Berubah Menjadi Shalehah Karena Nasehat Seorang Pemuda

Diposting pada

KabarMakkah.com – Berubah menjadi shalehah karena nasehat seorang pemuda dialami oleh seorang wanita cantik yang begitu mendambakan sosok seorang pemuda. Betapa tidak, pemuda ini adalah pemuda sholeh yang selalu mengisi tiap detik kehidupannya dengan amal-amal kebaikan. Sang pemuda selalu menunaikan shalat di masjid, tanpa pernah tertinggal sekalipun.

Tidak ada yang keluar dari mulutnya selain ucapan kebenaran, tidak ada yang dilihat oleh matanya selain tanda-tanda kebesaran Allah, tiada yang didengar telinganya selain lantunan ayat-ayatNya. Disamping itu, sang pemuda juga berparas rupawan. Maka tidak heran jika si gadis begitu tergila-gila.

Wanita Shalehah

Suatu hari si gadis sengaja berdiri di sisi jalan yang biasa dipakai pemuda itu untuk lewat ke mesjid. Namun jangankan menyapanya, menoleh padanya sedikitpun tidak. Sang pemuda berlalu sambil tetap menundukkan pandangannya.

Si gadis tidak berputus asa, ia sabar menunggu sampai sang pemuda pulang dari mesjid. Ketika sang pemuda lewat si gadis berkata:” Wahai fulan, berhentilah sejenak dan aku mohon dengarkan ucapanku dahulu.” Sang pemuda menjawab sambil berlalu:” tidak, karena obrolan ini sungguh tidak pantas dan bisa mendatangkan prasangka yang tidak-tidak dari orang lain.”

Si gadis berkata:” Wahai.. demi Allah, yang membuatku berani dalam urusan ini adalah karena setiap angota tubuhku selalu tertuju padamu. Hal ini sungguh mengganggu setiap aktivitas hidupku dan membuat luka di hatiku, maka…. tolonglah pertimbangkan urusanmu dan urusanku.”

Sang pemuda terus berlalu pulang ke rumahnya dengan niat hendak menunaikan ibadah sholat sunat, namun ia tidak bisa memusatkan pikirannya karena teringat ucapan si gadis. Ia pun memutuskan menulis surat untuk si gadis.

Setelah suratnya beres, ia keluar rumah dengan maksud memberikan suratnya. Ternyata si gadis masih berdiri di tempatnya tadi. Cepat-cepat dikeluarkannya surat dari sakunya lalu disodorkannya surat tersebut. Surat disambut uluran tangan dan raut wajah gembira dari si gadis.

Si gadis pun pulang ke rumah untuk segera membaca surat tersebut. Ia berharap-harap cemas apakah sang pemuda menuliskan balasan cintanya atau justru menolaknya.

Tak disangka, goresan-goresan tinta pada kertas itu justru berbunyi:

Bismillahirrahmanirrahim.. ketahuilah olehmu wahai Fulanah, jika ada seorang muslim yang melakukan perbuatan maksiat kepada-Nya, maka Dia akan menutupinya. Jika dia mengulanginya maka Allah karena sifat rahimNya tetap menutupinya. Tetapi seseorang telah memakai pakaian kemaksiatan – melakukan kemaksiatan berulang-ulang tanpa pernah merasa bersalah sehingga tidak pernah bertaubat kepadaNya-, maka Allah ‘Azza wa Jalla murka dengan kemurkaan yang tidak akan kuasa ditanggung oleh langit-bumi, gunung-gunung, pepohon, dan hewan-hewan sekalipun. Lalu, siapa orang yang kuat menanggung kemurkaan-Nya?


Maka aku mengingatkanmu akan suatu hari ketika langit luluh seperti luluhan perak dan gunung-gunung beterbangan seperti kapas. Seluruh umat manusia berlutut di hadapanNya, Robb Yang Maha Besar Sang penguasa hari pembalasan. Demi Allah, pada hari itu jangankan menyelamatkan orang lain, aku sendiri pun tidak mungkin mampu menyelamatkan diriku.


Jika kamu hendak mengobati luka hati, maka akan kutunjukkan kamu kepada dokter yang mampu menyembuhkan luka yang perih dan rasa sakit yang pedih di hatimu. Dia adalah Allah Rabbul ‘alamin. Kepada-Nya lah kamu harus berserah diri dengan sebenar-benarnya rasa takut. Aku sendiri sungguh sibuk –tak sempat memikirkanmu- karena firman Allah:


“Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat) ketika hati menyesak sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang zalim tidak menyukai teman setia seorang pun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya. Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. Dan Allah menghukum dengan keadilan. Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tiada dapat menghukum dengan sesuatu apa pun. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Mukmin: 18-20).


Maha benar Allah dengan segala firmanNya

Tetesan air mata penyesalan tak terbendung keluar berdesakan dari mata si gadis. Ia menyadari kesalahannya, ia terlalu mencintai mahkluk tanpa pernah mencoba mendekatkan diri pada Sang Pencipta mahkluk.

Ia berniat hendak menemui sang pemuda untuk terakhir kali. Ia pun kembali berdiri di sisi jalan semula untuk menunggunya.

Namun ketika sang pemuda melihatnya, sang pemuda sontak berbalik arah hendak pergi darinya. Maka ia pun berkata:” janganlah engkau pergi, karena tidak akan ada pertemuan lagi setelah hari ini, kecuali pertemuan di hadapan Allah. Aku datang untuk berterimakasih dan meminta nasihatmu yang bisa aku bawa dan aku amalkan.”

Sang pemuda berkata :” Jagalah dirimu dari api neraka, takutlah dan bertakwalah pada Allah. Ingatlah akan firmanNya,: ” Dan Dia-lah yang menidurkanmu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari’ (QS. Al-An’am: 60).”

Si gadis tertunduk sambil meneteskan air mata yang begitu deras. Ia berkata :Aku memohon kepada Allah, dimana kunci hatimu berada dalam genggaman-Nya agar Dia memudahkan segala urusanmu yang sulit.

Setelah itu dia beribadah dengan sungguh-sungguh dan tidak lagi keluar rumah. Dia begitu menyesali dosa-dosanya selama ini. Allah telah memberikannya hidayah untuk bertaubat dan memudahkan jalan ibadahnya. Dia telah meraih sesuatu yang lebih menguntungkan dari dunia dan seisinya.

Dan semua itu tidak terlepas dari peran nasihat yang diberikan sang pemuda. Maka dari itu jangan melupakan untuk nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Nasihat akan dipandang, jika orang yang memberi nasihat mengamalkan apa yang dinasihatkannya. Dan sebaliknya, nasihat hanya akan dianggap angin lalu jika si pemberi nasihat sendiri hanya menghiasi dirinya dengan amal-amal buruk.

Sifat istiqomah dalam kebaikan pun tidak kalah pentingnya. Ke-istiqomahan seseorang bisa menginspirasi orang lain untuk berbuat baik. Dengan kata lain, orang yang istiqomah dalam mengerjakan kebaikan sejatinya dia sedang berdakwah secara continue tanpa harus naik ke atas mimbar dan memberikan ceramah.

Loading...