Kisah Nabi Muhammad SAW dan Para Penghafal Qur’an dari Thaif




KabarMakkah.Com - Tahukah sahabat, bahwa setiap tahunnya di kota Thaif diadakan Daurah Asy syaikh ‘Ali al ‘Utaibi ash Shoifiyyah fi Hifdzil Qur’an. Dalam Daurah ini diajarkan sebuah yang dinamakan metode Thaif, yakni metode menghafal Al Qur’an yang dapat membuahkan hasil hafal satu halaman penuh Al Qur’an hanya dalam waktu 30 menit.

Kisah Nabi Muhammad SAW dan Para Penghafal Qur’an dari Thaif


Jika kita telusuri, ternyata kepiawaian penduduk Thaif dalam menghafal Al Qur’an ada hubungannya dengan do’a Nabi Muhammad SAW dahulu semasa beliau hidup. Bagaimana kisah lengkap nabi Muhammad SAW dan para penghafal Qur’an dari Thaif? Berikut ulasannya.

Thaif, kota yang berjarak sekitar 80 km dari kota Mekkah ini merupakan kota yang subur. Letaknya yang diapit dua buah pegunungan menjadikannya sebagai kota yang sejuk. Hasil pertaniannya pun melimpah, mencukupi semua kebutuhan penduduk kotanya. Madu, kurma, delima dan anggur banyak dihasilkan oleh kota ini. Disamping itu, ada pula pohon Snapdragon dengan buahnya yang khas berduri. Buah Snapdragon ini diklaim oleh warga sekitarnya sebagai buah Zaqqum, yakni buah yang disebutkan oleh Al Qur’an sebagai hidangan bagi para penghuni neraka.

Keadaan Thaif zaman sekarang ternyata jauh berbeda dengan keadaannya di zaman Nabi Muhammad SAW dulu. Terutama dari segi sikap dan sifat penduduknya. Pernah Nabi kita yang mulia ini menggambarkan hari-harinya di Thaif kepada sang istri tercinta, Aisyah R.A. bahwa hari-hari tersebut merupakan hari-hari yang sangat mengancam jiwa dan dirasa lebih berat daripada perang Uhud.

Betapa tidak, dengan harapan menggebu Nabi Muhammad SAW berangkat ke Thaif untuk mendakwahkan kebenaran Al Islam yang menjadi risalahnya. Setibanya di sana beliau langsung menemui para pemimpin Thaif yakni pemimpin Bani Tsaqafi.

Namun berbeda dengan kebiasaan bangsa Arab yang selalu menghormati tamunya, secara terus terang para peminpin Bani Tsaqif itu menunjukkan ketidaksukaannya. Mereka tidak mau mendengar apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW. Mereka menolaknya, membentaknya dan menuduhnya sebagai pendusta yang tiada gunanya diajak bicara.

Rasulullah SAW akhirnya pergi meninggalkan para pemimpin Bani Tsaqif tersebut. Namun dengan harapan yang masih menyala-nyala, beliau sisir tiap sudut kota Thaif. Beliau ketuk tiap pintu rumah yang ada di sana. Satu pintu, dua pintu hingga puluhan pintu, akan tetapi reaksi yang beliau dapatkan semuanya sama. Mereka semua berbalik mengatai beliau dengan kata-kata kasar yang mengiris dan menyakitkan hati.

Tak berhenti sampai disitu saja, mereka mengusir Nabi kita yang mulia ini keluar dari Thaif. Biadabnya, sambil melakukan pengusiran, tak henti-hentinya mereka melempari beliau dengan batu hingga 3 mil jauhnya. Maka melelehlah tetesan-tetesan merah dari tubuh beliau, keluarlah darah dari badan beliau yang penuh luka.

Ketika beliau telah sampai di tempat yang aman, berdo’alah beliau mengadukan kesedihan pada Robb-nya. Bukan kesedihan akibat luka yang dideritanya, namun kesedihan karena kelemahan tenaga dan kekurangan dayanya dalam dakwah akan kebenaran. Betapa sedihnya do’a yang dipanjatlkan itu sehingga dengan perintah Allah, turunlah malaikat Jibril untuk menemui beliau.

Malaikat jibril mengabarkan bahwa dua malaikat penjaga gunung yang mengapit kota Thaif telah ditugaskan oleh Allah SWT untuk mena’ati perintah Rasulullah SAW. Kedua malaikat tersebut berkata: “Wahai Rasulullah, wahai utusan Allah...., kami siap menjalankan perintah tuan. Jika tuan berkehendak, maka kami sanggup membuat kedua gunung ini berbenturan sehingga penduduk diantara keduanya akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang tuan inginkan, kami siap melaksanakannya”.

“Tidak” Jawab Rasulullah, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah hanya kepada-Nya”.

Dan benar saja, kini telah tercipta dari sulbi-sulbi mereka, telah lahir dari rahim-rahim mereka anak keturunan Thaif yang beribadah hanya kepada-Nya. Anak keturunan Thaif yang mengesakan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dari sulbi-sulbi Thaif kini telah lahir para penghafal Qur’an yang lestari dari generasi ke generasi.

Kisah Nabi Muhammad SAW dan Para Penghafal Qur’an dari Thaif


Itulah kekuatan do’a seorang Nabi yang telah berdarah-darah dalam perjuangannya. Do’a orang yang telah terniaya, yang justru mendo’akan kebaikan. Padahal dalam kekuasaan tangannya telah tergenggam kekuatan untuk membalas sakit yang ia rasakan. Jika ia mau, hanya dengan satu kata dari lisannya maka penduduk Thaif akan hancur. Penduduk Thaif akan musnah tanpa tersisa satu orang pun.

Namun tidak, Nabi kita yang mulia ini tidak memikirkan sakit jiwa dan raganya. Ia malah berbalik mendo’akan kebaikan, yang dengan do’anya itu lahirlah para penghafal Qur’an dari Thaif.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah untukmu Wahai Rasulullah.




loading...

close ini