam melakukannya, Allah akan menjadikan kepalanya kepala keledai atau suara keledai atau bentuk fisik yang menyerupai keledai.” (Muttafaq ‘alaih)

Dengan melihat keterangan diatas, maka sudah sepantasnya bagi seorang makmum tidak mendahului gerakan imam. Adapun jika memang imam tersebut lambat dalam setiap gerakannya, sebaiknya kita belajar bersabar dan tumaninah. Ini karena biasanya hati kita ingin segera beres dalam shalat, entah itu karena diburu waktu ataupun karena kebiasaan shalat cepat.

Namun saran juga kepada para imam untuk melihat kondisi makmumnya dahulu karena boleh jadi kondisi setiap makmum berbeda-beda. Terlebih jika ada dalam waktu-waktu yang cukup padat. Dengan demikian toleransi antara imam dan makmum bisa terjalin dengan baik.